Saturday, November 21, 2009

Resensi Novel Teenlit: Melody - Brace

Kucium kau, nyangkut bibirku di behelmu!



Judul: Brace
Pengarang: Melody (Azalia Primadita Muchransyah)
Penerbit: Terrant Books
Genre: Teenage Literature (Teenlit)
Tebal: 160 halaman
Harga (Toko): Rp25.000
Rilis: 2009

Hmm… sebenarnya saya tidak secara khusus ingin membeli novel bernuansa pink ini. Saya justru mencari novel saku Islami yang kalau tidak salah berjudul Mahar Di Ujung Senja, karya Habib Hidayat, yang sempat hampir saya beli di Gramedia Pancoran namun tidak jadi karena perbedaan harga yang sangat tidak wajar antara label di buku dengan yang ada di dalam database toko. Bayangin aja, buku kecil, tebalnya nggak ada seperempat novel Cewek Matre-nya Alberthiene Endah dipatok harga di atas 50rebuan?? Impossible. Lagian, di barcode yang tertempel, banderolnya cuman Rp20rebuan, dan gua cek di Gramedia Semanggi harganya juga segitu. Aneh. Namun demikian, meskipun menurut database toko di Gramedia Semanggi masih ada stock sekitar 10-an buah, saya tidak berhasil menemukan novel itu. Pun, petugas yang gua mintain tolong juga ga tau dimana tuh buku nyungsepnya. Karena tidak ketemu juga, akhirnya saya memutuskan untuk menggantinya dengan novel tulisan Melody ini. Novel teenlit, tepatnya. Ya ampun, udah bangkotan…bacaannya masih teenlit??? Apa nggak malu tuh???

Hasilnya, syukurlah saya tidak salah pilih. Overall, saya suka. Paling tidak, sehabis membaca teenlit ini saya jadi kepikiran untuk mencari novel lain buatan Melody. Apakah dia selalu selincah ini dalam tulisan-tulisannya? Hmm….ntar gua cari deh bukunya yang laen.

Bicara soal Brace, novel ini cukup menyenangkan. Fun. Fresh. Charming. Cute. Adorable. Membacanya membuat saya teringat kembali ke masa-masa SMA dulu. Ya, rentang setting waktunya memang dimulai dari awal masuk SMA hingga permulaan di bangku perkuliahan. Saya jadi berandai-andai, “coba dulu saya bisa lebih menikmati masa putih abu-abu saya!” Yeah, kalo boleh curhat, masa SMA saya memang agak membosankan. Datar dan…ugh, kurang berkesan. Such a shame. I know. Tapi, ya sudahlah. Saya tidak akan pernah dapat memutar waktu, jadi saya tidak akan menyesalinya. Karena, penyesalan hanya akan membuat saya jalan di tempat. Tidak menjejak tapak kemajuan selangkah pun. No freakin' way!

Cerita Brace memang sangat khas remaja. Klise, tapi lumayan seru. Perploncoan SMA, senior jatuh hati pada junior yang diplonconya padahal ceritanya keduanya saling benci (lagi, tema benci jadi cinta!), ciuman pertama yang berbuntut tragedi, dan cerita-cerita lain seputar cinta monyet. Melody mengemasnya secara berbeda dengan mengambil point of view orang pertama untuk hampir seluruh tokohnya (jadi inget Ken Terate, doi paling jago tuh soal beginian). Ada sih saat-saat dimana saya agak merasa karakternya goyah, dalam artian, tokoh-tokohnya seperti hanya satu. Saya rasa Melody kurang bisa menciptakan kekhasan tokohnya satu sama lain.

Namun, tidak melulu begitu. Pada waktu-waktu tertentu, Melody mengambil sudut pandang orang ketiga dalam rangka mengungkap detail kaitan antar tokohnya. Interesting, karena Melody melakukannya dengan cukup smooth. Lancar tanpa hambatan. Halus banget.

Hmm, mungkin yang saya kurang begitu suka adalah puisi-puisinya. Hahaha…baiklah, jujur, saya memang bukan penggemar puisi, kecuali puisinya Dee dalam Supernova jilid satu (top pisan euy puisinya). Oleh sebab alasan subjektif tersebutlah, terkadang saya skip halaman-halamannya yang berisi puisi (maap, tapi menurut gua puisinya emank kurang nendang juga sih….) dan langsung jump ke halaman berikutnya. Entah sekadar perasaan saya atau apa, sepertinya Melody hendak me-minus-kan peran antagonis di novelnya ini, karena saya merasa dia memberikan ending yang happy bagi sekalian tokoh-tokohnya. Untunglah, Melody berhasil melakukannya dengan baik sehingga tidak terkesan memaksakan untuk berhappy-ending ria.

Hmm….secara tampilan, buku-buku terbitan Terrant memang tidak “seglamor” terbitan Gramedia ataupun Gagasmedia, termasuk juga novel ini. Yang paling mencolok adalah layout halamannya yang agak kurang rapi. Sedangkan untuk hasil cetaan, khusus untuk Brace, setidaknya ada satu kesalahan yang cukup mengganggu, setidaknya bagi saya.
Halaman 133
Anya
……dst
Semuanya berjumlah 52 buah. Rico menulis di kertas surat yang gue kasih sebelum di berangkat setiap hari Minggu dan menceritakan kegiatannya selama seminggu…dst

Nah, dari kalimat di atas, saya pikir kata “di” sesudah kata sebelum seharusnya ditulis “dia”. Meskipun mungkin bagi sebagian pembaca, itu bukan hal yang penting, tapi bagi saya itu cukup menggangu. Bahkan, saya sempat berhenti sejenak, dan mengerutkan kening ketika sampai pada bagian ini. Dan harus dua-tiga kali mengulang membacanya untuk kemudian memahami maksudnya. Ya ampunn!

Okey, selamat membaca. Bagi yang suka teenlit, jangan lewatkan yang ini. Legit banget!

Sinopsis (cover belakang)
Bullying is never good news!!
Jujur deh, pasti semua anak baru benci banget sama yang namanya MOS (Masa Orientasi Siswa) atau (Membuat Orang Sinting)?? Menurutku, itu adalah sebuah bentuk justifikasi ketidakadilan.

Tapi si Rico, ketua tim bullying ini too good to be bad! Selain sudah mencuri hatiku sejak pertama kali dia nge-gap-in aku dianter papi saat orientasi (hal yg tabu bgt buat anak baru) dia juga selalu bikin hati nggak tenang kalau berdekatan.

Dan ketika saat itu tiba, di saat aku sudah menyukai semua hal tentang dia, I mean ALL things till bits and pieces, aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa dia sudah bersama Lia. Tapi aku masih bisa merasakan getaran hatinya seperti dulu, is this just a game he plays over and over seperti dulu? Or is this real? Will he ever change? Apakah ini semua tentang aku, atau tentang dia..

0 komentar:

Post a Comment