Thursday, December 31, 2009

Trailer resmi Film Percy Jackson and the Olympians - The Lightning Thief

Ini adalah trailer resmi dari sebuah film fantasi Hollywood yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Rick Riordian yang di Indonesia diterjemahkan dan diterbitkan oleh Mizan Fantasi (Grup Mizan) dengan judul, Percy Jackson & Dewa-Dewi Olympia: Buku Satu - Pencuri Petir (The Lightning Thief).

Saya sudah khatam membacanya sejak lama, tetapi belum sempat membuat review-nya. Ya sudahlah, saya sendiri sebenarnya sangat tidak puas dengan novelnya. Entah dengan film-nya. Bagi yang sudah membaca, berikut adalah trailer resmi dari film adapatasi tersebut, yang rencananya rilis di tahun 2010 ini.

Selamat menonton, saudara!




Resensi Novel Chicklit: Okke 'Sepatumerah' - Heart Block (Biarkan Cinta Menemukanmu)

Novel seru buat para writers wannabe



Judul: Heart Block - Biarkan cinta menemukanmu
Penulis: Okke 'Sepatumerah'
Penerbit: Gagas Media
Tema: Dunia penulisan, Kasih tak sampai, Pencarian jalan keluar
Tebal: xii + 316 halaman
Harga: Rp30.000 (Toko)
Rilis: Desember 2009 (Rencana 2010)

Kalau tidak salah, awal saya tertarik dengan karya Okke yang berembel-embel nama belakang unik 'Sepatumerah' ini adalah ketika Gagas Media sedang gencar-gencarnya mempromosikan semacam line novel baru, Kamar Cewek, dan Okke menulis novel dengan judul Kamar Cewek juga, beberapa tahun silam. Sayang, meskipun saya suka tetapi saya benar-benar lupa dari jidat-sampai-pantat novel tersebut. Namun, yang pasti, sejak saat itu saya selalu notice jika ada novel baru dengan nama Okke terpampang di covernya yang terpajang di rak ketika kebetulan saya berkunjung ke bookstore. Selain Kamar Cewek, saya ingat pernah membeli-baca novel lain tulisan Okke yaitu Indonesian Idle (cukup suka) dan Istoria da Paz (kurang suka).

Pun, sebenarnya saya tidak secara khusus membeli novel ini di event discount 30% all items Gramedia Grand Indonesia beberapa waktu lalu. Rencana awal saya ingin memborong beberapa buku yang sudah masuk dalam waiting list saya, termasuk buku non-fiksi Soe Hok Gie, tapi sungguh mengecewakan karena buku-buku tersebut tidak tersedia di event tersebut. Agar tidak terlalu kecewa, maka saya mencomot beberapa buku/novel yang saya anggap oke dan salah satunya adalah novel terbaru Okke yang entah salah cetak atau bagaimana di lembar deskripsi awalnya dituliskan "Cetakan pertama, 2010", apa maksudnya ya? Anyway, salah satu yang membuat saya tertarik memasukkan novel ini ke kantung belanja saya adalah garis besar cerita yang saya tangkap dari sinopsis di cover belakangnya. Yap, kali ini Okke sepertinya ingin membagikan salah satu keping perjalanan karirnya di dunia kepenulisan, yaitu bagaimana menemukan cara yang tepat bagi seorang penulis mengurai kemacetan ide ketika mengalami writer's block. Tema ini secara khusus mengingatkan saya pada komunitas kecil baru saya di facebook, yang isinya writers wannabe yang bermimpi bisa juga menulis dan menghasilkan suatu karya tulis yang diterbitkan (Join the group here). Jadi, secara tidak langsung pula saya merekomendasikan untuk membaca novel ini kepada teman-teman saya di komunitas tersebut dan juga para writers wannabe di manapun Anda berada sebagai tambahan wawasan untuk menjejak belantara industri kepenulisan yang nyatanya tidak melulu segampang yang kita kira.

Mungkin karena kadung terhipnotis dengan temanya, maka sejak halaman pertama saya sudah terhanyut dengan alur yang diciptakan Okke. Saya menikmati kalimat demi kalimatnya serupa membaca buku petuah tentang penulisan. Di beberapa bagian saya manggut-manggut, berharap dapat mengingatnya terus dikemudian hari, dan di bagian yang lain saya geleng-geleng karena baru menyadari satu buah fakta baru dunia penulisan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Informasi demi informasi ini dikemas dengan bumbu fiksi yang cukup segar oleh Okke sehingga tidak sampai jatuh kepada tubir kebosanan. Eits, tapi jangan ada yang salah tafsir. Okke tidak terkesan menggurui dalam novelnya ini, tidak sama sekali. Kelihatan sekali bahwa melalui tokohnya Okke berusaha sharing hal-hal non-teknis dari ilmu kepenulisan.

Summary tokoh: Senja (aku, penulis novel pemenang award, mengalami writer's block, liburan untuk mencari jalan keluar, bertemu seorang cowok yang menarik), Genta (pelukis, love interest Senja), Tasya (kakak beda ayah-beda ibu Senja, penyiar, manajer Senja yang super bawel) dan beberapa tokoh lain yang tidak begitu signifikan perannya: Jana, Abram, Ludwina, Demetrius.

Membaca novel ini saya jadi paham, bahwa menjadi apa yang kita maui dan memperoleh penghasilan daripadanya jelas membutuhkan pengorbanan. Belum tentu pula bahwa ketika merintisnya kita akan selalu dapat memilih untuk bertindak "seenak jidat gue". Dalam novel ini Okke menggambarkan bahwa penulis dalam perintisan karirnya tidak melulu hanya sekadar menulis, menulis, dan menulis. Penulis juga harus menghadiri serangkaian acara promosi novelnya yang dapat berupa launching party, roadshow, pelatihan penulisan di daerah-daerah, book signing, dan sebagainya. Dan, kegiatan-kegiatan itu bisa sangat menyita waktu hingga untuk menulis pun sudah tak ada waktu lagi. Rutinitas penulis seolah tak ubahnya seorang artis yang sedang naik daun. Hmm, sepertinya menyenangkan, namun juga melelahkan. Serta, kadang juga agak menyebalkan. Termasuk pula, seorang penulis harus menjadi tahan akan segala kritikan dan tak lantas cepat berpuas kalau dipuji. Novel ini juga mengajarkan untuk tidak menyerah begitu saja apalagi bersembunyi di balik topeng mood. Sebagai seorang yang profesional, tidak lagi pada tempatnya ketika memiliki kewajiban (terikat kontrak) kemudian mangkir dengan dalih mati ide, lagi bete, sedang bad mood, dan alasan lain yang sejatinya hanyalah sekadar justifikasi keinginan untuk mangkir tersebut.

Setelah nyaris tak ada salah editan di buku ketiga seri Glam Girls - Rashi and The Clique, Unbelievable by Winna Efendi, ternyata kesalahan pengeditan tak lolos di novel Okke ini. Beberapa kesalahan teknis penerbitan tersebut antara lain:
Halaman 26: nama Fadly tertulis Fadil
Halaman 77: kata wajahku tertulis waahku
Halaman 287: .....meninggalkan rumah yang pernah kutinggali bersama Tasya, seharusnya ...bersama Genta.
Saya juga agak terganggu dengan gaya pelarian tokoh Senja yang apabila hilang konsentrasi memilih pelampiasan dengan merokok. Dan tidak sekadar merokok, tapi sudah masuk kategori ketagihan a.k.a perokok berat. Itu hak masing-masing sih, tapi kalau sudah menjadi media publik yang dengan gampang dibaca siapa saja (akui saja, sistem labeling apapun di Indonesia ini belum berfungsi dengan baik, tayangan televisi untuk dewasa tetap bisa diakses anak-anak, rokok yang hanya dapat dibeli orang dewasa juga bisa dengan gampangnya diperoleh anak-anak) sehingga rasanya kurang bijak mencuplikan adegan itu dalam media publik apapun. Mengapa sebagai penulis tidak juga ikut serta menyokong program-program pemerintah (bahkan dunia) yang memang bagus. Program Go Green misalnya, atau dalam kasus novel ini adalah Program Anti Tembakau. Coba saja, tokohnya dicarikan pelampiasan yang lain, yang efeknya tidak sebrutal efek rokok ini. Satu lagi, pengambilan porsi yang kurang bijak adalah (awas, spoiler/bocoran) pada bagian dimana Senja akhirnya bersedia tinggal satu rumah dengan Genta. Bukan bermaksud menyombongkan diri sebagai pemilik moral terbaik setanah air, hanya saja harusnya perlu pemikiran berjuta-juta kali untuk membuat scene seperti ini. Bagian inilah yang paling tidak saya suka dari novel ini. Dengungan kata "kumpul kebo" yang melintas ketika sampai part ini sungguh menggelisahkan saya. Oiya, jujur, saya juga membaca-cepat-sesekali-melompat-lompat pada konteks romansa dalam novel ini. Adegan ber-rating R-nya saya lewati dan babak keromantisannya tidak saya baca dengan saksama. Maklum, romansa macam begitu sudah bukan barang baru, hampir sama saja dengan romansa novel-novel lainnya. Maksudnye, gua udah gak sabar pengin tau gimana Senja bisa keluar dari jebakan writer's block-nya, getoo lohh.....hhihihihi

Kritik lain, yang mungkin tidak hanya saya tujukan bagi novel ini saja, adalah soal penggambaran tokoh-tokohnya. Sepertinya sudah menjadi pakem bahwa para tokoh novel-novel urban mostly almost perfect, khususnya di segi penampilan dan penampakan. Baik yang cowok maupun yang cewek. Pokoknya, impian banget dah! Tetapi, ironinya, tak jarang para penulis itu juga secara sadis menghadirkan tokoh antagonis (jahat dalam artian pelaku kriminal atau sekadar sebagai tokoh pengacau suasana) dalam penampilan yang amburadul. Contoh dalam novel Okke ini:
Halaman 124: ...Ia berkepala botak, berperut agak tambun, mengenakan kemeja berbahan halus mengilap, warnanya mencolok mata...dan seterusnya.

Halaman 125:...Melihat pakaiannya, ia seperti hidup di era dan tempat yang salah. Dengan wajah minim kosmetik, tunik putih berenda, rok berbunga, tas hobo, .....dan seterusnya.
Ini menurut saya yang menjadikan novel urban sebagai bahan cemoohan orang-orang yang menyebut diri mereka pecinta sastra. Bagi saya yang awam pun, situasi begini membuat novel-novel urban menjadi kelihatan tidak berbobot. Dan, bahkan pada satu atau dua novel yang pernah saya baca, saya menyebutnya novel munafik karena pada bagian tertentu, si penulis, baik melalui narasi maupun dengan jalur tokoh-tokohnya "menghina" sinetron di televisi kita yang katanya nggak berkualitas sama sekali. Namun, ironinya, justru novel-novel tersebut mengadopsi gaya-gaya sinetron itu. Yang paling kentara, tentu saja, deskripsi para tokohnya itu. Ataukah, pangsa pasar novel-novel urban ini, yang notabene mostly adalah perempuan, suka dengan segala khayalan yang kadang tak masuk akal ini, yang "memaksa" para penulis untuk menciptakan tokoh-tokoh sempurna macam ini? Kalau banyak yang mengatakan iya, maka abaikan saja keluhan saya ini. Dan, buat para penulis, silakan untuk tetap menghadirkan tokoh-tokoh sempurna itu demi memuaskan imajinasi para pembaca Anda.


Heart Block menyajikan konflik yang sederhana, ya seputar writer's block itu. Maka, saya jadi bingung sendiri kalau sekiranya ditanya, "...so, maksud dari heart block apa donk?", seriously, I dunno. Meskipun (awas, spoiler/bocoran) kisah cinta yang menjadi bumbu romansa dalam novel ini dikatakan adalah first love-nya Senja, saya tetap tak bisa mengaitkannya dengan istilah heart block ini. Hahahaha, kali ini saya benar-benar blank soal konektivitas antara judul dan isinya, kecuali kata block-nya. Namun demikian, secara keseluruhan saya bersyukur bahwa saya membeli dan merampungkan baca novel ini. Saya benar-benar mendapatkan kesenangan sekaligus tambahan secuil pengetahuan
(yang amat-sangat bermanfaat) seputar dunia kepenulisan dari karya paling anyar Okke ini. Thanks, Okke!

Okay, then, enjoy reading... people!

Sinopsis (dari situs gagasmedia.net - agak berbeda dengan yang ada di cover novel fisiknya)
Senja Hadiningrat tadinya bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa. Ia hanyalah seorang wanita yang suka sekali menulis dan bermimpi ingin menjadi penulis. Bermimpi untuk menelurkan banyak karya yang disukai orang-orang dan hidup hanya dari royalti hasil penjualan karya-karyanya itu.

Itulah impiannya, setidaknya untuk setahun lalu. Saat ini, Senja bukan lagi orang biasa. Ia telah menjadi penulis ternama melalui ajang Festival Penulis Indonesia 2008 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Nasional. Karya perdananya yang berjudul Omnibus sukses mengantarkan Senja menjadi pemenangnya.

Tidak dipungkiri, menjadi pemenang ajang bergengsi membuka jalannya menuju cita-cita yang pernah diimpikannya. Seiring dengan itu, kesempatan pun datang bak keran air yang baru saja dibuka. Sayangnya, kesempatan itu malah membuatnya tertekan. Seolah menulis bukan lagi satu cita-cita yang begitu ia dambakan.

Semua itu karena Tasya. Secara sukarela, kakak tirinya itu mengajukan diri untuk menjadi managernya. Hampir semua kesempatan yang datang, diterima Tasya tanpa persetujuan Senja. Bahkan, hadirnya novel kedua Senja yang berjudul Head Over Heels sangat jauh kualitasnya dengan Omnibus.

Tidak jarang Senja menemukan review berupa kritikan pedas dari pembaca Head Over Heels dan ini membuat mentalnya sebagai penulis baru jadi merosot. Nampaknya tekanan yang diberikan oleh Tasya, padatnya jadwal, dan macam-macam promosi, membuat Senja kehilangan semangatnya dalam menulis. Yap, saat ini ia terserang writer’s block!

Hanya satu yang ia butuhkan: BERLIBUR!

Bali menjadi tujuan Senja untuk mengisi waktu berliburnya. Di sanalah ia bertemu Genta Mahendra, seorang pelukis. Bersama Genta, Senja merasakan sesuatu yang berbeda. Ada getar yang menyelimuti perasaannya. Bahkan, bersama Genta pula, Senja menikmati ciuman pertamanya.

Selama Senja berada di Ubud, ia mencoba menikmati pengalaman barunya. Menikmati sunset di tengah-tengah hamparan sawah sambil meneguk segelas kopi panas adalah salah satunya. Namun, mengapa ide tidak kunjung datang juga.

Di saat seperti inilah, Genta mampu membuka pikirannya terhadap masalah yang sedang Senja hadapi. Dan tanpa sadar, Senja menemukan bentuk cinta yang selama ini ia cari. Tetapi, bagaimana dengan Genta, mengingat ia tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang cinta waktu bersama Senja?

Temukan jawabannya dalam novel terbaru Okke ‘Sepatumerah’ yang berjudul Heart Block. Novel terbitan GagasMedia ini bisa dibilang pengalaman yang pernah dialami oleh hampir semua penulis. Kebutuan menulis memang menjadi masalah tersendiri bagi penulis. Percaya atau tidak, di antara para penulis yang ada di dunia ini, tentu pernah melakukan apa yang Senja lakukan. Dirangkai dengan cerita cinta antara Senja dan Genta, novel ini lebih terasa mengasyikkan saat dibaca.

Saturday, December 26, 2009

Resensi Novel Glam Girls: Winna Efendi - Unbelievable

Semoga tidak ada dalam dunia nyata



Judul: Unbelievable
Series: Glam Girls (Rashi and The Clique) - 3th Book
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Tema: Friendship, Betrayal, School Life, Socialite
Tebal: vi + 262 halaman
Harga: Rp37.000 (Toko)
Rilis: Nopember 2009

Yah, jujur, sembari mengelus dada saya sangat berharap (berdoa dengan khidmat) cerita sebagaimana yang terdapat dalam buku ketiga dari seri Glam Girls-nya Gagas Media, tulisan Winna Efendi, ini tidak benar-benar terjadi di dunia nyata. Paling tidak, tidak terjadi di Indonesia. Semoga ini tetap menjadi dunia khayal hasil olahan imajinasi para novelis berbakat itu. Amiin.

Awal ketertarikan saya dengan seri Glam Girls (GG) yang dirintis oleh Gagas Media ini adalah "kemiripan"nya dengan serial remaja Amrik yang sempat pula saya sukai, Gossip Girl. Cerita dari sekumpulan remaja yang bersekolah di SMA elit di kawasan mewah dengan beragam intrik dan bumbu-bumbu penyedap yang membuat kepala geleng-geleng. Intrik pertemanan. Percintaan. Drama rivalitas. Pamer status sosial. Dan beragam tema penuh konflik yang kadang hampir-hampir tak pernah terlintas dalam benak saya. Membuat saya, paling tidak langsung mengucap syukur bahwa saya lahir, besar, dan hidup di Indonesia. Lucky me!

Menurut opini saya, Seri GG ini memang hampir mirip dengan serial yang diangkat dari novel seri berjudul sama karya Cecily von Ziegesar tersebut. Sekolah elite dan serangkaian cerita yang mirip dengan sinetron-sinetron bertema remaja SMA yang sempat booming di tanah air beberapa waktu silam menjadi setting utama-nya. Dari tiga novelnya yang sudah terbit, saya baru membaca buku pertama (Glam Girls by Nina Ardianti) dan buku ketiga (Unbelievable by Winna Efendi). Saya sempat mempertimbangkan untuk membeli buku kedua (Reputation by Tessa Intanya), namun saya kurang tertarik dengan gaya bahasa yang digunakan penulisnya ketika scanning sekilas dari buku contohnya, karena di bawah standar yang saya harapkan .

Kalau di buku pertama yang bercerita adalah seorang outsider cupu, Adrianna, yang berjuang untuk masuk ke dalam sebuah gang cewek populer (di sini disebut clique) nomor wahid di sebuah sekolah mewah di Jakarta, maka di buku ketiga ini yang bercerita adalah Maybella, salah satu anggota clique yang
dideskripsikan super feminim, model remaja yang sedang digemari, fashionista sejati, party girl, play girl, anak konglomerat, dan digambarkan sedikit bodoh dalam urusan akademis. Kalau kalian pernah menonton film-film semacam Mean Girls (Lindsay Lohan), Bring it On (Kirsten Dunst), atau The Hot Chick (Rob Schneider, Anna Faris), maka tokoh Maybella ini biasanya bertugas sebagai "gadis-tolol" pengundang tawa penonton. Ketika membaca Unbelivable, imajinasi saya tidak bisa jauh dari aktris Anna Faris (Hot Chick, Scary Movie, The House of Bunny) yang kerap melakonkan tokoh mirip Maybella ini.

Summary tokoh: Maybella (aku - clique member, model), Rashi (clique leader - anak konglomerat, pemilik blog fashion, memiliki fashion line sendiri), Adrianna (clique member - ikut ekskul sepak bola, masih gagap fashion, paling pintar secara akademis), Marion (clique member yang akhirnya dikeluarkan - punya rahasia besar untuk mengkudeta Rashi), Mario (serious love interest-nya Maybella), Arian (serious love interst-nya Rashi), Lukas (ex-Rashi yang masih ingin balik), Dico (rival Rashi yang pernah membuat blog untuk menjatuhkannya).

Dari dua buku dalam seri GG yang sudah saya baca, saya lebih menyukai Unbelivable. Glam Girls-nya Nina saya suka tapi menjadi terlihat biasa seusai saya merampungkan-baca novel ini, karena sudut pandang cerita yang digunakan Nina sudah kelewat sering. Pun dengan tokohnya yang banyak sekali padanannya, baik dalam cerita fiksi cetak maupun fiksi gerak (film dan televisi). Contoh: Lindsay Lohan dalam film Mean Girls, tokoh Jenny dalam seri Gossip Girl, Eliza Dushku dalam Bring it On, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sedangkan, sudut pandang seperti dalam Unbelivable ini jarang sekali diangkat, sebatas pengetahuan saya. Sebagaimana saya katakan sebelumnya, tokoh seperti Maybella ini biasanya hanya hadir sebagai pemanis belaka. Cenderung diperankan oleh aktris tidak terkenal yang cantik dan bertingkah konyol. Oh, ada satu sih, setahu saya dimana tokoh seperti ini menjadi tokoh sentral, ya...di film The Hot Chick yang diperanin ama Anna Faris.

Susah-susah gampang untuk menjaga konsistensi tokoh seperti Maybella ini. Dia harus berkesan tidak pintar tapi juga jangan kelewat bodoh. Dan, salute untuk Winna yang mampu mengawal Maybella untuk tetap konsisten hingga di penghujung cerita. Ada beberapa momen yang berpotensi menggoyahkan tokoh ini, namun Winna dengan piawai menuntun Maybella untuk melewati momen tersebut dan tetap menjadi Maybella.

Salute juga buat Gagas Media, yang akhirnya mampu menerbitkan buku yang nyaris tidak ada kesalahan cetaknya seperti Unbelievable ini. Nah sebenarnya kan bisa juga diminimalisir kesalahan seperti ini??? Semoga ke depannya para penerbit makin konsisten untuk juga memerhatikan mutu cetakan buku terbitannya.

Dari sisi tema sih, tidak ada yang baru. Kalau sering menonton film-film dan serial remaja cewek Hollywood, maka mungkin banyak yang akan berseru, "ah, novel ini nggak ada istimewa-istimewanya", so... saya tak akan men-judge temanya. Saya lebih concern pada upaya Winna dalam menghadirkan cerita yang sudah kelewat sering diangkat secara visual itu menjadi cerita tulisan yang mengalir lancar dan enak dibaca.

Secara keseluruhan saya cukup puas dengan novel ini. Hanya, saya sedikit keki dengan banyaknya prokem Amrik dan kalimat berbahasa Inggris dalam novel ini. Apakah novel-novel begini tidak boleh dinikmati oleh orang yang, maaf, belum ngeh dengan bahasa asing? Ataukah, novel-novel begini memang sengaja dikhususkan pada segmen pasar tertentu yang "terpelajar (ngerti bahasa Inggris)"?

Okeydoke, enjoy reading, people!!! (Maksud saya, selamat membaca kawan...)

Sinopsis (cover belakang)
In the world of popularity, being perfect is everything. Kamu adalah pusat perhatian, jadi pastikan kamu memang layak mendapatkannya.

Kamu juga harus mengerti, tujuan tampil sempurna adalah demi dibenci. Di dunia kami, dibenci dan dicemburui adalah sebuah pujian. So true, Dahling! Orang-orang seperti tak bosan bergosip tentang Paris Hilton, tetapi apa yang dia dapat di kemudian hari? Kontrak reality show sendiri dan signature perfume yang dijual ke seluruh dunia.

Cantik itu wajib hukumnya dan kesempurnaan adalah segalanya. Pastikan kau selalu tampil memesona dan bungkam mereka dengan senyuman terbaikmu. Satu kesalahan kecil saja--viola!--bibir-bibir ber-lipgloss itu pasti ramai menghabisimu....


P.S: blog Glam Girls here

Wednesday, December 23, 2009

Diskon 30% di Inibuku.com, Masih 2 Hari Lagi

Saya sudah agak lama tidak memanfaatkan on line bookstore untuk membeli buku-buku. Namun, saya punya sejarah menyenangkan berbelanja on line. Akan tetapi, saya sama sekali tidak ada tendensi untuk mengiklankan salah satu on line bookstore yang ada, hanya kebetulan saya mendapatkan promo dari salah satunya, jadi tidak ada salahnya menyebarkannya. Berikut adalah isi email yang masuk ke inbox saya.

m.inibuku.com - format khusus untuk dibuka di HP anda

***

Pelanggan inibuku Yth,

Dalam menyambut datangnya tahun 2010 dan meninggalkan tahun 2009, kami mengadakan Program Akhir Tahun dengan memberikan diskon 30% untuk buku-buku dari penerbit:

- Gramedia Pustaka Utama
- Serambi
- Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
- Penerbit Buku Kompas
- Matahati
- Atria
- Akoer
- Komunitas Bambu
- Diva Press
- Kantera Publisher
- Mahda Books
- Redline Publishing
- Litle Serambi
- Zaman

Program ini akan berlangsung hingga tanggal 24 Desember 2009.

Terima kasih dan Salam

--
www.inibuku.com

Selamat berbelanja!

Thursday, December 17, 2009

Premier Film Sang Pemimpi 17 Desember 2009



WOW...WOW....saya tidak berharap film ini menjadi demikian indah. Frankly, I am totally speechless about this movie. Just, WOW...WOW....5 stars for this adaptation movie based on novel kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi berjudul Sang Pemimpi. Jujur pula, saya bukan penikmat karya Andrea Hirata (hanya baru baca separuh kurang sedikit dari buku pertamanya, Laskar Pelangi). Tetapi, film ini sungguh memikat hati saya. Bagi Anda para penikmat tetralogi yang fenomenal itu, jangan lewatkan sensasi Novel kedua yang difilmkan ini di bioskop...so amazin'

Catatan: salah satu film Indonesia yang semua figur (aktor, aktrisnya) bisa berakting dan sangat natural. Two thumbs up buat yang memerankan Pak Mustar, Nugie sebagai Pak Guru Balia, dan yang memerankan Arai. Tentu saja Rieke Dyah Pitaloka dan Mathias Muchus adalah aktor yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. TOP!

Okey, selamat menonton.

Di bawah ini adalah trailer resmi dan video klip soundtracknya, Sang Pemimpi by Gigi

Official trailer



Video Klip


Saturday, December 12, 2009

Resensi Novel Chicklit: Eni Martini - Kontrasepsi

Bagus Tapi Jelek!!!



Judul: Kontrasepsi (Andai bahagia bisa dirancang dengan sempurna)
Penulis: Eni Martini
Penerbit: Gagas Media
Tema: Dewasa, Perencanaan Keluarga, Rumah Tangga
Tebal: x + 250 halaman
Harga: Rp34.000
Rilis: 2009 (Nopember/Desember)

Pertama: Gagas, FIRE YOUR EDITOR. PECAT! SEKARANG! Cari yang baru. Yang benar-benar mengerti bagaimana kerja seorang editor. Jangan pekerjakan saya, karena saya juga tidak tahu bagaimana kerja seorang editor. Sebagai pembaca, saya hanya sangat kecewa dengan kinerja editor sehingga sangat menganjurkan agar GagasMedia menggantinya, secepatnya. Novel Eni ini menjadi salah satu novel dengan kerja editan yang menurut saya kacau. Saya ulangi...KACAU! BALAU! Duh, rasanya beberapa waktu belakangan saya sudah mulai tidak cerewet lagi soal editan sebuah buku. Meskipun masih melontarkan satu-dua kritik, tapi hanya karena satu-dua lipatan kerut dahi saya saja (baca - migrain karena editan yang asal-asalan), dan baru sekarang lagi saya harus dibuat geregetan (pengen-nelen-biji-kedondong) gara-gara buku yang parah sekali editannya. Salah ketik, salah penempatan tokoh, salah sebut nama tokoh, salah tanda baca (kurang pas), dan cara penyajian dialog yang amburadul, membuat saya sakit kepala. Ya ampuuunnnnnnnnnnn.....cape' deh... Eh, tapi buktinya mana? Biasanya lo kasih tuh yang salah sebage contoh. Kali ini tidak ada contoh, sangking banyaknya kesalahan, saya jadi malas menuliskannya di sini.

Kedua: jauhkan novel ini dari jangkauan putra-putri, ponakan, atau adik Anda yang masih di bawah umur. Seharusnya, GagasMedia memberikan label adult (dewasa) untuk novel ini. Meskipun di Indonesia, pe-label-an seperti itu seolah tidak ada gunanya, paling tidak masih ada effort dari penerbit untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Novel ini penuh dengan konten yang menurut saya hanya cocok untuk orang dewasa (adult only). Penyebutan alat kelamin, beragam jenis alat penunda kehamilan, serta penyebutan hubungan intim di dalamnya, menurut saya sangat tidak layak dikonsumsi bagi yang belum cukup umur. Sekali lagi, JAUHKAN NOVEL INI DARI JANGKAUAN ANAK-ANAK!!!

Sebenarnya novel ini cukup bagus, kalau boleh dipuji, novel ini bisa dijadikan sarana pemberian edukasi tentang rumah tangga bagi pasangan muda yang baru menikah dan menjelang punya momongan. Namun demikian, segala macam pemikiran penulis yang tertuang di sini, apabila benar-benar ingin diaplikasikan harap untuk dikonsultasikan terlebih dahulu dengan ahli atau kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, karena segala informasi yang terselip di sini tidak disertakan dengan sumber ilmiah yang cukup dan akurat, sehingga kurang bisa terjamin validitasnya. Jangan sampai Anda salah mengimplementasikan selipan informasi yang disampaikan oleh penulis melalui tokoh-tokoh rekaannya ini.

Ketika kali pertama
melihat novel ini di toko buku saya sekejap mengerutkan kening dan berujar pelan pada diri sendiri, "bedanya ama Test Pack-nya Ninit Yunita apa ya?", sayang...ternyata saya agak lupa jalan cerita novel Ninit itu. Maka, saya tak bisa membandingkan kedua novel fiksi itu. Yang jelas, Kontrasepsi-nya Eni juga lumayan bagus kok, terutama dari segi tema, penokohan, dan pemberian konflik yang warna-warni.

Summary tokoh: Moza (ibu dari Kinan dan Gibran - penulis yang ibu rumah tangga), Didit (suami Moza), Keira (pemilik toko kue, ibu dari Queen yang lahir prematur), Ve (suami Keira), Neyne (fotografer, study ke Paris, keguguran), Thomas (partner Neyne), Sandra (relasi Moza), Nathan (ex-Neyne).

Dari segi gaya bahasa sih standard novel chicklit atau novel metropop lain, tidak ada yang istimewa. Terkadang juga agak membosankan karena konflik hanya berputar di masalah pilih-pilih alat kontrasepsi. Memang fokus dan sesuai dengan garis besar yang ingin dipesankan oleh sang penulis, tapi...ya itu tadi, menjadi agak boring. Maybe karna lo cowok??? Bisa jadi.

Tak banyak yang bisa saya komentari dari novel ini kecuali "kekesalan" saya pada banyaknya kesalahan yang lolos dari mata editornya (padahal dua orang). Duh!!!

Anyway, enjoy reading, people!

Sinopsis (cover belakang)
Cemburu adalah dosa yang paling rentan dialami perempuan. Uniknya, perasaan itu justru tumbuh saat berinteraksi dengan sesama kaumnya.

Lihat saja Moza. Meskipun tampak bahagia-bahagia saja dengan kehidupan pernikahannya, diam-diam Moza menyimpan iri hati yang besar terhadap Neyne, sahabatnya yang masih melajang.

Neyne selalu berkoar-koar tentang enaknya hidup single. Tapi kenapa dia tak bisa menyembunyikan perasaan cemburunya ketika Keira dilamar sang pacar?

Keira lain lagi ceritanya. Dia salut melihat Moza yang begitu kekeuh menjalani tanggung jawab sebagai ibu. Dia sendiri juga pengen punya anak... suatu hari nanti-entah kapan.

Dan ketika belakangan ketiganya dihadapkan kepada situasi yang melibatkan alat kontrasepsi, tiba-tiba rasa cemburu itu terasa tak perlu....

Sunday, December 6, 2009

Resensi Novel Metropop: Evy Ervianti - If

Andai saja "pujian-pujian" tidak se-berlebihan itu



Judul: IF
Penulis: Evy Ervianti (evy_if@yahoo.co.id)
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tema: Cinta Terlarang, Olahraga Beladiri, Cinta Bersegi, Persahabatan
Tebal: 240 halaman
Harga: Rp40.000
Beli online di inibuku (dicount 15%): Rp34.000
Rilis: Oktober 2009 (cet. 1)

Saya dulu, sampai sekarang juga masih, ingin membuat sebuah novel yang berlatar belakang sesuatu yang saya senangi dan membekaskan kesan yang cukup dalam. Klub ekskul Pramuka. Selain karena kesan, saya juga ingin membuat novel itu berguna secara langsung. Mungkin, bahkan, novel saya bisa menggantikan buku saku Pramuka yang merupakan buku "wajib" dibawa bagi setiap anggota Pramuka sebagai panduan dalam bertindak. Novel tersebut saya istilahkan sebagai Novel Edukasi. Buku fiksi yang memberikan pelajaran nyata. Sayang sekali, impian hanya lah sekadar impian. Sampai dengan saat ini, saya malah tak mampu menetaskan telur imajinasi saya tersebut.

Novel metropop bertajuk IF karya Evy ini dapat saya katakan hampir mendekati istilah Novel Edukasi yang saya sebut tadi. Menurut sang penulis, inspirasinya muncul begitu ia menyenangi Kempo,
"Aku kenal kempo tiga bulan saja saat maba (mahasiswa baru) harus pilih ekskul. Kesasar di kempo, tapi jadi membekas di hati karena filosofinya yang agung. Tidak aku lanjutkan, karena terhalang kuliah anatomi, histologi, fisiologi dll., yang bikin klenger. Selanjutnya lebih senang jadi pemerhati Kempo yang bercita-cita ingin membuat cerita berlatarbelakangkan olahraga itu,"
begitu tulis Evy di halaman about me, di bagian akhir novelnya. Sejauh yang saya tangkap, malah, jangan-jangan ini benar based on true story-nya Evy sendiri semasa kuliah dulu?? Kempo dan kedokteran adalah dua realita yang benar-benar
pernah ia jalani. Jadi apakah suaminya yang sekarang ini bernama Mas Firman?? Penasaran mode =on. *toeng-toeng-toeng*

Awalnya saya sudah hampir memasukkan novel ini ke "Cancelled-List" saya, yaitu daftar novel-novel metropop yang saya tunda membeli-membacanya karena kurang tertarik. Jujur, front cover nya sungguh biasa saja. Kurang impresif. Mungkin, inilah saat yang tepat untuk saya mempercayai pepatah, "don't judge book by its cover," karena, well, untuk novel debutan, IF cukup layak untuk dikoleksi, especially bagi pecinta novel metropop.

Saya memang tidak akan memuji IF sebagai novel debutan yang "excellent" sebagaimana saya sematkan pujian tersebut untuk novel debutan Ika Natassa, A Vey Yuppy Wedding, yang masuk dalam Top Ten Favorite Books List saya. Enak dibaca, iya. Cerita mengalir lancar, iya. Menambah pengetahuan baru, iya (saya jadi tahu soal Kempo). Namun, di akhir novel, saya hanya bisa bergumam, "hmm....not bad," yang saya artikan sebagai, "sebenarnya cerita bisa lebih seru dan lebih hidup lagi nih." Entahlah, saya merasa ada beberapa part yang bisa diberikan sentuhan lain sehingga cerita bisa mengalir lebih natural dan tidak terkesan "fiksi" banget (ngayal buangeedd geetoh).

Saya memaklumi bahwa pepatah Jawa mengatakan, "witing tresno jalaran soko kulino (mulanya/tumbuhnya cinta karena terbiasa)," terkadang ada benarnya. Tetapi, ya mosok, terus cinta hanya berkutat di lingkungan itu-itu saja. Mungkin bermaksud fokus, tapi malah sedikit membosankan bagi saya. Agak kurang berwarna. Seperti IF ini. Hampir beberapa tokoh yang hadir ada sangkut pautnya dengan Kempo. Ya...cowok pujaannya, ya...cowok penggantinya, ya...adik cowoknya, ya...teman-temannya, semua-muanya berpredikat kenshi (sebutan untuk penggelut seni beladiri Kempo). Bukan mustahil, memang. Hanya saja, menurut saya, ya...itu tadi, agak boring jadinya. Ketemu sama orang yang itu-itu saja. Masih syukur ada tokoh "calon-suami-batal"nya yang di luar lingkup Kempo, meskipun agak lebay ketika si penulis justru membuat tokoh ini agak anti-Kempo. Saya jadi membayangkan bagaimana situasi akan menjadi lebih menggiurkan kalau saja calon-suami-batal ini juga tak masalah dengan Kempo, sehingga daya saingnya dengan cowok-obsesi si tokoh utama menjadi lebih kuat. Aroma konflik pasti lebih tajam, dan diharapkan lebih memikat.

Summary tokoh: Kika (kenshi/sekolah dokter - aku), Widhi (kenshi/calon dokter - cowok obsesi Kika), Mas Ari (calon dokter - pacar/calon suami pilihan tantenya), Tante Rina (dokter - tante Kika), Dr. Bangun Prasojo (dokter - Oom Widhi), Nina (kenshi/teman kuliah kedokteran - teman dekat Kika), Mas Firman (kenshi/calon dokter - kakak Nina), Lena (istri Widhi).

Selain homogenitas latar belakang tokoh-tokohnya, yang agak mengganggu dari jalinan cerita buatan Evy ini adalah keinginannya untuk menunjukkan pada siapapun, terutama orang yang di luar lingkup Kempo, bahwa seni beladiri ini menjunjung filosofi-nya yang agung (halaman 18: Perangilah Dirimu Sendiri Sebelum Memerangi Orang Lain serta Kasih Sayang Tanpa Kekuatan Adalah Kelemahan, Kekuatan Tanpa Kasih Sayang Adalah Kezaliman). Saya sendiri terkesan dengan filosofi tersebut, namun semua menjadi blunder ketika penulis juga "memaksakan" untuk mengagungkan para "kenshi"nya. Beberapa kali penulis (diwakili tokoh aku) melontarkan keyakinan bahwa "Kenshi itu begini, Kenshi itu tidak mungkin begitu." Mengapa saya sebut blunder, ini murni analisis pribadi saya, karena plot berikut, (spoiler alert) Kika yang sadar dirinya tidak mencintai Mas Ari justru berlagak mencintainya selama kurang lebih 2 tahun (apakah itu bukan berarti dia sedang melakukan kebohongan?) Kika yang sudah terikat status "pacar" Mas Ari justru bermain api dengan tidak membasmi benih cinta yang tumbuh dari hatinya kepada Widhi, begitu pula Widhi yang tidak tegas terhadap Lena dan justru menyambut "bara-api-pengkhianatan" yang disodorkan oleh Kika? Saya melihatnya ini, justru "menghantam" keagungan kenshi yang oleh penulis digembar-gemborkan. If (mengutip judul novel ini) penulis tidak memaksakan diri untuk juga mengagungkan orang-orangnya (kenshi-nya) saya akan lebih mengapresiasi novel ini. Saya lupa, apakah ada bagian yang menyadarkan bahwa "kenshi juga manusia (yang lemah)" yang bisa jatuh tersungkur dikontrol hawa nafsu, sehingga tak kuasa menolak hal-hal tersebut. Sungguh, bagi saya ini adalah bumerang yang berputar-melayang-menghantam kembali pada keagungan filosofi Kempo itu sendiri.

Oiya, satu lagi yang agak annoyi
ng. (spoiler alert) Entah, berapa kali (sering pokoknye), adegan saling melirik jemari antara Kika - Widhi setiap bertemu (sehabis liburan bersama ke Thailand) untuk melihat apakah masing-masing masih mengenakan cincin kenangan itu atau tidak. Bagi saya, sesuatu yang berulang kali diceritakan, dengan kemasan yang kurang pas, bisa menjadi membosankan, karena setiap adegan itu diulang saya akan langsung menebak, "oh, pasti mau menceritakan soal itu...nah, benar kan?", dan maaf-maaf saja, saya juga tak begitu menyukai usaha Evy menampilkan adegan tersebut berulang-ulang di dalam IF ini.

Sekadar opini: (spoiler alert) Bab 1 berhasil menyemaikan bibit curiosity (penasaran) saya, scene kucing-kucingannya Kika untuk bisa bertemu dengan cowok obsesinya benar-benar membuat saya berdebar-debar, meskipun ada juga adegan "klise-gampang-ditebaknya". Bab 2 menghancurkan imajinasi saya untuk tetap menyimpan rasa penasaran akan obsesi Kika pada cowok misterius tersebut. Atas nama "kebetulan" akhirnya Kika dan cowok itu dipertemukan dalam sebuah paket liburan ke Thailand yang, hmmm....kurang bisa memvisualisasikan pesona Thailand yang kesohor itu. Apakah ada yang pernah membaca Lelaki Terindah-nya Andrei Aksana, saya lebih bisa membayangkan keindahan Thailand dalam novel-nya Andrei itu ketimbang novel-nya Evy ini. Bagi saya, visualisasi yang berhasil jelas sangat saya nantikan ketika saya membaca buku yang mendeskripsikan suatu daerah yang tidak (belum) pernah saya datangi/kunjungi. Biar saya punya imajinasi untuk bermimpi, gitu maksudnya.

Inti cerita (mulai saat ini saya tidak akan mengomentari lagi soal status kekinian dari tema, karena sudah sangat jarang sekali buku baru mengupas tema yang berbeda, yang paling penting adalah kemasannya, apakah penulis berhasil mengemas tema yang diangkatnya menjadi tulisan yang enak untuk dibaca): kasih tak sampai, pertanyaan tentang kesetiaan, perlukah memperjuangkan cinta sejati, sampai dengan pertanyaan pokok yang diambil sebagai judul novel ini, yaitu IF - Bila - Jika - Kalau Saja - yang adalah pengandaian. Bagi umat muslim pemikiran pengandaian adalah sebuah pemikiran yang dilarang - tidak disukai Alloh. Terkesan tidak pernah bersyukur atas segala karunia yang diberikan-Nya. Semoga hanya saya saja yang berpikiran sampai ke sini, agar tak mengganggu kenikmatan membacanya, iya...ini kan cuman nopel, plis dech...ga perlu seserius itu kaleeee.......

Bobot utama novel ini adalah terletak pada subjek Kempo yang menjadi latar belakang keseluruhan cerita. Beberapa istilah Kempo bertaburan hampir di sepanjang cerita, semisal: kenshi, dogi, dojo, randori, embu, dan sebagainya. Meskipun tidak sampai memberikan detail teknik-teknik ber-Kempo, namun Evy cukup berhasil menyajikannya sehingga beberapa teman jejaring sosial saya sampai berkomentar jatuh cinta pada kempo gara-gara novel ini. Dan, saya pribadi, meskipun tidak berminat menggeluti Kempo juga sudah cukup merasa gembira dengan pengatahuan baru tentang Kempo yang ditampilkan Evy dalam novel debutannya ini.

Overall...yah, not bad lah untuk ukuran novel debutan. Semoga untuk karyanya yang mendatang, Evy lebih bisa mengeksplorasi kemampuan menulisnya. Amiiinn...

Enjoy reading, people!

Sinopsis (cover belakang)
Buat Kika, Kempo adalah olahraga beladiri yang sudah menyatu padu dalam dirinya. Filosofinya yang agung sudah begitu tertanam dalam sanubari. Berkat Kempo pula Kika mengenal sebentuk cinta yang lain. Cinta yang tak terduga, yang seharusnya tidak boleh dia punya. Cinta yang seharusnya tidak dia berikan begitu nyata pada seorang kenshi bernama Widhi.

Bila, kemudian cinta begitu menguasai diri... akankah sebentuk hati hanya menjadi budak sebuah obsesi?

Bila, dalam perjalanannya cinta telanjur diikrarkan... akankah bisa dipersatukan?

Bila, akhirnya cinta menjadi hal yang terlarang... akankah Kika dan Widhi berserah diri atas nama cinta?


Sinopsis (website Gramedia version)
Kika, seorang dokter muda, jatuh cinta pada cowok yang sering dilihatnya di toko buku pada hari Jumat sore. Itulah sebabnya setiap Jumat dia menyempatkan diri ke sana, untuk membeli buku, sekaligus melihat cowok dambaannya.

Ternyata Tuhan mengabulkan keinginannya. Kika bisa berkenalan dengan cowok tersebut, Widhi namanya, dalam situasi yang tak diduganya. Widhi adalah dokter spesialis muda, keponakan dosen Kika.

Cinta bersemi di antara mereka ketika keduanya memperoleh kesempatan mengikuti rombongan dokter yang akan mengikuti seminar ke Thailand. Mereka berdua sangat cocok. Apalagi keduanya menggeluti hobi yang sama, yaitu olahraga kempo.

Namun cinta mereka terhalang dua tembok kukuh. Kika telah dua tahun dijodohkan oleh tantenya dengan Ari, yang ternyata juga mengenal Widhi. Sementara Widhi sedang menjelang pernikahannya dengan Lena.

Sebetulnya Widhi ingin sekali menikah dengan Kika, asal Kika mau meninggalkan Ari. Tapi bukan itu masalahnya. Bagi Kika, kalau itu dia lakukan maka dia akan menghancurkan hati seorang wanita lain.

Namun ternyata hidup tak selalu sesuai keinginan. Hubungannya dengan Ari putus, sementara Widhi sudah menikahi Lena. Namun di tengah kesedihannya, Kika memperoleh sebentuk cinta yang dewasa, cinta dari seseorang yang telah lama menunggunya....

Sunday, November 29, 2009

Resensi Novel Chicklit: Meiliana K. Tansri - Konser

Cinta membutuhkan pengorbanan.



Judul: Konser
Penulis: Meiliana K. Tansri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tema: Cinta terlarang, Keluarga, Perjuangan, Pengorbanan
Tebal: 296 halaman
Harga: Rp40.000 (Harga Toko)
Rilis: Agustus 2009

Sudah lama sekali saya tidak membaca novel romantis yang menggunakan kata-kata baku sesuai EYD. Hahahaha.... Yah, harap maklum saja, terkadang novel-novel metropop memang tampil dalam kemasan penuh bahasa prokem, yang menjadi daya tarik pemikatnya, yang berhasil memikat saya. Maka, terasa sangat berat bagi saya menyusuri liku-liku terjal plot yang dibangun Meiliana dalam novelnya ini. Entahlah, bagi saya novel ini memang agak sedikit nyastra (dalam hal tata bahasa). Dan, memang agak berat isi kandungannya.

Membaca Konser, saya seperti membaca novel-novel karangan beberapa penulis angkatan lama, semisal Mira W., Marga T., ataupun Maria A. Sardjono. Sangat old fashioned. Namun, yang patut diacungi jempol adalah Meiliana menghadirkan konflik yang dekat sekali dengan keseharian. Jadi, meskipun melayang-layang dengan gaya bahasa langitan dan pilihan diksi yang mengagumkan, novel ini tetap membumi berkat konflik itu.

Membaca buku sekaligus berharap dapat membuat resensinya dan mempostingnya di blog rasanya menjadi agak bertimpangan belakang ini, bagi saya. Dulu (sebelum memutuskan membuat blog resensi), saya menikmati membaca buku tanpa tendensi apapun. Saya baca karena saya suka. Kalaupun di akhir halaman, saya mencaci atau memuji (memberikan penilaian terhadap buku), itu murni sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan atau kegagalan penulis "memanjakan" imajinasi saya. Akan tetapi, belakangan saya mulai terkontaminasi dengan segala hal tentang "penghakiman" dari setiap buku yang saya baca bahkan sejak dari lembar pertamanya. Pilihan diksi, plot, karakter tokohnya, gaya bahasa, hingga editan-nya sudah saya korek-korek dan saya cari dimana letak salahnya dari awal saya membaca. Akumulasi dari semuanya, tak jarang saya enggan mengakui keunggulan-keunggulan nyata yang ada dalam buku tersebut. Menyedihkan sekali saya!

Termasuk pula ketika saya mulai membaca awal kisah racikan Meiliana yang berlatar panggung dunia seni musik klasik ini. Saya memulainya dengan, "Okay, apa yang tak benar dari novel ini?", dan karenanya saya tercekik rasa benci untuk menyadari bahwa novel ini bertabur keindahan. Saya sempat menghujat bahwa Konser terlalu puitis, terlalu tinggi bahasa, terlalu ini, terlalu itu...dan terlalu lainnya. Padahal, pada kenyataannya secara sadar atau tidak saya sudah terseret begitu jauh dalam cerita novel ini. Dan, pada akhirnya saya dengan tulus (tanpa paksaan) mengangguk takzim dan memuji, "Ya, novel ini memang bagus (sekali)."

Secara jujur, saya sangat menikmati membaca novel ini. Dan, saya tak ragu untuk menganjurkan bagi siapapun yang belum membaca silakan segera membacanya. You'll love it like I do, I promise.

Ceritanya sendiri tak jauh seperti halnya galian cerita pada novel-novel yang lainnya. Bukan tema baru, untung background dunia seni musik klasiknya cukup membantu mengemas cerita menjadi sedikit berbeda dibanding novel lain. Cinta terlarang. Cinta berjurang usia (tokoh perempuan digambarkan berumur 18 tahunan sedangkan tokoh laki-lakinya dideskripsikan 20 tahun lebih tua). Cinta terpaksa. Tragedi dibangun dari situasi yang serba berpagar, penulis seperti sedang mengajukan sebuah pertnayaan,"Apakah pagar larangan ini harus diterobos demi sebentuk cinta sejati?"

Meiliana berhasil mengocok emosi saya lewat kisah tragis-manisnya ini, meskipun tak sampai membuat saya tercekat dan menitikkan air mata. Tak kurang-kurang saya seolah terlibat dalam beragam konflik yang dibangunnya. Seolah saya menjadi salah satu tokoh di dalam novelnya itu. Meksipun hanya tokoh pinggiran yang bertugas menonton adegan demi adegan yang dimainkan dengan sempurna oleh para aktor-aktris utamanya. Menakjubkan. Meskipun demikian, pada saat-saat tertentu saya juga mendapati memang cerita yang dibuat Meiliana agak-agak terlalu sinetron, sedih berkepanjangan dan tangis-tangisan. Hmm, tapi masih lumrah dan berlalu mulus karena ditangani dengan tepat dan serius. Bukan sengaja dilebih-lebihkan.

Seperti ketika membaca novel apapun, saya juga berusaha menebak-nebak alur Konser ini. Sayang, beberapa kali tebakan saya meleset. Salah satu yang sangat jauh melenceng adalah tokoh Sastro, si pengagum barang-barang antik yang di paruh awal novel menyelamatkan Kirana (tokoh utama) namun juga "dikondisikan" (paling tidak saya menduganya begitu) sebagai tokoh yang patut dicurigai sebagai tokoh antagonis dalam novel ini. Nyatanya, tebakan saya meleset. Hal tersebut yang membuat saya makin menikmati sajian istimewa Meiliana dalam Konser megah rekaannya ini.

Oya, mengapa Konser menjadi benang merah sehingga diangkat menjadi judul novel ini? Sejauh yang saya tangkap, dari konser inilah kisah cinta terpaksa Jafar (tokoh utama) dengan Elise (tokoh pendamping perempuan) terjalin, dan berkat konser pula ia bertemu dengan Kirana, meskipun berkat konsernya pula ia kehilangan Kirana yang ternyata mulai jatuh cinta pada Sastro. Namun, tak jadi soal karena berkat konser pula Jafar menyadari bahwa ketulusan cinta Elise seharusnya tidak ia sia-siakan. Mungkin saja kalau ia tidak terlambat menyadarinya, ia tak harus merelakan Elise dan calon putrinya pergi secepat itu.

Salut pula, untuk cetakan dan editan-nya, rasa-rasanya saya tidak menemukan ada kesalahan.

Okay, enjoy reading, people!

Sinopsis (cover belakang)
Fajar, pianis andalan Simfoni Bintang, sangat berambisi mengadakan konser tunggal. Sayangnya, dari segi finansial sangat tidak mungkin. Karena itu dia merasa seperti mendapat durian jatuh ketika Elise, putri seorang konglomerat, jatuh cinta padanya. Mereka pun menikah: Elise yang mencintainya dengan sangat tulus, Fajar yang berharap mertuanya akan membiayai konsernya.

Namun skenario Tuhan berjalan ke arah lain. Setelah menikah, Fajar menemukan cinta sejatinya di orkestra tempatnya bekerja. Gadis belia itu, Kirana, datang dengan keluguannya yang memesona, dengan gesekan biolanya yang menjadikannya bintang simfoni sekelas Fajar dalam sekejap.

Fajar pun bimbang, dia ingin meninggalkan istrinya, melupakan konser yang sudah di ambang mata, demi mengejar cintanya pada Kirana. Namun Elise tahu dan tidak rela melepas suaminya. Dia bertekad mempertahankan rumah tangganya, walaupun berarti mengorbankan nyawanya sendiri....

Resensi Novel Teenlit: Meg Cabot - The Mediator (BUku 1) dan Ally Carter - The Galllagher Girls (Buku 1 & 2)

Konyol. Segar. Menyenangkan.

Meg Cabot Ally Carter

Hmm, yang begini ini yang harus dipunyai oleh para penulis teenage literature (a.k.a teenlit) dalam negeri. Tapi, saya tak akan men-judge karena selain beberapa teenlit favorit dari penulis tertentu dan yang kebetulan membuat saya tertarik, saya sudah lama tidak secara random membeli dan membaca novel teenlit. Bukan faktor malu, karena usia dan gender tidak selaras, namun lebih kepada tema dan gaya menulis yang begitu-begitu saja. Akan tetapi, saya tekankan sekali lagi, karena sudah lama tidak membaca teenlit, saya kurang tahu bagaimana perkembangannya. Apakah semakin baik, tetap, atau bahkan turun. Yang jelas, saya berharap dunia teenlit lokal tetap hadir dengan beragam tema dan kemasan yang terus berkembang.

Entah karena kebetulan yang terbit dan diterjemahkan di Indonesia adalah teenlit yang berkualitas dan sukses secara komersial di negara asalnya, beberapa teenlit mancanegara memang terkesan lebih beragam meskipun dengan tema yang mulek di situ-situ saja tetapi berhasil diberikan sentuhan yang menyegarkan. Belum lagi, biasanya novel terjemahan hasil tulisan penulis luar negeri memang cenderung memperhatikan detail sehingga dari semua unsur aksesoris dan karakter para tokohnya demikian hidup dan menjadikan kegiatan membaca teenlit seumpama membaca novel biasa saja (bukan novel yang "dikhususkan" untuk para remaja)

Teenlit terjemahan yang saya baca terakhir ini adalah serial The Gallagher Girls-nya Ally Carter (Buku 1 dan 2) dan serial The Mediator-nya Meg Cabot (Buku 1). Khusus Meg Cabot yang populer (dan saya rasa menjadi salah satu pioner lahirnya novel teenlit) lewat seri Princes Diaries-nya memang menjadi salah satu novelis luar favorit saya. Saya memang tidak membaca seri Princes Diaries-nya (kalau ini saya sungguh tak tega membacanya, saya cowok dan saya sudah berumur), tapi saya sudah menonton dua film dari cerita yang ditulisnya (yang dibinangi Anna Hathaway itu). An American Girl adalah novel Meg pertama yang saya baca, kemudian berlanjut ke Ready or Not (sekuelnya) dan Teen Idol. Jujur, gaya menulis Meg memang menyengarkan dan penuh kejutan. Sangat menantang.

Ally Carter dan Meg Cabot dengan novel masing-masing sungguh memberikan kenikmatan tersendiri dalam membaca novel. Tentu saja, kredit tetap saya tujukan bagi penerjemahnya yang berhasil mengkonversi bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dengan cukup bagus (sangat bagus, kalau boleh memuji). Lewat bantuan terjemahan mereka lah saya bisa dengan leluasa mencicipi legitnya hidangan Meg dan Ally.

Ally Carter - The Gallagher Girls

Awal ketertarikan saya membeli dan membaca teenlit ini adalah judulnya yang panjang dan menggelitik. Buku pertamanya diberi judul I'd Tell You I Love You, But Then I'd Have To Kill You (aku mau saja bilang cinta, tapi setelah itu aku harus membunuhmu), sedangkan buku kedua dilabeli Cross My Heart and Hope To Spy (Sumpah, Aku Mau Banget Jadi Mata-mata). See? Panjang dan unik, kan??

Apakah judulnya yang unik itu sesuai dengan "kebagusan" isinya? Bagi saya... iya, kalau tidak kenapa sampai saya membaca sekuelnya dan sekarang sedang (tak sabar) menunggu sekuel berikutnya? Yeah, bagi saya pribadi, teenlit ini memang cukup segar, ringan, dan unik. Background ceritanya adalah dunia mata-mata yang kalau selama ini kita lihat lebih "dikuasai" oleh laki-laki. Lihat saja film berlatar FBI, CIA, atau film-film semacam James Bond, The Bourne trilogy, Johny English, Triple X (XXX), kebanyakan yang menjadi jagoan adalah laki-laki, walaupun dalam cerita tetap ada agen perempuannya. Sementara, meski film-film seperti Alias, Charlie's Angels, atau Tomb Raider, yang telah menempatkan seorang perempuan sebagai pusat cerita tetap belum dapat mengubah anggapan umum bahwa yang "pantas" menjadi mata-mata adalah laki-laki. Hanya, laki-laki.

Nah, Ally Carter menghidupkan tokoh Cameron "Cammie" Morgan yang ceritanya tidak setuju dengan anggapan tersebut, bahwa perepuan juga bisa menjadi mata-mata yang andal, bahkan lebih andal dari mata-mata laki-laki. Serial ini mengeker kegiatan dan petualangan Cammie dalam dua sisi, sebagai calon mata-mata tangguh dan gadis remaja yang tak tahu apa-apa tentang cowok. Pada buku pertama, Ally memperkenalkan kita pada Cammie dan "sekolah"nya. Juga teman-teman sekolahnya dan orang tua tunggalnya (ibu - Rachel Morgan) yang kebetulan adalah mantan agen rahasia dan sekarang menjadi kepala sekolahnya. Sedangkan, dalam buku kedua, diceritakan tentang misteri ada tidaknya sekolah mata-mata lain selain sekolah Gallagher, lebih-lebih sekolah mata-mata yang khusus cowok? Dalam beberapa hal saya membandingkan gaya Ally dengan Ken Terate, salah satu penulis teenlit lokal favorit saya, untuk kepiawaian mereka berimprovisasi dengan majas hiperbola. Kalimat-kalimat lebay yang diciptakan Ally justru membuat cerita menjadi demikian menarik untuk terus diikuti, dan tentu saja membuat geli. Lucu, mungkin kata yang tepat.



Ringkasan buku 1: memperkenalkan pada tokoh Cammie, sekolah "khusus"nya, ibunya, guru baru pelajaran Operasi Rahasia-nya yang tampan namun galak (Joe Solomon), teman-temannya (Liz dan Bex), teman barunya yang sombong minta ampun namun justru di akhir kisah melengkapi gang-nya (Macey), dan pengalaman ciuman pertama (sekaligus rasa suka) Cammie pada makhluk yang dikenal dengan sebutan cowok, Josh. Petualangan cewek-cewek itu dibuat lebih seru dengan beragam atribut detektif slash agen rahasia slash mata-mata. Bagaimana demi mengetahui apakah aman jika Josh mendekati Cammie, mereka harus menyelidiki sampah keluarga Josh dan mengamati kehidupan Josh selama beberapa saat. Pada detail-detail petualangan itulah Ally membuatnya sedemikian rupa sehingga menjauhkan kesan bosan mengikuti alur cinta monyet anak-anak usia belasan. Meskipun, ending-nya agak kurang gereget, buku pertama Ally ini sudah cukup meyakinkan saya untuk terus mengikuti lanjutan kisah berikutnya.

Sinopsis (cover belakang)
Cammie Morgan mungkin cewek genius, menguasai empat belas bahasa, jago mengurai kode rahasia tingkat tinggi, dan merupakan "harta" berharga CIA. Kadang ia bahkan merasa dirinya bisa menghilang. Untungnya, di Akademi Gallagher hal itu dianggap keren. Jelas saja, karena Akademi Gallagher sebenarnya sekolah mata-mata top secret.

Tapi soal cowok, Cammie benar-benar idiot. Ia nggak berkutik waktu Josh yang superkeren terang-terangan menatapnya di karnaval kota Roseville. Padahal saat itu Cammie sedang menjalankan misi Operasi Rahasia-nya yang pertama, padahal teman-teman sekelasnya pun nggak bisa melihat keberadaannya.

Siapa cowok itu? Haruskah ia memeriksa sidik jari Josh, mengintai dan menyamar, mengerahkan kemampuan mata-matanya untuk menyelidiki cowok itu? Meskipun tahu Gallagher Girls nggak boleh berhubungan dengan cowok-cowok lokal di Roseville, Cammie sepertinya nggak bisa menolak daya tarik Josh, karena satu fakta penting ini: Josh melihatnya saat nggak seorang pun bisa melihatnya.




Ringkasan buku 2: karena dianggap membahayakan rahasia sekolah, hubungan Cammie - Josh harus diakhiri dan Josh dipaksa untuk melupakan kisah mereka. Sebagai seorang mata-mata sejati, meskipun agak sakit juga, Cammie menerimanya dengan lapang dada. Untunglah ia memiliki ibu dan teman-temannya yang selalu mendukungnya. Lalu, keadaan menjadi sedikit misterius dengan adanya Blackthorne.

Apa itu Blackthorne? Misteri-nya terkuak tak lama setelah ada serombongan cowok yang juga murid sekolah mata-mata ikut bergabung di sekolah Gallagher. Belum tuntas benar hatinya akan kekacauan akibat cowok bernama Josh, Cammie kini tak bisa tidak untuk selalu berdekatan dengan Zach, cowok yang memiliki kemampuan mata-mata setara dengannya, bahkan terkadang diakui Cammie lebih baik ketimbang dirinya. Nyatanya, kehadiran cowok-cowok itu justru membawa kekacauan, puncaknya ketika guru pembimbing mereka mencuri data-data lengkap seluruh siswa sekolah Gallagher. Cammie dan teman-temannya plus para cowok yang mendadak berada di pihak mereka, berusaha melacak dan mengejar si pencuri. Ending-nya lagi-lagi kurang gereget, bahkan saya sudah menduganya. Sayang sekali memang. Namun demikian, saya tetap setia menunggu buku ketiganya. Semoga tak lama lagi.

Sinopsis (cover belakang)
Jadi mata-mata itu nggak gampang. Jadi remaja cewek juga sulit.
Tapi nggak ada yang lebih sulit daripada jadi mata-mata cewek.

Itulah yang dirasakan Cammie. Apalagi ketika semester lalu Cammie harus putus dari Josh---pacar pertamanya---karena Gallagher Girls harus tetap menjaga kerahasiaan penyamaran mereka. Rahasia bahwa Gallagher Girls bukan sekadar cewek-cewek kaya yang bersekolah di sekolah asrama mahal, tapi cewek-cewek genius yang sedang dilatih menjadi mata-mata super.

Apalagi ketika Cammie si Bunglon menyadari bahwa ia punya lawan tangguh. Ia memang hebat dalam mengintai target, melebur di latar belakang hingga target benar-benar tak menyadari keberadaannya. Tapi soal melakukan langkah-langkah antipengintaian, ternyata si Bunglon benar-benar payah. Dalam latihan Operasi Rahasia, seorang cowok keren berhasil menghalanginya mencapai tujuan misi... lagi.

Siapa sebenarnya cowok itu? Kenapa dia berhasil mengalahkan semua langkah antipengintaian Cammie?

Meg Cabot - The Mediator



Entahlah, apakah Gramedia berniat menerbitkan secara keseluruhan seri Meg ini atau tidak. Fakta bahwa serial yang aselinya telah diterbitkan di Amerika kurang-lebih 8 tahun lalu membuat saya agak ragu. Mengapa novel ini baru diterjemahkan dan diterbitkan sekarang? Saya sih berharap agar seri ini terus berlanjut (terjemahannya). Terus terang saja, saya mulai menikmati suguhan Meg yang ini. Percaya deh, menarik sekali mengikuti kisah unik ini.

Kalau remaja sekarang sedang gandrung dengan bentuk cinta abnormal antara vampir dan manusia (Twilight Saga-nya Stephenie Meyer atau serial televisi The Vampire Diaries dan Trueblood), maka Meg Cabot juga punya stock cerita cinta abnormal yang tak kalah serunya, yaitu antara manusia dan hantu. Ya, hantu. Memang bukan juga cerita baru (ingat film Ghost-nya Demi Moore dan Patrick Swayze yang terkenal itu atau novel yang difilmkan Just Like Heaven-nya Reese Witherspoon dan Mark Ruffalo? atau cerita Ghostbuster mungkin?), namun karena kemasan (cerita dan tokoh-tokohnya) yang meremaja rasanya cerita menjadi lain dan menarik. Saya samapi gemas sendiri sewaktu membacanya.

Gaya menulis Meg sudah tidak perlu dikritik, ya memang begitu. Cair, lugas, sederhana, bebas, kadang melantur, dan segar. Tokoh-tokohnya pun hadir dengan ciri dan karakter yang kuat, sehingga serasa bernyawa dan hidup. Meskipun ada satu yang mengganjal, apa di Amerika segitu bebasnya ya, sampai percakapan antara guru (yang sekaligus kepala sekolah) dengan murid sekasual itu (cenderung tidak sopan). Bersyukur, gua lair, idup, dan gede di Indonesia.

Ringkasan buku 1 - The Mediator, Shadowland: Susannah Simon memang sudah menerima keadaan bahwa dia bisa melihat makhluk ghoib (hantu), bahkan dalam beberapa kesempatan sampai menendang bokong mereka. Namun, dia berharap kepindahannya ke California untuk mengikuti ibunya yang menikah lagi (ayahnya sudah meninggal, namun Susie masih sering bertemu dengannya, tentu dalam wujud hantu) dapat mengubah hidupnya. Selain menghadapi keluarga barunya, tiga saudara laki-laki tirinya yang aneh-aneh dan ayah tirinya yang konstruktor dan ahli memasak, Susie justru disambut sesosok hantu cowok yang tampan, Jesse, di kamarnya. Di samping harus bernegoisasi dengan Jesse, Susie malah harus menghadapi hantu cantik namun pemarah dan perusak di sekolah barunya. Untunglah ada teman dan kepala sekolah serta Jesse yang membantunya. Terlebih lagi ada Bryce Martinson, kakak kelasnya yang super ganteng, yang mengajaknya kencan.

Novel pertama ini mengungkap sedikit flashback tentang kehidupan Susie dan profesinya sebagai Mediator, bagaimana ia sering membobol tempat-tempat terlarang dan ditangkap polisi, dan bagaimana ia dianggap aneh oleh teman-temannya. Susie juga akhirnya mulai bisa beradaptasi dengan keluarga barunya, terutama pada saudara tiri bungsunya yang cerdas dan kutu buku itu.

Sinopsis (cover belakang)
Ada cowok keren di kamar Susannah Simon. Sayang cowok itu hantu.

Susannah seorang mediator----penghubung antara orang hidup dan mati. Dengan kata lain, ia bisa melihat hantu. Dan mereka mengganggunya terus sampai Susannah membantu mereka menuntaskan urusan yang belum beres dengan orang-orang yang masih hidup. Tapi Jesse, hantu keren yang menghuni kamar tidur Susannah, sepertinya tidak membutuhkan bantuan. Melegakan sebenarnya, karena Susannah baru saja pindah ke California yang panas dan bermaksud membuka lembaran baru, jalan-jalan ke mal dan bukan ke kuburan, surfing dan bukan kedatangan tamu-tamu aneh dari alam gaib.

Tapi pada hari pertamanya di sekolah baru, Susannah sadar ternyata tidak semudah itu. Ada hantu yang ingin membalas dendam... dan kehadiran Susannah menghalanginya.

Yup, itulah dua seri teenlit terakhir yang saya baca. Cukup menghibur dan menyenangkan. Khusus untuk The Mediator, saya berharap Gramedia tetap terus menerjemahkan dan menerbitkannya.

Okey, enjoy reading, people!

Wednesday, November 25, 2009

Obral Buku Murah @ Gramedia Pancoran





Memang kalau sudah rejeki, tidak bakal kelewatan. Niat awal saya hanyalah mau mencoba lagi untuk membeli novel saku Mahar Di Ujung Senja-nya Habib Hidayat yang beberapa waktu lalu tidak jadi saya transaksikan karena perbedaan harga tak wajar (sebagaimana saya keluhkan ketika mereview teenlit Brace-nya Melody). Alih-alih mengambil novel itu dan segera membayarnya di kasir (syukurlah, akhirnya masalah harga itu tidak ada lagi, dan memang harganya adalah harga yang seperti tertempel di barcode bukunya), saya bergeming di sebuah space di Gramedia Pancoran dimana dipasang label “Obral Buku Rp7.000 s/d Rp15.000.” Tentu saja saya langsung antusias. Sepertinya sistem adrenalin saya ketika melihat label diskon masih bekerja optimal.

Dengan tak sabar, mata saya menjelajahi space mungil itu dengan tangan yang tak henti-hentinya mengambil, kemudian saya baca sekilas, saya letakkan kembali, saya ambil lagi yang lain, dan letakkan lagi, dan begitu seterusnya. Sebenarnya bukan buku-buku baru yang diobral, melainkan buku-buku yang sudah dirilis beberapa waktu silam. Bahkan ada yang mencapai bilangan tahunan. Yah, wajar sih. Mungkin obral buku itu merupakan sarana untuk menjual sisa cetakan buku yang belum terjual.

Diantara tumpukan buku itu terselip pula the Gogons-nya tere liye dan Rasa-nya Bertahindara. Dua novel tersebut masuk dalam label novel Metropop. Dua-duanya sudah saya baca, namun karena saya lupa (dan bukunya pun sudah saya pindahtangankan kepada pihak lain) saya akhirnya mencomot Rasa-nya Bertahindara (Rp10.000) dengan harapan dapat saya baca ulang. Selain itu, saya juga membeli The Pelican Brief-nya John Grisham (Rp15.000) dan Kumpulan Cerpen Teenlit Idolamu itu aku (Rp10.000). Sebenarnya masih banyak novel lain yang saya incar, tapi saya tunda dulu. Nanti lah weekend saya balik lagi, kalau masih ada, saya beli, hehehehe…

Selain beberapa judul novel itu masih banyak judul lain, meskipun tak banyak, ada novel chicklit terjemahan Happy Being Single, novel teenlit terjemahan, novel-novel Mira W, Maria A. Sardjono, Marga T, novel terjemahan John Grisham, James Peterson, Tony Parsson, Amy Tan, dan sebagainya, juga terdapat beberapa koleksi buku mewarnai untuk anak-anak. Lumayan lah, dengan harga yang sangat miring tersebut, tak perlulah kecewa kalau pilihannya tak banyak dan agak out of date sangking lamanya rilis. Paling tidak, dengan adanya acara seperti ini, bisa memuaskan keinginan pembaca yang belum sempat membeli bukunya di saat rilis dulu (seperti saya).

Baiklah, selamat berbelanja, bagi yang berminat.

Catatan: saya tidak tahu apakah event obral buku ini juga berlangsung di Gramedia lainnya di seluruh Indonesia. Gramedia Pancoran berada di pusat perbelanjaan Hero Pancoran (seberang Gedung SPC - SMESCO Indonesia - UMKM)

Saturday, November 21, 2009

Resensi Novel Teenlit: Melody - Brace

Kucium kau, nyangkut bibirku di behelmu!



Judul: Brace
Pengarang: Melody (Azalia Primadita Muchransyah)
Penerbit: Terrant Books
Genre: Teenage Literature (Teenlit)
Tebal: 160 halaman
Harga (Toko): Rp25.000
Rilis: 2009

Hmm… sebenarnya saya tidak secara khusus ingin membeli novel bernuansa pink ini. Saya justru mencari novel saku Islami yang kalau tidak salah berjudul Mahar Di Ujung Senja, karya Habib Hidayat, yang sempat hampir saya beli di Gramedia Pancoran namun tidak jadi karena perbedaan harga yang sangat tidak wajar antara label di buku dengan yang ada di dalam database toko. Bayangin aja, buku kecil, tebalnya nggak ada seperempat novel Cewek Matre-nya Alberthiene Endah dipatok harga di atas 50rebuan?? Impossible. Lagian, di barcode yang tertempel, banderolnya cuman Rp20rebuan, dan gua cek di Gramedia Semanggi harganya juga segitu. Aneh. Namun demikian, meskipun menurut database toko di Gramedia Semanggi masih ada stock sekitar 10-an buah, saya tidak berhasil menemukan novel itu. Pun, petugas yang gua mintain tolong juga ga tau dimana tuh buku nyungsepnya. Karena tidak ketemu juga, akhirnya saya memutuskan untuk menggantinya dengan novel tulisan Melody ini. Novel teenlit, tepatnya. Ya ampun, udah bangkotan…bacaannya masih teenlit??? Apa nggak malu tuh???

Hasilnya, syukurlah saya tidak salah pilih. Overall, saya suka. Paling tidak, sehabis membaca teenlit ini saya jadi kepikiran untuk mencari novel lain buatan Melody. Apakah dia selalu selincah ini dalam tulisan-tulisannya? Hmm….ntar gua cari deh bukunya yang laen.

Bicara soal Brace, novel ini cukup menyenangkan. Fun. Fresh. Charming. Cute. Adorable. Membacanya membuat saya teringat kembali ke masa-masa SMA dulu. Ya, rentang setting waktunya memang dimulai dari awal masuk SMA hingga permulaan di bangku perkuliahan. Saya jadi berandai-andai, “coba dulu saya bisa lebih menikmati masa putih abu-abu saya!” Yeah, kalo boleh curhat, masa SMA saya memang agak membosankan. Datar dan…ugh, kurang berkesan. Such a shame. I know. Tapi, ya sudahlah. Saya tidak akan pernah dapat memutar waktu, jadi saya tidak akan menyesalinya. Karena, penyesalan hanya akan membuat saya jalan di tempat. Tidak menjejak tapak kemajuan selangkah pun. No freakin' way!

Cerita Brace memang sangat khas remaja. Klise, tapi lumayan seru. Perploncoan SMA, senior jatuh hati pada junior yang diplonconya padahal ceritanya keduanya saling benci (lagi, tema benci jadi cinta!), ciuman pertama yang berbuntut tragedi, dan cerita-cerita lain seputar cinta monyet. Melody mengemasnya secara berbeda dengan mengambil point of view orang pertama untuk hampir seluruh tokohnya (jadi inget Ken Terate, doi paling jago tuh soal beginian). Ada sih saat-saat dimana saya agak merasa karakternya goyah, dalam artian, tokoh-tokohnya seperti hanya satu. Saya rasa Melody kurang bisa menciptakan kekhasan tokohnya satu sama lain.

Namun, tidak melulu begitu. Pada waktu-waktu tertentu, Melody mengambil sudut pandang orang ketiga dalam rangka mengungkap detail kaitan antar tokohnya. Interesting, karena Melody melakukannya dengan cukup smooth. Lancar tanpa hambatan. Halus banget.

Hmm, mungkin yang saya kurang begitu suka adalah puisi-puisinya. Hahaha…baiklah, jujur, saya memang bukan penggemar puisi, kecuali puisinya Dee dalam Supernova jilid satu (top pisan euy puisinya). Oleh sebab alasan subjektif tersebutlah, terkadang saya skip halaman-halamannya yang berisi puisi (maap, tapi menurut gua puisinya emank kurang nendang juga sih….) dan langsung jump ke halaman berikutnya. Entah sekadar perasaan saya atau apa, sepertinya Melody hendak me-minus-kan peran antagonis di novelnya ini, karena saya merasa dia memberikan ending yang happy bagi sekalian tokoh-tokohnya. Untunglah, Melody berhasil melakukannya dengan baik sehingga tidak terkesan memaksakan untuk berhappy-ending ria.

Hmm….secara tampilan, buku-buku terbitan Terrant memang tidak “seglamor” terbitan Gramedia ataupun Gagasmedia, termasuk juga novel ini. Yang paling mencolok adalah layout halamannya yang agak kurang rapi. Sedangkan untuk hasil cetaan, khusus untuk Brace, setidaknya ada satu kesalahan yang cukup mengganggu, setidaknya bagi saya.
Halaman 133
Anya
……dst
Semuanya berjumlah 52 buah. Rico menulis di kertas surat yang gue kasih sebelum di berangkat setiap hari Minggu dan menceritakan kegiatannya selama seminggu…dst

Nah, dari kalimat di atas, saya pikir kata “di” sesudah kata sebelum seharusnya ditulis “dia”. Meskipun mungkin bagi sebagian pembaca, itu bukan hal yang penting, tapi bagi saya itu cukup menggangu. Bahkan, saya sempat berhenti sejenak, dan mengerutkan kening ketika sampai pada bagian ini. Dan harus dua-tiga kali mengulang membacanya untuk kemudian memahami maksudnya. Ya ampunn!

Okey, selamat membaca. Bagi yang suka teenlit, jangan lewatkan yang ini. Legit banget!

Sinopsis (cover belakang)
Bullying is never good news!!
Jujur deh, pasti semua anak baru benci banget sama yang namanya MOS (Masa Orientasi Siswa) atau (Membuat Orang Sinting)?? Menurutku, itu adalah sebuah bentuk justifikasi ketidakadilan.

Tapi si Rico, ketua tim bullying ini too good to be bad! Selain sudah mencuri hatiku sejak pertama kali dia nge-gap-in aku dianter papi saat orientasi (hal yg tabu bgt buat anak baru) dia juga selalu bikin hati nggak tenang kalau berdekatan.

Dan ketika saat itu tiba, di saat aku sudah menyukai semua hal tentang dia, I mean ALL things till bits and pieces, aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa dia sudah bersama Lia. Tapi aku masih bisa merasakan getaran hatinya seperti dulu, is this just a game he plays over and over seperti dulu? Or is this real? Will he ever change? Apakah ini semua tentang aku, atau tentang dia..