Monday, July 30, 2018

[BOOKtainment] To All The Boys I've Loved Before siap tayang 17 Agustus 2018 di NETFLIX, Trailer Fantastic Beasts 2, MOWGLI dibeli NETFLIX, Trailer WIRO SABLENG 212, Adaptasi Novel Traveler's Tale, dan Kabar Dunia Literasi Lainnya

Hari Senin adalah saatnya mewartakan kabar-kabar lain dari dunia literasi, baik dari dalam maupun luar negeri, biar bikin kita enggak lagi bilang, "I hate Monday". Warta perbukuan ini saya rangkum dari pelbagai sumber.


1. To All The Boys I've Loved Before siap tayang di NETFLIX tanggal 17 Agustus 2018.
Akhirnya trailer resminya keluar juga. And, I'm totally obsessed with this movie. Enggak tahu gimana caranya saya harus nonton film ini nanti. HARUS.



2. Wizarding World - Fantastic Beasts 2: The Crimes of Grindelwald.
OH.MY.GOD. Can't wait for this one. November masih lama, ya. Huhuhu.



3. Film MOWGLI karya Andy Serkis buatan Warner Bros dibeli NETFLIX.
Oke, ini Netlix memang lagi jadi fenomena global, ya? Kayaknya buat film yang awalnya dibikin untuk bioskop, lalu diprediksi enggak bakal sukses terus ditawarkan kepada dan dibeli oleh Netflix? Kejadian Mowgli ini sama kayak Annihilation di awal-awal tahun 2018 kemarin, kalau nggak salah. Betewe, Mowgli adalah adaptasi lain dari novel The Jungle Book karya Rudyard Kipling yang sebenarnya (versi anyarnya) sudah terlebih dulu diadaptasi oleh Disney tahun 2016 kemarin dan sukses besar, bahkan direncanakan ada sekuelnya (kalau nggak salah).




4. Official full trailer of Wiro Sableng 212 besutan Lifelike Pictures.
Saya penggemar serial tivinya zaman kecil dulu. Memang bukan penikmat komiknya, sih, tapi saya tetap akan mengusahakan menontonnya di bioskop begitu film ini dirilis. Terjadwal tayang tanggal 30 Agustus 2018.



4. Novel Traveler's Tale diadaptasi jadi film BELOK KANAN BARCELONA.
Judul filmnya juga merupakan subjudul novelnya, sih, jadi enggak asing-asing banget meski pakai judul itu alih-alih tetap Traveler's Tale. Seingat saya, novelnya cukup asyik. Salah satu novel perjalanan di awal-awal sebelum booming hobi traveling. Direncanakan tayang tanggal 28 September 2018.



5. Indeks berita pilihan SENI DAN BUDAYA kategori buku dari cnnindonesia.com
Buku Baru Haruki Murakami Dinilai Tidak Senonoh di Hongkong
Shuri "Black Panther" Bakal Punya Komik Sendiri
Kaum Cendekia Swedia Gelar Nobel Sastra Tandingan

Monday, June 25, 2018

[BOOKtainment] Full Teaser Trailer for To All The Boys I've Loved Before the movie, Teaser The Hate U Give the movie, How to Train Your Dragon 3, dan Kabar Dunia Literasi Lainnya

Hari Senin adalah saatnya mewartakan kabar-kabar lain dari dunia literasi, baik dari dalam maupun luar negeri, biar bikin kita enggak lagi bilang, "I hate Monday". Warta perbukuan ini saya rangkum dari pelbagai sumber.


1. NETFLIX akhirnya merilis teaser trailer resmi film TO ALL THE BOYS I'VE LOVED BEFORE



Film yang diadaptasi dari novel young adult berjudul sama karya Jenny Han itu bakal tayang di jaringan Netflix per tanggal 17 Agustus 2018 mendatang. Dari awal kabar adaptasi novel ini diumumkan, saya sudah tak sabar kepingin banget nonton visualisasi karakter Lara Jean dan Peter Kavinsky di layar lebar. Cuma karena saya bukan pelanggan Netflix, saya jadi agak khawatir nggak bisa nonton di bioskop. Semoga saja, film ini tetap bisa tayang di bioskop, ya.

2. (Edited) Official Trailer dan Teaser THE HATE U GIVE tayang di VidCon

Official trailer


Teaser


Buat yang menghadiri VidCon di Amerika Serikat sudah pasti tahu lebih dulu tentang kabar diputarnya teaser resmi dari film adaptasi dari novel berjudul sama karya Angie Thomas ini. Namun, buat yang nggak tinggal di Amerika Serikat dan nggak dateng ke VidCon, kabar seputar teaser dari film ini didapat dari akun Twitter sang penulis. Saya juga nggak sabar pengin nonton salah satu film adaptasi paling ditunggu tahun ini mengingat sampai sekarang bukunya sendiri masih terus dan terus memuncaki daftar New York Times bestseller. Kalau nggak salah sudah masuk minggu ke-70-an. WOW, just WOW. Saya sendiri belum baca sih bukunya, mau disegerakan sebelum filmnya rilis.

3. Official Trailer film ketiga HOW TO TRAIN YOUR DRAGON



Saya enggak menyangka bakal ada film ketiganya. Cuma kalau menilik dari kesuksesan secara komersial dari dua film sebelumnya ya nggak bikin kaget-kaget banget sih kalau filmnya masih terus diproduksi. Oiya, aslinya film ini diadaptasi dari seri berjudul sama karya Cressida Cowell. Saya cuma pernah baca buku satunya. Pernah pula koleksi bukunya, tapi sudah enggak lagi.

4. Gerakan KID LIT SAYS NO KIDS IN CAGES


Lagi-lagi, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump mengambil kebijakan yang bikin berang warganya sendiri. Baru-baru ini terjadi aksi pemisahan anak-anak dari orangtua imigran yang menyeberang secara ilegal dari Mexico ke US. Dari beberapa berita yang saya baca, Trump menggunakan law enforcement begini biar pemerintahan Mexico mau membayari pembangunan tembok di perbatasan kedua negara. Aksi ini mengundang hujatan dari warganet tak terkecuali para pengarang di sana. Dalam waktu singkat sebuah gerakan yang dimotori Melissa de La Cruz dan beberapa pengarang, sebuah petisi dan sumbangan untuk korban aksi tersebut digalang secara daring. Menakjubkan.

5. Indeks berita pilihan SENI DAN BUDAYA kategori buku dari cnnindonesia.com
Buku Bahan Inspirasi Lagu BTS Magic Shop Laris di Korea
Petisi Tolak Iqbaal Perankan Minke di Bumi Manusia
Netizen Ribut Soal Iqbaal "Lebih Terkenal" Dibanding Pram
Priyanka Chopa Akan Terbitkan Memoar
Berita-berita buku lainnya silakan klik tautan ini: Indeks Berita Seni dan Budaya.

Sunday, June 24, 2018

[Review Novel Chicklit] The Hating Game by Sally Thorne

Just a quick and brief review, ya. Lagi muales banget ngapa-ngapain ini. Huhuhu.

Nemesis (n.)
1) An opponent or rival whom a person cannot best or overcome;
2) A person’s undoing;
3) Joshua Templeman.


Lucy Hutton and Joshua Templeman hate each other. Not dislike. Not begrudgingly tolerate. Hate. And they have no problem displaying their feelings through a series of ritualistic passive aggressive maneuvers as they sit across from each other, executive assistants to co-CEOs of a publishing company. Lucy can’t understand Joshua’s joyless, uptight, meticulous approach to his job. Joshua is clearly baffled by Lucy’s overly bright clothes, quirkiness, and Pollyanna attitude.

Now up for the same promotion, their battle of wills has come to a head and Lucy refuses to back down when their latest game could cost her her dream job…But the tension between Lucy and Joshua has also reached its boiling point, and Lucy is discovering that maybe she doesn’t hate Joshua. And maybe, he doesn’t hate her either. Or maybe this is just another game.

Saya memang aneh. Beberapa teman mengiakan, bahwa saya aneh. Katanya saya tak masuk akal. Menyukai pengarang atau novel karangannya, meskipun belum pernah sekali pun membacanya. Well, kalau dipikir-pikir aneh juga, ya. Atau lucu. Hahaha.

Namun, sebenarnya suka atau ngefans itu masih dalam tahap: sekadar mengoleksi buku-bukunya, kok. Contohnya: Miranda Kenneally (baru baca dua: Catching Jordan dan Breathe, Annie, Breathe), Sarah Dessen (baru baca satu: Someone Like You), Sarah J. Maas, Lindsey Kelk, Adi Alsaid, Adam Silvera, John Green (pernah baca satu: The Fault in Our Stars), Jill Shalvis, Paulo Coelho, dan masih banyak lagi

The Hating Game karya Sally Thorne ini jadi salah satu buku yang sudah kepingin banget saya baca sejak lama. It's all because of some of my favorite bloggers/booktubers make this book one of their most fave books of the year (around 2016/2017). Plus, novel ini juga masuk dalam daftar nominee Goodreads Choice Awards 2016. Lengkaplah buzz kenceng buat novel ini.

Maka, saya begitu gencar memburu novel ini. Terutama mencari seller yang menjualnya dengan harga miring. Baik di online bookstore atau yang menjajakannya di Tokopedia, Bukalapak, Shopee, maupun IG. Ternyata, saya malah nemunya dari sesama goodreaders, Mia, bandar @balibooks. Seneng banget bisa "nyulik" buku ini sebelum Mia meng-upload ke IG balibooks. Hahaha. Jadinya saya nggak perlu deg-degan rebutan sama yang lain. Hahaha. #curang

Selain itu, saya terus-terusan merongrong Mbak Hetih biar novel ini diterbitkan sama GPU. Dari obrolan selintas (di medsos) sih katanya rights-nya sudah dibeli dan sedang dalam proses penerjemahan. Asyiiikk. I will definitely buy the Indonesian version, no matter what.

So, review-nya: in the beginning I am really confident that it will be an easy five star reading, but after I finished it couple days ago, hmmm... I think I'll just give it a FOUR star instead. Suka, tapi enggak pakai banget.

Why?

Well, pada dasarnya saya suka. Plot-nya ngalir bener. Premis anjing-kucing di antara kedua karakternya (Lucy Hutton dan Joshua Templeman) cukup menarik, walau agak ngingetin sama Hocus Pocus-nya Karla M. Nashar yang saya benci itu. Hahaha. Saya pikir, gontok-gontokan keduanya bakal sampai tiga per empat buku, ternyata enggak. Jadinya, saya agak kecele sama judulnya yang provokatif ini, kan.

Sudah begitu, sometimes saya pun kurang terbawa sama karakter keduanya. Sally describes both of them are too damn beautiful and flawless. Yeah, ada sih diceritain Lucy begini-Josh begitu, tapi pas keduanya saling berfantasi satu sama lain kok ya keluarlah serentet pemujaan keindahan fisik dan keterampilan maha sempurna masing-masing. Standar romance banget. Dan, ada apa sih sama fantasi cewek mungil dipasangin sama cowok raksasa? Memang begitu ya fantasi cewek-cewek: maunya sama cowok tinggi besar begitu?

Sebagai pencinta metropop, The Hating Game jelas wajib dibaca. Berlatar dunia kerja, kebanyakan adegan di ruangan kantor, dan kantornya di bidang penerbitan pula, cihuy banget pokoknya, Sudah begitu, gaya nulis Sally Thorne memang oke punya buat tema office romance. Witty banter. Kadang kocak, kadang ngeselin. Tapi, ya dasarnya bahasa Inggris saya kan pas-pasan, jadinya ada beberapa guyonan yang nggak masuk di saya. Itulah kenapa saya ngebet banget novel ini diterjemahin. Biar saya tambah ngakak-ngakak pas baca nanti. Hahaha.

Yang saya suka lagi itu jelang bagian akhir. Entah itu nyebutnya twist atau sayanya aja yang salah nebak, alasan Josh ngajak Lucy ke nikahan saudara cowoknya dan masa depan karier Josh bikin saya trenyuh. Siap-siap deh kamu dibikin kebat-kebit sama ulah Josh.

Itu aja yang bisa saya bilang sekarang. Mungkin saya butuh baca untuk kali kedua atau sekalian nanti nunggu terjemahannya. Jika ada update kesan abis baca, review nggak jelas ini juga bakal saya update. Hahaha. Yang pasti: buat yang suka office romance, benci jadi cinta, you MUST READ this.

Selamat membaca!

Thursday, June 21, 2018

[Cover Reveal] Only A Breath Apart by Katie McGarry




Well, hello my fellow blogger. Selamat malam. Apa kabar? After long time hiatus, I decide to take part on revealing book cover of upcoming YA novel by the fabolous Ms. Katie McGarry: ONLY A BREATH APART. Meskipun, saya belum pernah baca satu pun karya Katie, tapi hampir beberapa novelnya sudah saya koleksi, terutama untuk seri Pushing the Limits. I plan to read Pushing the Limits anytime soon this year.

Can't wait to read this beauty on the next year!

And I AM DEFINITELY adore this cover. What do you think?
 
 

Would you dare to defy destiny? Are our destinies written in stone? Do we become nothing more than the self-fulfilling prophesies of other people's opinions? Or can we dare to become who we believe we were born to be?

 

“A gorgeous, heartfelt journey of redemption and love” (Wendy Higgins), ONLY A BREATH APART is a young adult contemporary novel from critically acclaimed Katie McGarry. “Haunting, authentic, and ultimately hopeful” (Tammara Webber), ONLY A BREATH APART will be available on all retailers on January 22, 2019!

 

 


About ONLY A BREATH APART:

Jesse dreams of working the land that’s been in his family forever. But he’s cursed to lose everything he loves most.

Scarlett is desperate to escape her “charmed” life. But leaving a small town is easier said than done.

Despite their history of heartbreak, when Jesse sees a way they can work together to each get what they want, Scarlett can’t say no.Each midnight meeting between Jesse and Scarlett will push them to confront their secrets and their feelings for each other.

 
 

Amazon | Kobo | Google Play | B-A-M | Barnes & Noble | iBooks

 
 




Gritty and real, Only a Breath Apart is a story of hope conjured from pain, strength drawn from innocence, and love earned from self-respect. Beautiful, poignant, and fierce.”
―Kristen Simmons, critically acclaimed author of the Article 5 series




 

 

Add it to your Goodreads today!

 

 

Katie McGarry Bio:

Katie McGarry was a teenager during the age of grunge and boy bands and remembers those years as the best and worst of her life. She is a lover of music, happy endings, reality television, and is a secret University of Kentucky basketball fan.

Katie is the author of full length YA novels, PUSHING THE LIMITS, DARE YOU TO, CRASH INTO YOU, TAKE ME ON, BREAKING THE RULES, and NOWHERE BUT HERE and the e-novellas, CROSSING THE LINE and RED AT NIGHT. Her debut YA novel, PUSHING THE LIMITS was a 2012 Goodreads Choice Finalist for YA Fiction, a RT Magazine's 2012 Reviewer's Choice Awards Nominee for Young Adult Contemporary Novel, a double Rita Finalist, and a 2013 YALSA Top Ten Teen Pick. DARE YOU TO was also a Goodreads Choice Finalist for YA Fiction and won RT Magazine’s Reviewer’s Choice Best Book Award for Young Adult Contemporary fiction in 2013.

Website | Twitter | Facebook | Goodreads | Pinterest | Tumbler | Instagram

 

 




Sunday, April 15, 2018

[Book Shopping Time] Keranjingan Belanja di www.BetterWorldBooks.com

Well, kalau kamu mengikuti salah satu dari beberapa akun media sosial saya [Twitter/Instagram/Facebook/YouTube] kamu pasti tahu bahwa saya sudah masuk ke dalam golongan #PenimbunBuku tingkat lanjut. Bukan sok punya banyak duit, tapi saya memang belum berhasil menemukan penawar racun untuk penyakit yang satu ini. Untuk sementara waktu, biarlah saya menikmati "siksaan" penyakit ini, ya. Seengah berharap, tak lama lagi saya bisa segera bertobat dan sembuh dari penyakit ini. Aamiin.

Tak hanya mengunjungi toko buku atau berbagai event penjualan buku murah/diskon/obral, saya pun tak bisa lepas dari jerat tipu daya iming-iming belanja online. Selain online shop--olshop dalam negeri, saya pun kerap menyambangi dan kalap oleh olshop luar negeri. Salah satunya yang sekarang ini menjadi rujukan utama saya adalah: www.betterworldbooks.com

Harga murah, bebas ongkos kirim ke seluruh dunia, buku bersampul keras (hardcover) seharga paperback, dan pengalaman berbelanja beberapa kali paket buku datang dengan selamat dan lengkap, saya pun menahbiskan BetterWorldBooks menjadi olshop luar negeri favorit saya. Mengalahkan BookDepository yang dulunya jadi rujukan mencari buku-buku luar negeri yang bebas ongkos kirim.  

Dan, entah bagaimana, beberapa bulan belakangan BetterWorldBooks selalu punya agenda diskon yang sulit sekali diabaikan. Diskon sampai dengan 30% atau $10 untuk pembelian buku bekas sebanyak 4 buku atau lebih benar-benar membuat saya goyah iman untuk segera menggesek kartu kredit. Duh!

Padahal sebenarnya, tak bisa dimungkiri, dari tahun ke tahun harga buku yang ditawarkan terus merangkak naik. Kalau dulu saya masih bisa menemui buku seharga $2,9, sekarang enggak ada lagi. Kayaknya yang paling murah di kisaran $3,9, itu pun untuk buku-buku anak yang supertipis, yang kayak diobral Big Bad Wolf books gitu. Untuk buku yang masuk selera saya [you know lah, ya], paling murah $4,9 - $7,8 atau setara dengan:


Dan, inilah buku-buku yang saya datangkan langsung dari US atau UK via BetterWorldBooks, hehehe.




Selamat berbelanja, tweemans.

Sunday, December 31, 2017

My Year in Books 2017

Apa kabar tahun 2017? 
She'll be leaving in... one, two, three...
Yap, she's gone. 


2017 itu nano-nano, ya. Di awal tahun, saya antusias dan kelewat optimis bahwa 2017 will be my favorite reading year karena mood baca lagi bagus, bahan bacaan banyak (timbunan, maksudnya), dan saya pengin balas dendam sama tahun 2016 yang... payah. Namun, apa mau dikata, ternyata tetap saja tak sebagus yang saya harapkan. Malah cenderung serupa downhill, meninggi di awal lalu menurun tajam di selanjutnya. Hufft.

All in all, dari target baca yang saya patok di Goodreads reading challenge sebanyak 24 buku, saya memang berhasil mencapainya (bahkan melampauinya sedikit). Namun, itu pun beberapa buku bacaan pendek dari buku koleksi Shasha (putri saya), yang saya bajak duluan. Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur (saya #TeamBuburDiaduk), waktu toh nggak akan bisa diulang (kecuali dalam novel), jadi mari relakan 2017 apa adanya.

Jadi, beginilah my year in books for 2017:


Beberapa hal yang bisa dicatat dari hasil bacaan 2017:
Buku favorit (di luar buku koleksi Shasha yang saya baca):
1. One of Us is Lying by Karen M. McManus ---mind-blowing.
2. Three Sisters (METROPOP) by Seplia ---mengejutkan.
3. Maybe Someday by Colleen Hoover ---perkenalan menyenangkan dengan Ms. Hoover.

Honorable mentions:
1. Damar Hill (AMORE) by Bulan Nosarios ---bikin kepingin ke Aceh.
2. The Storied Life of A.J. Fikry by Gabrielle Zevin ---worth the buzz.
3. Angel in the Rain by Windry Ramadhina ---lovely.
4. Some Kind of Wonderful (METROPOP) by Winna Efendi ---first ever Winna nulis metropop, berharap Winna mau nulis buku Mpop lagi nantinya.
4. Ada Apa Dengan Cinta by Suarcani ---my dream comes true.
5. Touche: Rosetta (TEENLIT) by Windhy Puspitadewi ---sialan!

Most disappointing books (in terms of failing to live up my expectation):
1. TwinWar (TEENLIT) by Dwipatra.
2. Lengking Burung Kasuari by Nunuk Y. Kusmiana.
3. Momiji by Orizuka.
4. Maybe Not by Colleen Hoover.

DNF:
1. Secangkir Kopi dan Pencakar Langit by Aqessa Aninda (won't continue).
2. Boy Toy (METROPOP) by aliaZalea (akan dilanjutkan di 2018).
3. P.S. I Like You by Kasie West (akan dilanjutkan di 2018).

Selamat tinggal tahun 2017.
Selamat datang tahun 2018. Semoga lebih baik. Aaamiin.

Monday, December 18, 2017

[Resensi Novel Teenlit] TwinWar by Dwipatra

#8_2017
First line:
DUA tahun lebih sudah berlalu sejak Hisa pindah dari kamar ini.
---hlm. 7, Bab 1

Gara dan Hisa kembar identik. Penampilan kedua cowok itu persis sama. Karennya pun sama. Tapi minat dan kemampuan? Beda jauh! Gara berotak encer dan kemampuan akademiknya gemilang. Sementara itu, Hisa jago olahraga dan sederet trofi kejuaraan berhasil ia raih. Walaupun bersekolah di SMA berbeda, persaingan mereka tak pernah surut.

Dalam keluarga mereka, ada satu aturan yang tidak boleh mereka langgar. "Gara dan Hisa tidak boleh pacaran sebelum lulus SMA dan diterima masuk di perguruan tinggi." Kalau sampai aturan itu dilanggar, konsekuensi yang akan mereka terima tidak main-main.

Kisah ini bermula ketika Hisa mengetahui ada foto cewek di handphone Gara. Ya, diam-diam Gara memang berpacaran dengan Dinar. Mendapati rahasia Gara, Hisa seolah mendapat senjata ampuh untuk "menghancurkan" saudara kembarnya. Jadi, siapa bilang saudara kembar nggak bisa perang?

Judul: TwinWar
Pengarang: Dwipatra
Editor: Miranda Malonka
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 296 hlmn
Rilis: 4 Desember 2017
Harga: Rp69.000
ISBN: 9786020376790
My rating: 3 out  5 star

Well, pendapat saya untuk novel ini mungkin termasuk yang enggak populer, ya, mengingat sampai dengan sekarang rating untuk novel ini di Goodreads cukup bagus, 4.04. Saya pun agak bimbang antara 2,5 bintang menuju dua atau cenderung tiga, yang pada akhirnya dengan segala pertimbangan saya lebih condong membulatkan ke tiga bintang.

Membaca teenlit (di saat sekarang) serupa mengorek-ngorek kotak kenangan. Mencari sekelumit kesan yang tertinggal di masa ke-teenlit-an saya sendiri. Beberapa hal tak berubah, meskipun sebagian besarnya berubah. Tentu saja, teknologi mengubah segalanya, termasuk pola kehidupan individu dan sosial di bangku SMA dari waktu ke waktu. 

Mengetahui TwinWar dinobatkan sebagai Juara 1 kompetisi GWP batch 3, membuat saya demikian penasaran. Well, saya memang pengejar segala yang berbau top-top-an. Saya mendengarkan lagu yang sedang hits dan menduduki tangga lagu teratas. Saya menonton film yang tengah merajai panggung box office. Dan saya pun tak ketinggalan membaca buku-buku pemenang penghargaan ini dan itu. Lebih ke menuntaskan rasa penasaran: benarkah mereka (lagu, film, buku) sebagus penilaian juri/orang-orang?

Jujur saja, saat ini saya hanya membaca teenlit karangan Ken Terate saja (dan sesekali karya Windhy Puspitadewi). Saya malas mencoba-coba. Paling maksimal, saya akan bertanya sana-sini dulu jika ada satu-dua judul teenlit yang sedang hits, yang belum tentu saya baca juga. Maka, ketika memutuskan mengunduh novel TwinWar di aplikasi ScoopPremium, saya punya ekspektasi setinggi langit(-langit kamar), bahwa saya (mungkin) punya cadangan nama selain Ken (dan Windhy) untuk bisa saya ikuti karya tulis teenlitnya.

Hasilnya: saya enggak yakin. TwinWar tak berhasil memenuhi harapan. Segala sanjungan yang diberikan untuk novel ini, hanya satu-dua saja yang saya aminkan. 'Lil bit disappointing, for me, at least. Bukan enggak bagus, tapi lebih ke "gagal" memenuhi ekspektasi.


Pertama, alasan pribadi: saya tak suka plot gontok-gontokan di awal lalu jadi akur di akhir. Hahaha. Lha terus kenapa masih nekat baca juga? Salahkan rasa penasaran saya. Lagian kenapa enggak suka plot begitu? Quite predictable, menurut saya. Makanya, sepanjang baca saya menunggu plot-twist, yang sayangnya enggak ada sampai akhir. Entah saya baca di review siapa, yang bilang novel ini emosional dan bikin nangis, saya pikir salah satu dari si kembar bakal ada yang dimatiin, dan saya memang sempat kepikiran juga sewaktu ada adegan di****li dan pi****n itu. Eh, ternyata enggak.


Untuk cerita soal saudara kembar, saya suka banget sama film The Parent Trap versi tahun 1998 yang dibintangi Lindsay Lohan (sewaktu kecil). Kisahnya sederhana, tapi ditulis dan dirangkai sedemikian memikat sehingga saya benar-benar jatuh cinta pada kisahnya. Premisnya: dua saudari kembar yang harus terpisah karena orangtua meraka bercerai, satu di Inggris (Annie) dan satu lagi di Amerika (Hallie). Keduanya kembar identik, cuma karena beda lingkungan dan pola pengasuhan, memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Namun, sama dengan film ini, saya pun agak kurang diyakinkan dengan body type Hisa-Gara ketika bertukar peran. Diceritakan Hisa adalah maniak olahraga (khususnya lari), sedangkan Gara cenderung kutu buku. Dari situ, bukankah tak cukup hanya sekadar mengubah gaya rambut untuk bisa mengelabui teman dekat? Paling tidak Hisa punya bodi tipe atlet yang lebih terbentuk ketimbang Gara, kan? Pun, dengan sikap tubuh. Atau saya ada miss pada bagian ini?


Kedua, alasan pribadi: saya tak suka gaya menulis yang mengajak pembaca bicara. Hahaha. Cuman personal taste saja. Untuk standar fiksi, saya paling benci tokoh yang suka ngomong sendiri dan narator yang seolah-olah mengobrol sama saya, menggunakan kata "kalian" atau "kamu" ketika mendeskripsikan suatu keadaan (saya lupa nge-bookmark contoh di naskah ini), tapi tahulah ya, yang saya maksud?

Ketiga, saya merasa pengarang sedang mengampanyekan "mari pacaran di SMA" di sini. Yaelah, biarin saja, sih, emang enggak boleh? Hahaha, ya bolehlah, hanya saja saya lebih menyukai hal-hal yang dibuat natural. Di novel ini (yang saya tangkap), "larangan pacaran" dianggap mengada-ada dan tidak efektif, jadi mestinya bebaskan saja para remaja SMA berpacaran. Saya agak konservatif menyoal pacaran ini.


Keempat, meskipun saya tak pernah tergabung di klub kompetitif apa pun selama SMA (saya hanya pernah ikut ekskul Pramuka), saya rasa agak sedikit janggal jika antaranggota klub memiliki rivalitas-menjurus-permusuhan seperti yang ditunjukkan Hisa dan Faisal. Dan, guru olahraga yang menjadi pembina klub itu pun seolah-olah membiarkan. Saya paling enggak suka bagian ini. Entahlah, sebagai pengamat olahraga abal-abal, saya kok merasa novel ini gagal menunjukkan semangat sportivitas. Apalagi ini masih pada piyik, lho, mestinya rivalitasnya tak semengerikan itu. Kalau digambarkan beda sekolah, mungkin masih masuk akal. Entahlah, saya pada posisi tak setuju konflik ini yang dipilih untuk mewarnai kisah salah satu dari si kembar.


Kelima, saya pun sempat membaca di salah satu review yang menyebut TwinWar bisa jadi jembatan untuk para remaja lelaki menyukai membaca (terutama teenlit) karena tema dan nuansanya yang maskulin. Hmmm, setuju-tak-setuju. Hahaha. Saya rasa tetap kurang jantan. Namun, saya setuju saja sih, bahwa TwinWar dan logo baru teenlit yang lebih netral, bisa saja jadi pemicu (kembali) booming-nya novel teenlit, termasuk di kalangan remaja cowok.

Keenam, semua orang harus happy. Hmmm, saya masih berharap ada yang unik nan berbobot dari TwinWar ini. Sayang, setiap konflik yang ada seolah-olah "dipaksakan" harus selesai secara tuntas, dan harus damai. Selain minim plot twist, tak ada yang "meledak" di mana pun di novel ini. Sempat kaget saja tidak.


Ketujuh, ehmmm, masih cukup banyak typo bertebaran di sana-sini. Oh, saya baca versi digitalnya, sih, enggak tahu apakah versi fisiknya bakal sama atau lebih rapi ketimbang digitalnya. Typo minor doang, tapi tetap mengganggu buat saya.

Di sisi lain, TwinWar memang ditulis dengan gaya lugas dan selipan humor di sana-sini (meskipun buat saya tetap kurang nendang) serta diksi sederhana yang membuat rajutan kisahnya mengalir lancar. Well, sebagai penggila quote, saya agak kecewa karena tak menemui banyak kalimat yang memorable dan cocok dipasang sebagai caption di Instagram (sepanjang enggak dilarang). #eaaa


Uhmm, saya sudah mengunduh ketiga naskah pemenang GWP. Kemarin sempat kepingin memulai-baca Seventeen Once Again, yang kayaknya lebih lincah gaya penceritaannya, tapi... enggak dulu, kayaknya. Saya salip One of Us is Lying aja dulu, deh.

End line:
"Gar, lo sadar nggak, kalau lagi dijadiin lap keringet sama Hisa?"
---hlm. 288, Bab Epilog

Monday, October 2, 2017

[Fun Games] Pengumuman Pemenang MEGA-GIVEAWAY Say No To Me Say No To Love

Fun games dalam rangkaian MEGA-GIVEAWAY SayNoToLoveSayNoToMe, untuk menyambut kelahiran novel metropop terbaru karya Mas Wiwien Wintarto terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) berjudul Say No To Me (sudah beredar di toko buku, silakan dibeli dan dibaca, yaaaa). Jadi, seluruh rangkaian giveaway ini terselenggara atas kerja sama @fiksimetropop dengan GPU dan Wiwien Wintarto.


Oke, untuk fun games-nya sendiri, gimana? Gampang, kan? Malah gampang banget kayaknya, sih. Dari entri yang masuk sebagian besar benar semua, kok. Penasaran apa jawaban fun games-nya? Ini dia:


Ada 13 entri yang masuk, 5 di antaranya kurang lengkap dan 8 entri lainnya menjawab sempurna. Yang menjawab kurang lengkap:
1. Diah Pujiawati
2. Artha maula amalia
3. Bintang Sirait
4. Lina Ernawati
5. Desita Wahyuningtias

Sedangkan yang menjawab sempurna adalah:
6. Junarti
7. Fitri
8. Gabriella Halim
9. Alyani Shabrina
10. Nola Andriyani
11. Elisabeth Beatrice
12. Fetri Tjang
13. Dedik Ariyanto

Awalnya sempat yakin bakal enggak ada yang bisa menjawab sempurna, tapi... you guys are awesome! Keren, ih. Hahaha, atau sayanya yang kelewat jemawa sok canggih bikin soal, ya. Muhahaha. Well, jadinya saya mesti tetap minta bantuan aplikasi pengundi untuk membantu saya menentukan dua orang yang beruntung mendapatkan masing-masing paket duo kece novel Say No To Love dan Say No To Me karya Wiwien Wintarto terbitan GPU. Dan, yang beruntung adalah...



Selamat untuk Elisabeth Beatrice dan Nola Andriyani. Paket hadiah akan dikirim langsung oleh Tim dari GPU ke alamat sesuai dengan yang kalian cantumkan ketika mengirimkan jawaban fun games-nya, ya.

Oke, dengan terpilihnya dua pemenang dari blog ini, maka seluruh rangkaian MEGA-GIVEAWAY #GASayNoTo #SayNoToLove #SayNoToMe berakhir pula. Terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, terutama dari GPU (Didiet P) dan Mas Wiwien Wintarto. Semoga yang menang di semua giveaway segera membaca bukunya dan ditunggu kesan-kesannya setelah membaca, ya. Semoga duo kecenya Mas Wiwien bisa diterima pembaca fiksimetropop di mana pun berada. Aamiin.

Sampai jumpa di giveaway-giveaway seru lainnya.

Rekap seluruh pemenang giveaway:
1. @beingacid (Instagram)
2. @rohaenah1 (Instagram)
3. @sapta_resita (Twitter)
4. @dutchesslolaa (Twitter)
5. @halidahanun (Twitter)
6. @udonkuma (Twitter)
7. Elisabeth Beatrice (Blog)
8. Nola Andriyani (Blog).

Wednesday, September 20, 2017

[Fun Games] MEGA-GIVEAWAY Say No To Me Say No To Love

Well, hello, tweemans. Apa kabar? Kayaknya makin sering main medsos jadi lupa punya blog, ya. Duh, jarang banget ini update-nya. Semoga ke depan, blog ini kembali bisa kejar tayang secara rutin, ya. Aaamiin.


Nah, sudah lama juga kita nggak fun games di sini. Yuk, ikutan fun games seru lagi. Kali ini masih dalam rangkaian MEGA-GIVEAWAY SayNoToLoveSayNoToMe, dalam rangka menyambut kelahiran novel metropop terbaru karya Mas Wiwien Wintarto terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) berjudul Say No To Me (sudah beredar di toko buku, silakan dibeli dan dibaca, yaaaa). Jadi, seluruh rangkaian giveaway ini terselenggara atas kerja sama @fiksimetropop dengan GPU dan Wiwien Wintarto.

Oke, fun games kali ini simpel banget, kok. Begini cara ikutannya:
1. Wajib follow blog ini, ya.
2. Wajib nge-share info fun games ini di Twitter, Facebook, atau Instagram, dan salin-tempel tautan (link) share kamu tadi di kolom komentar, ya.
3. Jawab pertanyaan di bawah ini melalui google form yang disediakan:
Silakan susun ulang 20 judul novel metropop yang diacak di bawah ini:




4. Fun games berlangsung sampai dengan hari Senin tanggal 25 September 2017 pukul 23.59 WIB.
5. Dua orang terpilih, masing-masing akan mendapatkan paket novel Say No To Love (kover baru) dan Say No To Me.
6. Good luck, ya.

Jika ada yang masih ingin ditanyakan, silakan di kolom komentar, ya.  

Friday, May 19, 2017

[Resensi Novel Young Adult] Always and Forever, Lara Jean (To All the Boys I've Loved Before #3) by Jenny Han

#7_2017
First line:
"I Like to watch Peter when he doesn't know I'm looking."
---hlm.1, Chapter 1

Lara Jean’s letter-writing days aren’t over in this surprise follow-up to the New York Times bestselling To All the Boys I’ve Loved Before and P.S. I Still Love You.

Lara Jean is having the best senior year a girl could ever hope for. She is head over heels in love with her boyfriend, Peter; her dad’s finally getting remarried to their next door neighbor, Ms. Rothschild; and Margot’s coming home for the summer just in time for the wedding.

But change is looming on the horizon. And while Lara Jean is having fun and keeping busy helping plan her father’s wedding, she can’t ignore the big life decisions she has to make. Most pressingly, where she wants to go to college and what that means for her relationship with Peter. She watched her sister Margot go through these growing pains. Now Lara Jean’s the one who’ll be graduating high school and leaving for college and leaving her family—and possibly the boy she loves—behind.

When your heart and your head are saying two different things, which one should you listen to?

Judul: Always and Forever, Lara Jean (To All The Boys I've Loved Before #3)
Pengarang: Jenny Han
Penerbit: Scholastic Ltd (UK Version)
Tebal: 336 hlm
Rilis: 4 Mei 2017
Harga: Rp104.000 (Pre-order di Book Depository)
ISBN: 978-1-407177-66-3
My rating: 4 out of 5 star

Saya merasa menjadi salah satu pembaca yang beruntung ketika mengingat kali pertama berkenalan dengan duologi-yang-berubah-menjadi-trilogi karya Jenny Han ini. Betapa tidak, waktu itu saya berkali-kali mupeng baca To All The Boys I've Loved Before--karena kayaknya semua orang di dunia lagi ngomongin buku ini--yang saat itu belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia, tiba-tiba saya mendapat tawaran menjadi proofreader naskah yang hak terjemahan Indonesia-nya ternyata dibeli Penerbit Spring ini. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung mengiakan. Dan, jadilah saya salah seorang fan seri Lara Jean ini.

Ketika Jenny Han mengumumkan bahwa akan ada buku ketiga, Always and Forever Lara Jean, saya pun ikutan enggak sabar menunggu jadwal rilisnya dan memasukkan novel ini ke daftar Most Anticipated Books of 2017. Iseng-iseng saya mengecek di Book Depository dan merasa harga PO-nya lumayan murah, maka saya pun mengeklik pesan dan membelinya. Novel ini menjadi novel PO pertama saya sejak kali terakhir ikutan PO novel Twivortiare-nya Ika Natassa terbitan nulisbuku sekian tahun silam.


Meski antusias menunggu rilisannya, saya tak memasang ekspektasi kelewat tinggi untuk buku ketiga seri Lara Jean ini. Saya cuman fan yang enggak rela cerita Lara Jean berakhir begitu saja. Sama enggak relanya ketika tahu The Chronicles of Audi-nya Orizuka juga tamat. #eh #enggaknyambung

Gaya dan cara bertutur Jenny Han masih seluwes di dua buku sebelumnya. Meski tak lagi menyembulkan ledakan kejutan yang cukup signifikan, tapi konflik di buku ketiga tetap menarik untuk diikuti. Malah untuk pembaca yang sedari awal sudah menginginkan Lara Jean dipasangkan dengan *uhuk*sensor*uhuk*, buku ketiga ini bisa menjadi pembuktian bahwa kisah asmara mereka memang sepatutnya dilanjutkan. And, I love how Jenny Han made them up for each other. Pelan, beriak, tapi believable.

Saya pun cukup menyukai subplot-subplot yang disusun Jenny Han sebagai bumbu kisah cinta Lara Jean di buku ketiga ini. Mulai dari dibuat berdebar-debar menanti kabar kampus mana yang akan menerima Lara Jean sebagai mahasiswanya, geregetan dengan sikap tarik ulur Lara Jean dan Peter Kavinsky, cekikikan bareng Kitty, merasa tersisihkan seperti Margot, tersipu-sipu ketemu John Ambrose McClaren, repot bantu-bantu persiapan pernikahan Daddy, kejutan dari Stormy, hingga keputusan akhir Lara Jean soal pilihan cowoknya. Ataukah dia mestinya mengikuti saran mendiang ibunya, "Don't be the girl who goes to college with a boyfriend"?


Memang sih, ada beberapa bagian yang saya lompati, terutama soal deskripsi kampus yang dikunjungi Lara Jean untuk survei lalu eksperimen-eksperimen Lara Jean soal pembuatan kue. Bukan enggak bagus, cuman sangking kepinginnya segera tahu ending-nya saja, sih. Plus, alur jadi seolah melambat dan agak boring. Mungkin nanti kalau kangen kisah Lara Jean, saya bakal re-read pelan-pelan tanpa melompati bagian mana pun. Janji!

Oh, oh, dan saya suka banget karena banyak film disebut di sini, termasuk salah satu film favorit saya: Sleepless in Seattle! OMAGAT, Jenny Han also writes something about Teddy bear near Empire State Building.


Jujur, saya menyukai kover versi US untuk dikoleksi. Namun, ternyata saya enggak sadar ketika pesan buku ketiga (dan buku pertama) di Book Depository, yang saya pesan adalah kover versi UK. Celakanya, saya telanjur beli buku kedua di event Gramedia Import Book Sale 2017 yang berkover versi US. Huhuhu, punya satu set tapi malah enggak seragam kovernya. Beberapa kali saya sempat tergoda kepingin pesan lagi buku keduanya dengan kover versi UK di Book Depository. Biar klop satu set gitu. Hikz.


Buat saya, it's not perfect but awesome conclusion for Lara Jean. Kalau saya diberi kesempatan untuk sumbang saran penulisan buku ketiga ini, mungkin saya pun akan menuliskan ending yang sama.

End line:
"I suppose I'll say it all started with a love letter."
---hlm. 325, Chapter 41  

Sunday, February 5, 2017

[Book Haul] January 2017 Book Haul (including from 2016)

Post tentang book haul ini menjadi posting-an paling labil yang pernah saya buat. Kapan hari dulu pernah bikin lalu malas lalu enggak pernah bikin lagi. Sejak nongkrongin para booktuber ber-book haul tiap saat saya kok jadi kepingin bikin posting-an tentang book haul lagi. Nah, di tahun 2017 ini saya pengin ngedata sekaligus pamer buku-buku yang saya beli ataupun yang saya dapat dari sumber mana pun.

Oiya, di kesempatan pertama ini, saya sekalian nge-book haul buku-buku yang saya peroleh dari tahun 2016 (pembelian terakhir), ya.

BELI - Buku Fisik
Let me tell you: If you want to stop buying books, don't ever try to type #JualBukuBekasMurah on Instagram or switch-off your Twitter account so you won't know that your fellow readers sell their pre-loved books. Seperti saya, nih. Beli dua buku bagus ini dari Aul di Bandung;
1. The Girl on the Train by Paula Hawkins - terjemahan;
2. The Giver by Lois Lowry - terjemahan.


Kamu juga enggak usah ikut-ikutan buka info soal HARBOLNAS. Tutup mata. Tutup telinga. Anggap aja tanggal 12 bulan 12 itu enggak pernah ada. Kalau enggak kamu mungkin akan kalap juga seperti saya. Ini saya beli dari www.gramedia.com pas ada obralan di event #Harbolnas2016.
3. Anak Semua Bangsa (Tetralogi Buru #2) by Pramoedya Ananta Toer;
4. Jejak Langkah (Tetralogi Buru #3) by Pramoedya Ananta Toer;
5. Rumah Kaca (Tetralogi Buru #4) by Pramoedya Ananta Toer ---sayang buku #1-nya, Bumi Manusia, malah enggak ada, hikz;
6. Drupadi by Seno Gumira Ajidarma (bertanda tangan);
7. Istanbul by Retni SB;
8. Tentang Kamu by Tere Liye (buku pertama Tere Liye yang saya beli sejak terakhir kali baca Bidadari-Bidadari Surga).


Setelah #Harbolnas2016 ternyata masih ada @hematbuku20 di Instagram yang obral diskon 50% buku-buku terbitan grup Kompas-Gramedia yang akhirnya bikin saya beli ini:
9. A Monster Calls by Patrick Ness - terjemahan;
10. Ada Apa Dengan Cinta? by Silvarani;
11. Rule of Thirds by Suarcani.


Plus, Gramedia Big Sale! masih ada di mana-mana, salah satunya yang digelar di One Bell Park Fatmawati. Thank, GOD, enggak banyak buku menarik yang diobral jadinya saya enggak kalap-kalap banget. Saya hanya mencomot ini:
12. Scarlet Preludium by Silvia Arnie;
13. The Lunch Reunion by Tria Barmawi;
14. Bandar by Zaky Yamani;
15. The King of Attolia (The Thief #3) by Megan Whalen Turner - terjemahan;
16. We'll Always Have Summer (Summer #3) by Jenny Han - terjemahan (yang ini beli di event shocking sale Gramedia Matraman barengan beberapa buku anak-anak buat Shasha).


BELI - e-Book
Gegara ada promo Tahun Baru murah meriah di Google Play, saya jadinya keranjingan belanja e-book, dan inilah beberapa e-book yang tersimpan di akun Playbooks saya:
17. Inteligensi Embun Pagi by Dewi "Dee" Lestari;
18. The Darkest Mind by Alexandra Bracken - terjemahan;
19. Novelet Madre by Dewi "Dee" Lestari;
20. The Perfect Husband by Indah Riyana (chapter tambahan doang ternyata, sial!);
21. A Game of Thrones by George RR Martin (separuh buku doang, sial lagi!);
22. Serpihan by Jane Austen;
23. MPASI Perdana Cihuy by Dian Prima;
24. Istriku Seribu by Emha Ainun Nadjib;
25. Angel in the Rain by Windry Ramadhina;
26. A Man Called Ove by Fredrick Backman - terjemahan;
27. Heartwarming Chocolate by Prisca Primasari.

HADIAH dan BUNTELAN - Buku Fisik
28. PS I Like You by Kasie West - terjemahan (kado dari event MARKITUKA BBI Jabodetabek)
29. The Wrath and The Dawn by Renee Ahdieh - terjemahan (kado dari event MARKITUKA BBI Jabodetabek, terima kasih ya Afifah Tamher atas dua kado kerennya. Dan, maaf, saya gagal menebak kamu sebagai giver rahasia saya, huhuhu)


30. Yes I Do But Not With You by Shandy Tan (dikirimin Kak Asty dari GPU, makasihhh, sudah di-review);
31. When Love is Not Enough by Ika Vihara (dikirimin Ika, makasihhh, to be reviewed anytime soon, barengan sama My Bittersweet Marriage);
32. Roller Coaster by Arimbi Bimoseno (hadiah dari #KlubSiaranGRI di RPK 96,3 FM)
33. Blue by Danielle Steel - terjemahan (bukti terbit dari kerjaan proof-read)



Nah, itu tadi buku-buku yang saya beli dan saya dapat di akhir tahun 2016 dan Januari 2017. Nggak banyak kan, ya? Kalau kamu, berapa buku yang kamu beli-dapet di Januari 2017?

Saturday, January 28, 2017

[Resensi Novel Young Adult] Ada Apa Dengan Cinta? by Silvarani

#6_2017
First line:
KECERIAAN menyebar di setiap sudut sekolah pagi ini.
---hlm.7, Chapter: Sorak Sorai Itu Bernama Pagi

Apa lagi yang kurang dalam hidup Cinta? Ia punya keluarga yang bahagia, popularitas di sekolah, banyak pengagum, dan yang paling penting, ia punya sahabat-sahabatnya. Alya, Maura, Milly, dan Karmen membuat hari-harinya selalu berwarna. Mereka adalah pusat dunia Cinta.

Sampai suatu hari, ia berkenalan dengan Rangga, cowok jutek dan penyendiri yang lebih suka berteman dengan buku daripada manusia. Ternyata mereka sama-sama menyukai puisi, minat yang tak bisa Cinta bagi dengan keempat sahabatnya. Dan perlahan hal itu membawa perubahan pada dirinya, membuat orang-orang di sekitarnya bertanya-tanya, ada apa dengan Cinta?

Ketika Cinta sendiri pun ikut mempertanyakan dirinya dan persahabatannya menjadi taruhan, apa yang sebaiknya ia lakukan?

Judul: Ada Apa Dengan Cinta (AADC)?
Pengarang: Silvarani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 hlm
Rilis: April 2016
ISBN: 9786020326450
My rating: 3,5 star ouf of 5

Saya bahagia.
Ini serupa harapan yang menjadi kenyataan.


Beberapa waktu silam, saya memasukkan AADC? ke daftar sepuluh film yang semestinya ada versi novelnya. Dan, seperti terkabulnya doa, kini sudah ada versi novel dari salah satu film Indonesia modern yang menandai kebangkitan kembali perfilman tanah air. Namun, entah karena apa, saya enggak langsung beli-dan-baca novel AADC? itu. Ada sedikit kesongongan saya menyoal kredibilitas penulisnya, sih. Maaf. Heh, siapa sih ini Silvarani? Enggak bisa gitu minta penulis sekaliber Winna Efendi atau Orizuka atau Esti Kinasih buat novelin film mahafenomenal ini? Yeah, yeah, saya memang (kadang) sesongong itu. Hingga akhirnya saya nemu info diskonan hingga 50% all item di @hematbuku20 jadi saya beli (dan baca) novelisasi film yang mempopulerkan Dian Sastro dan Nicholas Saputra ini.

Jika kamu seperti saya yang begitu nge-fans filmnya sampai-sampai hafal-luar-kepala dialog-dialognya, pasti hepi banget baca novel AADC? ini. Sebagian besar dialog-dialog itu dipertahankan sesuai yang ada di film, dengan beberapa penambahan. pengurangan, dan penyesuaian lainnya. Dialog-dialog ikonik seperti, "Basi! Madingnya udah siap terbit!", "Terus salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?", atau "Salah satu dari kita pasti lebih punya otak atau lebih punya hati, tapi kayaknya kamu nggak punya dua-duanya". Nah, dialog-dialog semacam itu juga tetap ada di novelnya.

Selain dialog, secara garis besar cerita juga sama persis dengan filmnya, meskipun terdapat penambahan sebab-akibat atau sudut pandang lain dari para tokohnya ketika berinteraksi. Tambahan lain adalah penggambaran ekspresi tokoh masing-masing. Apa yang saya lihat di film ditambahkan efek dramatisasi melalui rangkaian kata-kata (yang untunnya tidak sampai lebay). Tentu saja, hal tersebut menambah kenikmatan mengikuti kisah Cinta dan Rangga ini. Detail visual yang tidak tertangkap mata ketika menonton filmnya, bisa kita dapatkan dari novel.

Selain tambahan efek dramatisasi, di AADC? versi novel juga diberikan beberapa hal yang tidak dibuat gamblang di filmnya. Misal: isi surat Cinta untuk Rangga yang diselipkan di ruangan Pak Wardiman yang bikin Rangga marah (di film kan enggak dikasih tahu bunyi suratnya bagaimana)
sumber: https://achalasya.blogspot.co.id/
atau tulisan Cinta sewaktu mengembalikan buku Aku ke Rangga (saya sih sempat skrinsut dari film, kalau di-zoom masih kelihatan, sih, tapi lupa saya taruh mana, ya, skrinsutannya itu).
sumber: https://rizkoprasada.wordpress.com/
Namun demikian, seperti beberapa pembaca yang lain, saya juga merasa tempo ceritanya kecepetan. Pergantian antaradegannya bergerak hampir dalam itungan detik, tanpa jeda, sehingga terkesan kurang smooth. Cenderung patah-patah, meskipun tetap bisa diikuti. Sebenarnya, saya sendiri sudah kecewa ketika membuka segel bukunya dan melihat jumlah halaman novelnya bahkan tidak sampai 200 halaman. Whattt? Jadi, memang semestinya tidak perlu berharap terlalu banyak bahwa akan ada sesuatu yang spesial dari novelisasi AADC? ini. Jangankan hal spesial, pengembangan plot yang ada saja sangat sempit, kalau tidak mau bilang tidak ada pengembangan sama sekali. Mungkin, penulisnya sendiri sudah diwanti-wanti sama pihak produser dan pemilik hak cipta filmnya agar setia pada filmnya. Who knows, kan?

Pengembangan yang sempit itu pun saya tak terlalu menyukainya. Hahaha. Jika di film, saya meyakini bahwa Cinta dan Rangga mulai merasa ada geletar aneh di hati masing-masing adalah ketika Cinta mengembalikan buku Aku ke Rangga dan Rangga mengucapkan terima kasih. Di situ, menurut saya, adalah momen paling tepat menghadirkan nuansa merah jambu kepada mereka. Namun, di novelnya malah dibilang...



Detail kecil lain yang juga mengganggu saya adalah digantinya adegan Cinta beli kacang rebus ketika menunggu taksi dengan adegan Cinta beli minuman di minimarket. WHAAATTT??? Padahal di adegan ini bisa romantis maksimal banget, lho. Ingat adegan Rangga yang iseng menendang pohon sehingga air sisa hujan yang tertinggal di dedaunannya jatuh mengguyur Cinta? I love that scene! Di novelnya tidak ada adegan itu. Hikz.


Overall, meskipun tidak memberikan sesuatu yang spesial, kehadiran AADC? versi novel ini--buat saya yang sangat-sangat menyukai versi filmnya--merupakan harapan yang menjadi kenyataan. Mungkin tak bakal saya baca ulang dalam waktu dekat, tapi jika suatu waktu di masa datang saya kangen kisah Cinta dan Rangga, selain dengan memutar kembali filmnya (untuk keberapa puluh kalinya), saya bisa pilih alternatif lain dengan membaca novel ini.

Oke, selamat membaca, tweemans.


End line:
Milly berkata panik, "Mamet! Mamet ketinggalan!"
---hlm.186, Chapter: Perempuan...