Sunday, November 29, 2009

Resensi Novel Chicklit: Meiliana K. Tansri - Konser

Cinta membutuhkan pengorbanan.



Judul: Konser
Penulis: Meiliana K. Tansri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tema: Cinta terlarang, Keluarga, Perjuangan, Pengorbanan
Tebal: 296 halaman
Harga: Rp40.000 (Harga Toko)
Rilis: Agustus 2009

Sudah lama sekali saya tidak membaca novel romantis yang menggunakan kata-kata baku sesuai EYD. Hahahaha.... Yah, harap maklum saja, terkadang novel-novel metropop memang tampil dalam kemasan penuh bahasa prokem, yang menjadi daya tarik pemikatnya, yang berhasil memikat saya. Maka, terasa sangat berat bagi saya menyusuri liku-liku terjal plot yang dibangun Meiliana dalam novelnya ini. Entahlah, bagi saya novel ini memang agak sedikit nyastra (dalam hal tata bahasa). Dan, memang agak berat isi kandungannya.

Membaca Konser, saya seperti membaca novel-novel karangan beberapa penulis angkatan lama, semisal Mira W., Marga T., ataupun Maria A. Sardjono. Sangat old fashioned. Namun, yang patut diacungi jempol adalah Meiliana menghadirkan konflik yang dekat sekali dengan keseharian. Jadi, meskipun melayang-layang dengan gaya bahasa langitan dan pilihan diksi yang mengagumkan, novel ini tetap membumi berkat konflik itu.

Membaca buku sekaligus berharap dapat membuat resensinya dan mempostingnya di blog rasanya menjadi agak bertimpangan belakang ini, bagi saya. Dulu (sebelum memutuskan membuat blog resensi), saya menikmati membaca buku tanpa tendensi apapun. Saya baca karena saya suka. Kalaupun di akhir halaman, saya mencaci atau memuji (memberikan penilaian terhadap buku), itu murni sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan atau kegagalan penulis "memanjakan" imajinasi saya. Akan tetapi, belakangan saya mulai terkontaminasi dengan segala hal tentang "penghakiman" dari setiap buku yang saya baca bahkan sejak dari lembar pertamanya. Pilihan diksi, plot, karakter tokohnya, gaya bahasa, hingga editan-nya sudah saya korek-korek dan saya cari dimana letak salahnya dari awal saya membaca. Akumulasi dari semuanya, tak jarang saya enggan mengakui keunggulan-keunggulan nyata yang ada dalam buku tersebut. Menyedihkan sekali saya!

Termasuk pula ketika saya mulai membaca awal kisah racikan Meiliana yang berlatar panggung dunia seni musik klasik ini. Saya memulainya dengan, "Okay, apa yang tak benar dari novel ini?", dan karenanya saya tercekik rasa benci untuk menyadari bahwa novel ini bertabur keindahan. Saya sempat menghujat bahwa Konser terlalu puitis, terlalu tinggi bahasa, terlalu ini, terlalu itu...dan terlalu lainnya. Padahal, pada kenyataannya secara sadar atau tidak saya sudah terseret begitu jauh dalam cerita novel ini. Dan, pada akhirnya saya dengan tulus (tanpa paksaan) mengangguk takzim dan memuji, "Ya, novel ini memang bagus (sekali)."

Secara jujur, saya sangat menikmati membaca novel ini. Dan, saya tak ragu untuk menganjurkan bagi siapapun yang belum membaca silakan segera membacanya. You'll love it like I do, I promise.

Ceritanya sendiri tak jauh seperti halnya galian cerita pada novel-novel yang lainnya. Bukan tema baru, untung background dunia seni musik klasiknya cukup membantu mengemas cerita menjadi sedikit berbeda dibanding novel lain. Cinta terlarang. Cinta berjurang usia (tokoh perempuan digambarkan berumur 18 tahunan sedangkan tokoh laki-lakinya dideskripsikan 20 tahun lebih tua). Cinta terpaksa. Tragedi dibangun dari situasi yang serba berpagar, penulis seperti sedang mengajukan sebuah pertnayaan,"Apakah pagar larangan ini harus diterobos demi sebentuk cinta sejati?"

Meiliana berhasil mengocok emosi saya lewat kisah tragis-manisnya ini, meskipun tak sampai membuat saya tercekat dan menitikkan air mata. Tak kurang-kurang saya seolah terlibat dalam beragam konflik yang dibangunnya. Seolah saya menjadi salah satu tokoh di dalam novelnya itu. Meksipun hanya tokoh pinggiran yang bertugas menonton adegan demi adegan yang dimainkan dengan sempurna oleh para aktor-aktris utamanya. Menakjubkan. Meskipun demikian, pada saat-saat tertentu saya juga mendapati memang cerita yang dibuat Meiliana agak-agak terlalu sinetron, sedih berkepanjangan dan tangis-tangisan. Hmm, tapi masih lumrah dan berlalu mulus karena ditangani dengan tepat dan serius. Bukan sengaja dilebih-lebihkan.

Seperti ketika membaca novel apapun, saya juga berusaha menebak-nebak alur Konser ini. Sayang, beberapa kali tebakan saya meleset. Salah satu yang sangat jauh melenceng adalah tokoh Sastro, si pengagum barang-barang antik yang di paruh awal novel menyelamatkan Kirana (tokoh utama) namun juga "dikondisikan" (paling tidak saya menduganya begitu) sebagai tokoh yang patut dicurigai sebagai tokoh antagonis dalam novel ini. Nyatanya, tebakan saya meleset. Hal tersebut yang membuat saya makin menikmati sajian istimewa Meiliana dalam Konser megah rekaannya ini.

Oya, mengapa Konser menjadi benang merah sehingga diangkat menjadi judul novel ini? Sejauh yang saya tangkap, dari konser inilah kisah cinta terpaksa Jafar (tokoh utama) dengan Elise (tokoh pendamping perempuan) terjalin, dan berkat konser pula ia bertemu dengan Kirana, meskipun berkat konsernya pula ia kehilangan Kirana yang ternyata mulai jatuh cinta pada Sastro. Namun, tak jadi soal karena berkat konser pula Jafar menyadari bahwa ketulusan cinta Elise seharusnya tidak ia sia-siakan. Mungkin saja kalau ia tidak terlambat menyadarinya, ia tak harus merelakan Elise dan calon putrinya pergi secepat itu.

Salut pula, untuk cetakan dan editan-nya, rasa-rasanya saya tidak menemukan ada kesalahan.

Okay, enjoy reading, people!

Sinopsis (cover belakang)
Fajar, pianis andalan Simfoni Bintang, sangat berambisi mengadakan konser tunggal. Sayangnya, dari segi finansial sangat tidak mungkin. Karena itu dia merasa seperti mendapat durian jatuh ketika Elise, putri seorang konglomerat, jatuh cinta padanya. Mereka pun menikah: Elise yang mencintainya dengan sangat tulus, Fajar yang berharap mertuanya akan membiayai konsernya.

Namun skenario Tuhan berjalan ke arah lain. Setelah menikah, Fajar menemukan cinta sejatinya di orkestra tempatnya bekerja. Gadis belia itu, Kirana, datang dengan keluguannya yang memesona, dengan gesekan biolanya yang menjadikannya bintang simfoni sekelas Fajar dalam sekejap.

Fajar pun bimbang, dia ingin meninggalkan istrinya, melupakan konser yang sudah di ambang mata, demi mengejar cintanya pada Kirana. Namun Elise tahu dan tidak rela melepas suaminya. Dia bertekad mempertahankan rumah tangganya, walaupun berarti mengorbankan nyawanya sendiri....

Resensi Novel Teenlit: Meg Cabot - The Mediator (BUku 1) dan Ally Carter - The Galllagher Girls (Buku 1 & 2)

Konyol. Segar. Menyenangkan.

Meg Cabot Ally Carter

Hmm, yang begini ini yang harus dipunyai oleh para penulis teenage literature (a.k.a teenlit) dalam negeri. Tapi, saya tak akan men-judge karena selain beberapa teenlit favorit dari penulis tertentu dan yang kebetulan membuat saya tertarik, saya sudah lama tidak secara random membeli dan membaca novel teenlit. Bukan faktor malu, karena usia dan gender tidak selaras, namun lebih kepada tema dan gaya menulis yang begitu-begitu saja. Akan tetapi, saya tekankan sekali lagi, karena sudah lama tidak membaca teenlit, saya kurang tahu bagaimana perkembangannya. Apakah semakin baik, tetap, atau bahkan turun. Yang jelas, saya berharap dunia teenlit lokal tetap hadir dengan beragam tema dan kemasan yang terus berkembang.

Entah karena kebetulan yang terbit dan diterjemahkan di Indonesia adalah teenlit yang berkualitas dan sukses secara komersial di negara asalnya, beberapa teenlit mancanegara memang terkesan lebih beragam meskipun dengan tema yang mulek di situ-situ saja tetapi berhasil diberikan sentuhan yang menyegarkan. Belum lagi, biasanya novel terjemahan hasil tulisan penulis luar negeri memang cenderung memperhatikan detail sehingga dari semua unsur aksesoris dan karakter para tokohnya demikian hidup dan menjadikan kegiatan membaca teenlit seumpama membaca novel biasa saja (bukan novel yang "dikhususkan" untuk para remaja)

Teenlit terjemahan yang saya baca terakhir ini adalah serial The Gallagher Girls-nya Ally Carter (Buku 1 dan 2) dan serial The Mediator-nya Meg Cabot (Buku 1). Khusus Meg Cabot yang populer (dan saya rasa menjadi salah satu pioner lahirnya novel teenlit) lewat seri Princes Diaries-nya memang menjadi salah satu novelis luar favorit saya. Saya memang tidak membaca seri Princes Diaries-nya (kalau ini saya sungguh tak tega membacanya, saya cowok dan saya sudah berumur), tapi saya sudah menonton dua film dari cerita yang ditulisnya (yang dibinangi Anna Hathaway itu). An American Girl adalah novel Meg pertama yang saya baca, kemudian berlanjut ke Ready or Not (sekuelnya) dan Teen Idol. Jujur, gaya menulis Meg memang menyengarkan dan penuh kejutan. Sangat menantang.

Ally Carter dan Meg Cabot dengan novel masing-masing sungguh memberikan kenikmatan tersendiri dalam membaca novel. Tentu saja, kredit tetap saya tujukan bagi penerjemahnya yang berhasil mengkonversi bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dengan cukup bagus (sangat bagus, kalau boleh memuji). Lewat bantuan terjemahan mereka lah saya bisa dengan leluasa mencicipi legitnya hidangan Meg dan Ally.

Ally Carter - The Gallagher Girls

Awal ketertarikan saya membeli dan membaca teenlit ini adalah judulnya yang panjang dan menggelitik. Buku pertamanya diberi judul I'd Tell You I Love You, But Then I'd Have To Kill You (aku mau saja bilang cinta, tapi setelah itu aku harus membunuhmu), sedangkan buku kedua dilabeli Cross My Heart and Hope To Spy (Sumpah, Aku Mau Banget Jadi Mata-mata). See? Panjang dan unik, kan??

Apakah judulnya yang unik itu sesuai dengan "kebagusan" isinya? Bagi saya... iya, kalau tidak kenapa sampai saya membaca sekuelnya dan sekarang sedang (tak sabar) menunggu sekuel berikutnya? Yeah, bagi saya pribadi, teenlit ini memang cukup segar, ringan, dan unik. Background ceritanya adalah dunia mata-mata yang kalau selama ini kita lihat lebih "dikuasai" oleh laki-laki. Lihat saja film berlatar FBI, CIA, atau film-film semacam James Bond, The Bourne trilogy, Johny English, Triple X (XXX), kebanyakan yang menjadi jagoan adalah laki-laki, walaupun dalam cerita tetap ada agen perempuannya. Sementara, meski film-film seperti Alias, Charlie's Angels, atau Tomb Raider, yang telah menempatkan seorang perempuan sebagai pusat cerita tetap belum dapat mengubah anggapan umum bahwa yang "pantas" menjadi mata-mata adalah laki-laki. Hanya, laki-laki.

Nah, Ally Carter menghidupkan tokoh Cameron "Cammie" Morgan yang ceritanya tidak setuju dengan anggapan tersebut, bahwa perepuan juga bisa menjadi mata-mata yang andal, bahkan lebih andal dari mata-mata laki-laki. Serial ini mengeker kegiatan dan petualangan Cammie dalam dua sisi, sebagai calon mata-mata tangguh dan gadis remaja yang tak tahu apa-apa tentang cowok. Pada buku pertama, Ally memperkenalkan kita pada Cammie dan "sekolah"nya. Juga teman-teman sekolahnya dan orang tua tunggalnya (ibu - Rachel Morgan) yang kebetulan adalah mantan agen rahasia dan sekarang menjadi kepala sekolahnya. Sedangkan, dalam buku kedua, diceritakan tentang misteri ada tidaknya sekolah mata-mata lain selain sekolah Gallagher, lebih-lebih sekolah mata-mata yang khusus cowok? Dalam beberapa hal saya membandingkan gaya Ally dengan Ken Terate, salah satu penulis teenlit lokal favorit saya, untuk kepiawaian mereka berimprovisasi dengan majas hiperbola. Kalimat-kalimat lebay yang diciptakan Ally justru membuat cerita menjadi demikian menarik untuk terus diikuti, dan tentu saja membuat geli. Lucu, mungkin kata yang tepat.



Ringkasan buku 1: memperkenalkan pada tokoh Cammie, sekolah "khusus"nya, ibunya, guru baru pelajaran Operasi Rahasia-nya yang tampan namun galak (Joe Solomon), teman-temannya (Liz dan Bex), teman barunya yang sombong minta ampun namun justru di akhir kisah melengkapi gang-nya (Macey), dan pengalaman ciuman pertama (sekaligus rasa suka) Cammie pada makhluk yang dikenal dengan sebutan cowok, Josh. Petualangan cewek-cewek itu dibuat lebih seru dengan beragam atribut detektif slash agen rahasia slash mata-mata. Bagaimana demi mengetahui apakah aman jika Josh mendekati Cammie, mereka harus menyelidiki sampah keluarga Josh dan mengamati kehidupan Josh selama beberapa saat. Pada detail-detail petualangan itulah Ally membuatnya sedemikian rupa sehingga menjauhkan kesan bosan mengikuti alur cinta monyet anak-anak usia belasan. Meskipun, ending-nya agak kurang gereget, buku pertama Ally ini sudah cukup meyakinkan saya untuk terus mengikuti lanjutan kisah berikutnya.

Sinopsis (cover belakang)
Cammie Morgan mungkin cewek genius, menguasai empat belas bahasa, jago mengurai kode rahasia tingkat tinggi, dan merupakan "harta" berharga CIA. Kadang ia bahkan merasa dirinya bisa menghilang. Untungnya, di Akademi Gallagher hal itu dianggap keren. Jelas saja, karena Akademi Gallagher sebenarnya sekolah mata-mata top secret.

Tapi soal cowok, Cammie benar-benar idiot. Ia nggak berkutik waktu Josh yang superkeren terang-terangan menatapnya di karnaval kota Roseville. Padahal saat itu Cammie sedang menjalankan misi Operasi Rahasia-nya yang pertama, padahal teman-teman sekelasnya pun nggak bisa melihat keberadaannya.

Siapa cowok itu? Haruskah ia memeriksa sidik jari Josh, mengintai dan menyamar, mengerahkan kemampuan mata-matanya untuk menyelidiki cowok itu? Meskipun tahu Gallagher Girls nggak boleh berhubungan dengan cowok-cowok lokal di Roseville, Cammie sepertinya nggak bisa menolak daya tarik Josh, karena satu fakta penting ini: Josh melihatnya saat nggak seorang pun bisa melihatnya.




Ringkasan buku 2: karena dianggap membahayakan rahasia sekolah, hubungan Cammie - Josh harus diakhiri dan Josh dipaksa untuk melupakan kisah mereka. Sebagai seorang mata-mata sejati, meskipun agak sakit juga, Cammie menerimanya dengan lapang dada. Untunglah ia memiliki ibu dan teman-temannya yang selalu mendukungnya. Lalu, keadaan menjadi sedikit misterius dengan adanya Blackthorne.

Apa itu Blackthorne? Misteri-nya terkuak tak lama setelah ada serombongan cowok yang juga murid sekolah mata-mata ikut bergabung di sekolah Gallagher. Belum tuntas benar hatinya akan kekacauan akibat cowok bernama Josh, Cammie kini tak bisa tidak untuk selalu berdekatan dengan Zach, cowok yang memiliki kemampuan mata-mata setara dengannya, bahkan terkadang diakui Cammie lebih baik ketimbang dirinya. Nyatanya, kehadiran cowok-cowok itu justru membawa kekacauan, puncaknya ketika guru pembimbing mereka mencuri data-data lengkap seluruh siswa sekolah Gallagher. Cammie dan teman-temannya plus para cowok yang mendadak berada di pihak mereka, berusaha melacak dan mengejar si pencuri. Ending-nya lagi-lagi kurang gereget, bahkan saya sudah menduganya. Sayang sekali memang. Namun demikian, saya tetap setia menunggu buku ketiganya. Semoga tak lama lagi.

Sinopsis (cover belakang)
Jadi mata-mata itu nggak gampang. Jadi remaja cewek juga sulit.
Tapi nggak ada yang lebih sulit daripada jadi mata-mata cewek.

Itulah yang dirasakan Cammie. Apalagi ketika semester lalu Cammie harus putus dari Josh---pacar pertamanya---karena Gallagher Girls harus tetap menjaga kerahasiaan penyamaran mereka. Rahasia bahwa Gallagher Girls bukan sekadar cewek-cewek kaya yang bersekolah di sekolah asrama mahal, tapi cewek-cewek genius yang sedang dilatih menjadi mata-mata super.

Apalagi ketika Cammie si Bunglon menyadari bahwa ia punya lawan tangguh. Ia memang hebat dalam mengintai target, melebur di latar belakang hingga target benar-benar tak menyadari keberadaannya. Tapi soal melakukan langkah-langkah antipengintaian, ternyata si Bunglon benar-benar payah. Dalam latihan Operasi Rahasia, seorang cowok keren berhasil menghalanginya mencapai tujuan misi... lagi.

Siapa sebenarnya cowok itu? Kenapa dia berhasil mengalahkan semua langkah antipengintaian Cammie?

Meg Cabot - The Mediator



Entahlah, apakah Gramedia berniat menerbitkan secara keseluruhan seri Meg ini atau tidak. Fakta bahwa serial yang aselinya telah diterbitkan di Amerika kurang-lebih 8 tahun lalu membuat saya agak ragu. Mengapa novel ini baru diterjemahkan dan diterbitkan sekarang? Saya sih berharap agar seri ini terus berlanjut (terjemahannya). Terus terang saja, saya mulai menikmati suguhan Meg yang ini. Percaya deh, menarik sekali mengikuti kisah unik ini.

Kalau remaja sekarang sedang gandrung dengan bentuk cinta abnormal antara vampir dan manusia (Twilight Saga-nya Stephenie Meyer atau serial televisi The Vampire Diaries dan Trueblood), maka Meg Cabot juga punya stock cerita cinta abnormal yang tak kalah serunya, yaitu antara manusia dan hantu. Ya, hantu. Memang bukan juga cerita baru (ingat film Ghost-nya Demi Moore dan Patrick Swayze yang terkenal itu atau novel yang difilmkan Just Like Heaven-nya Reese Witherspoon dan Mark Ruffalo? atau cerita Ghostbuster mungkin?), namun karena kemasan (cerita dan tokoh-tokohnya) yang meremaja rasanya cerita menjadi lain dan menarik. Saya samapi gemas sendiri sewaktu membacanya.

Gaya menulis Meg sudah tidak perlu dikritik, ya memang begitu. Cair, lugas, sederhana, bebas, kadang melantur, dan segar. Tokoh-tokohnya pun hadir dengan ciri dan karakter yang kuat, sehingga serasa bernyawa dan hidup. Meskipun ada satu yang mengganjal, apa di Amerika segitu bebasnya ya, sampai percakapan antara guru (yang sekaligus kepala sekolah) dengan murid sekasual itu (cenderung tidak sopan). Bersyukur, gua lair, idup, dan gede di Indonesia.

Ringkasan buku 1 - The Mediator, Shadowland: Susannah Simon memang sudah menerima keadaan bahwa dia bisa melihat makhluk ghoib (hantu), bahkan dalam beberapa kesempatan sampai menendang bokong mereka. Namun, dia berharap kepindahannya ke California untuk mengikuti ibunya yang menikah lagi (ayahnya sudah meninggal, namun Susie masih sering bertemu dengannya, tentu dalam wujud hantu) dapat mengubah hidupnya. Selain menghadapi keluarga barunya, tiga saudara laki-laki tirinya yang aneh-aneh dan ayah tirinya yang konstruktor dan ahli memasak, Susie justru disambut sesosok hantu cowok yang tampan, Jesse, di kamarnya. Di samping harus bernegoisasi dengan Jesse, Susie malah harus menghadapi hantu cantik namun pemarah dan perusak di sekolah barunya. Untunglah ada teman dan kepala sekolah serta Jesse yang membantunya. Terlebih lagi ada Bryce Martinson, kakak kelasnya yang super ganteng, yang mengajaknya kencan.

Novel pertama ini mengungkap sedikit flashback tentang kehidupan Susie dan profesinya sebagai Mediator, bagaimana ia sering membobol tempat-tempat terlarang dan ditangkap polisi, dan bagaimana ia dianggap aneh oleh teman-temannya. Susie juga akhirnya mulai bisa beradaptasi dengan keluarga barunya, terutama pada saudara tiri bungsunya yang cerdas dan kutu buku itu.

Sinopsis (cover belakang)
Ada cowok keren di kamar Susannah Simon. Sayang cowok itu hantu.

Susannah seorang mediator----penghubung antara orang hidup dan mati. Dengan kata lain, ia bisa melihat hantu. Dan mereka mengganggunya terus sampai Susannah membantu mereka menuntaskan urusan yang belum beres dengan orang-orang yang masih hidup. Tapi Jesse, hantu keren yang menghuni kamar tidur Susannah, sepertinya tidak membutuhkan bantuan. Melegakan sebenarnya, karena Susannah baru saja pindah ke California yang panas dan bermaksud membuka lembaran baru, jalan-jalan ke mal dan bukan ke kuburan, surfing dan bukan kedatangan tamu-tamu aneh dari alam gaib.

Tapi pada hari pertamanya di sekolah baru, Susannah sadar ternyata tidak semudah itu. Ada hantu yang ingin membalas dendam... dan kehadiran Susannah menghalanginya.

Yup, itulah dua seri teenlit terakhir yang saya baca. Cukup menghibur dan menyenangkan. Khusus untuk The Mediator, saya berharap Gramedia tetap terus menerjemahkan dan menerbitkannya.

Okey, enjoy reading, people!

Wednesday, November 25, 2009

Obral Buku Murah @ Gramedia Pancoran





Memang kalau sudah rejeki, tidak bakal kelewatan. Niat awal saya hanyalah mau mencoba lagi untuk membeli novel saku Mahar Di Ujung Senja-nya Habib Hidayat yang beberapa waktu lalu tidak jadi saya transaksikan karena perbedaan harga tak wajar (sebagaimana saya keluhkan ketika mereview teenlit Brace-nya Melody). Alih-alih mengambil novel itu dan segera membayarnya di kasir (syukurlah, akhirnya masalah harga itu tidak ada lagi, dan memang harganya adalah harga yang seperti tertempel di barcode bukunya), saya bergeming di sebuah space di Gramedia Pancoran dimana dipasang label “Obral Buku Rp7.000 s/d Rp15.000.” Tentu saja saya langsung antusias. Sepertinya sistem adrenalin saya ketika melihat label diskon masih bekerja optimal.

Dengan tak sabar, mata saya menjelajahi space mungil itu dengan tangan yang tak henti-hentinya mengambil, kemudian saya baca sekilas, saya letakkan kembali, saya ambil lagi yang lain, dan letakkan lagi, dan begitu seterusnya. Sebenarnya bukan buku-buku baru yang diobral, melainkan buku-buku yang sudah dirilis beberapa waktu silam. Bahkan ada yang mencapai bilangan tahunan. Yah, wajar sih. Mungkin obral buku itu merupakan sarana untuk menjual sisa cetakan buku yang belum terjual.

Diantara tumpukan buku itu terselip pula the Gogons-nya tere liye dan Rasa-nya Bertahindara. Dua novel tersebut masuk dalam label novel Metropop. Dua-duanya sudah saya baca, namun karena saya lupa (dan bukunya pun sudah saya pindahtangankan kepada pihak lain) saya akhirnya mencomot Rasa-nya Bertahindara (Rp10.000) dengan harapan dapat saya baca ulang. Selain itu, saya juga membeli The Pelican Brief-nya John Grisham (Rp15.000) dan Kumpulan Cerpen Teenlit Idolamu itu aku (Rp10.000). Sebenarnya masih banyak novel lain yang saya incar, tapi saya tunda dulu. Nanti lah weekend saya balik lagi, kalau masih ada, saya beli, hehehehe…

Selain beberapa judul novel itu masih banyak judul lain, meskipun tak banyak, ada novel chicklit terjemahan Happy Being Single, novel teenlit terjemahan, novel-novel Mira W, Maria A. Sardjono, Marga T, novel terjemahan John Grisham, James Peterson, Tony Parsson, Amy Tan, dan sebagainya, juga terdapat beberapa koleksi buku mewarnai untuk anak-anak. Lumayan lah, dengan harga yang sangat miring tersebut, tak perlulah kecewa kalau pilihannya tak banyak dan agak out of date sangking lamanya rilis. Paling tidak, dengan adanya acara seperti ini, bisa memuaskan keinginan pembaca yang belum sempat membeli bukunya di saat rilis dulu (seperti saya).

Baiklah, selamat berbelanja, bagi yang berminat.

Catatan: saya tidak tahu apakah event obral buku ini juga berlangsung di Gramedia lainnya di seluruh Indonesia. Gramedia Pancoran berada di pusat perbelanjaan Hero Pancoran (seberang Gedung SPC - SMESCO Indonesia - UMKM)

Saturday, November 21, 2009

Resensi Novel Teenlit: Melody - Brace

Kucium kau, nyangkut bibirku di behelmu!



Judul: Brace
Pengarang: Melody (Azalia Primadita Muchransyah)
Penerbit: Terrant Books
Genre: Teenage Literature (Teenlit)
Tebal: 160 halaman
Harga (Toko): Rp25.000
Rilis: 2009

Hmm… sebenarnya saya tidak secara khusus ingin membeli novel bernuansa pink ini. Saya justru mencari novel saku Islami yang kalau tidak salah berjudul Mahar Di Ujung Senja, karya Habib Hidayat, yang sempat hampir saya beli di Gramedia Pancoran namun tidak jadi karena perbedaan harga yang sangat tidak wajar antara label di buku dengan yang ada di dalam database toko. Bayangin aja, buku kecil, tebalnya nggak ada seperempat novel Cewek Matre-nya Alberthiene Endah dipatok harga di atas 50rebuan?? Impossible. Lagian, di barcode yang tertempel, banderolnya cuman Rp20rebuan, dan gua cek di Gramedia Semanggi harganya juga segitu. Aneh. Namun demikian, meskipun menurut database toko di Gramedia Semanggi masih ada stock sekitar 10-an buah, saya tidak berhasil menemukan novel itu. Pun, petugas yang gua mintain tolong juga ga tau dimana tuh buku nyungsepnya. Karena tidak ketemu juga, akhirnya saya memutuskan untuk menggantinya dengan novel tulisan Melody ini. Novel teenlit, tepatnya. Ya ampun, udah bangkotan…bacaannya masih teenlit??? Apa nggak malu tuh???

Hasilnya, syukurlah saya tidak salah pilih. Overall, saya suka. Paling tidak, sehabis membaca teenlit ini saya jadi kepikiran untuk mencari novel lain buatan Melody. Apakah dia selalu selincah ini dalam tulisan-tulisannya? Hmm….ntar gua cari deh bukunya yang laen.

Bicara soal Brace, novel ini cukup menyenangkan. Fun. Fresh. Charming. Cute. Adorable. Membacanya membuat saya teringat kembali ke masa-masa SMA dulu. Ya, rentang setting waktunya memang dimulai dari awal masuk SMA hingga permulaan di bangku perkuliahan. Saya jadi berandai-andai, “coba dulu saya bisa lebih menikmati masa putih abu-abu saya!” Yeah, kalo boleh curhat, masa SMA saya memang agak membosankan. Datar dan…ugh, kurang berkesan. Such a shame. I know. Tapi, ya sudahlah. Saya tidak akan pernah dapat memutar waktu, jadi saya tidak akan menyesalinya. Karena, penyesalan hanya akan membuat saya jalan di tempat. Tidak menjejak tapak kemajuan selangkah pun. No freakin' way!

Cerita Brace memang sangat khas remaja. Klise, tapi lumayan seru. Perploncoan SMA, senior jatuh hati pada junior yang diplonconya padahal ceritanya keduanya saling benci (lagi, tema benci jadi cinta!), ciuman pertama yang berbuntut tragedi, dan cerita-cerita lain seputar cinta monyet. Melody mengemasnya secara berbeda dengan mengambil point of view orang pertama untuk hampir seluruh tokohnya (jadi inget Ken Terate, doi paling jago tuh soal beginian). Ada sih saat-saat dimana saya agak merasa karakternya goyah, dalam artian, tokoh-tokohnya seperti hanya satu. Saya rasa Melody kurang bisa menciptakan kekhasan tokohnya satu sama lain.

Namun, tidak melulu begitu. Pada waktu-waktu tertentu, Melody mengambil sudut pandang orang ketiga dalam rangka mengungkap detail kaitan antar tokohnya. Interesting, karena Melody melakukannya dengan cukup smooth. Lancar tanpa hambatan. Halus banget.

Hmm, mungkin yang saya kurang begitu suka adalah puisi-puisinya. Hahaha…baiklah, jujur, saya memang bukan penggemar puisi, kecuali puisinya Dee dalam Supernova jilid satu (top pisan euy puisinya). Oleh sebab alasan subjektif tersebutlah, terkadang saya skip halaman-halamannya yang berisi puisi (maap, tapi menurut gua puisinya emank kurang nendang juga sih….) dan langsung jump ke halaman berikutnya. Entah sekadar perasaan saya atau apa, sepertinya Melody hendak me-minus-kan peran antagonis di novelnya ini, karena saya merasa dia memberikan ending yang happy bagi sekalian tokoh-tokohnya. Untunglah, Melody berhasil melakukannya dengan baik sehingga tidak terkesan memaksakan untuk berhappy-ending ria.

Hmm….secara tampilan, buku-buku terbitan Terrant memang tidak “seglamor” terbitan Gramedia ataupun Gagasmedia, termasuk juga novel ini. Yang paling mencolok adalah layout halamannya yang agak kurang rapi. Sedangkan untuk hasil cetaan, khusus untuk Brace, setidaknya ada satu kesalahan yang cukup mengganggu, setidaknya bagi saya.
Halaman 133
Anya
……dst
Semuanya berjumlah 52 buah. Rico menulis di kertas surat yang gue kasih sebelum di berangkat setiap hari Minggu dan menceritakan kegiatannya selama seminggu…dst

Nah, dari kalimat di atas, saya pikir kata “di” sesudah kata sebelum seharusnya ditulis “dia”. Meskipun mungkin bagi sebagian pembaca, itu bukan hal yang penting, tapi bagi saya itu cukup menggangu. Bahkan, saya sempat berhenti sejenak, dan mengerutkan kening ketika sampai pada bagian ini. Dan harus dua-tiga kali mengulang membacanya untuk kemudian memahami maksudnya. Ya ampunn!

Okey, selamat membaca. Bagi yang suka teenlit, jangan lewatkan yang ini. Legit banget!

Sinopsis (cover belakang)
Bullying is never good news!!
Jujur deh, pasti semua anak baru benci banget sama yang namanya MOS (Masa Orientasi Siswa) atau (Membuat Orang Sinting)?? Menurutku, itu adalah sebuah bentuk justifikasi ketidakadilan.

Tapi si Rico, ketua tim bullying ini too good to be bad! Selain sudah mencuri hatiku sejak pertama kali dia nge-gap-in aku dianter papi saat orientasi (hal yg tabu bgt buat anak baru) dia juga selalu bikin hati nggak tenang kalau berdekatan.

Dan ketika saat itu tiba, di saat aku sudah menyukai semua hal tentang dia, I mean ALL things till bits and pieces, aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa dia sudah bersama Lia. Tapi aku masih bisa merasakan getaran hatinya seperti dulu, is this just a game he plays over and over seperti dulu? Or is this real? Will he ever change? Apakah ini semua tentang aku, atau tentang dia..

Resensi Novel Chicklit: Dahlian & Gielda Lafita - Baby Proposal (Karena Cinta Tak Membutuhkan Alasan)

Romantis??? Ah, berlebihan!



Judul: Baby Proposal
Pengarang: Dahlian & Gielda Lafita
Penerbit: Gagas Media
Genre: Romance-Comedy, Chicklit
Tebal: 332 halaman
Harga (Toko): Rp37.500
Rilis: Nopember 2009 (cet. 1)

Terpaksa saya harus menyatakan bahwa hampir seperempat bagian awal (dan masih terdapat pada beberapa bagian lain di sepanjang plot) novel ini berkutat pada umbaran hawa nafsu para tokohnya semata. Bagaimana tidak, setelah bercerita soal proses one-night stand yang berujung hamilnya si aktris utama (jadi ingat film Knocked Up!), penulis (dua orang!) justru melulu menggambarkan bagaimana gelenyar-gelenyar nafsu aktor-aktrisnya ketika mereka bertemu, saling memandang, berdekatan, dan sebagainya. Parahnya, itu diceritakan dalam berbagai situasi. Dalam berbagai kesempatan.

Bukannya wajar??? Wajar-wajar saja sebenarnya. Dua puluh persen dari penilaian saya mengarahkan saya untuk maklum. Keyakinan saya itu dilandasi kesadaran bahwa kedua tokoh baru bertemu dan berkenalan. Penulis menekankan bahwa kedekatan keduanya tidak melibatkan hati (perasaan). Penulis juga dengan semangat sekali mendeskripsikan bagaimana pergulatan batin kedua tokoh yang terjebak dalam situasi ‘terlarang’ itu. Perang batin inilah yang lambat laun melembutkan keduanya. Menerbitkan binar kasih, sayang, hingga cinta pada hati masing-masing. Tak ayal, dalam setiap kesempatan keduanya saling melempar kekaguman perasaan. Namun, sayang sekali, penulis hanya mengumbar kekaguman mereka dari kesempurnaan fisik belaka. Betapa tampannya si aktor, blablablabla….betapa keindahan bibir si aktris dan blablablabla….. mungkin untuk sekali-dua tidak masalah. Semua jadi nggak asyik ketika hal tersebut diulas lagi, lagi, dan lagi. Bosan!

Sebenarnya, gaya mendongeng kedua penulis, yang cukup nge-blend (saya tidak bisa menduga mana yang adalah tulisan Dahlian dan mana yang tulisan Gielda, saya memang belum mengenal karakter tulisan masing-masing karena tidak pernah membaca karya solo mereka), cukup bisa mengalirkan kisah novel ini. Diksinya pas, meskipun sebagian besar isinya sebagaimana yang saya sebutkan tadi. Luapan
berahi syahwat. Emosinya terasa dan teraba. Adegan per adegannya cukup hidup. Lancar sekali alur ceritanya.

Hmm, saya agak malas membahas tema, karena dari waktu ke waktu tidak ada lagi tema baru yang diangkat oleh para penulis. Termasuk dalam novel ini. Hamil di luar nikah. Perkawinan yang dipaksakan. Benci lalu cinta. Orang ketiga yang adalah cinta masa lalu. Duh! Saya sih akhirnya hanya bisa berlapang dada saja mengingat saya sendiri juga tidak tahu tema langka apa lagi yang bisa diangkat dan terlihat orisinil. Oleh karena itu, saya tidak akan membahas soal tema novel ini.

Kalau temanya sudah, katakanlah, basi maka saya berharap penulis bisa mengolahnya menjadi tampak baru dan segar. Dan, syukurlah, kedua penulis berhasil mengemas tema oldies itu menjadi tidak membosankan. Yeah, setidaknya saya akhirnya selesai juga membacanya hingga tuntas.

Catatan saya yang lain adalah sebuah pertanyaan yaitu, “apakah sekarang ini hampir seluruh perempuan Indonesia sudah tersihir drama seri Korea?” Oh, GOD! Rasanya sudah banyak penulis yang “mimpi” bercerita soal Korea (ingat Summer in Seoul-nya Ilana Tan atau Marrying AIDS-nya Lia Andria? Atau juga My Seoul Escape-nya Sophie Febriyanti). Baby Proposal ini memang tidak bercerita soal Korea atau tokohnya yang tergila-gila seri Korea, namun mengapa adegan menjelang klimaksnya justru mengingatkan saya pada seri Hotelier???. Maka, makin tak orisinil-lah novel ini. Belum lagi segala rupa keromantisan yang coba ditampilkan kedua penulis malah membuat saya agak muak. Yikes! Lebay, banget… this is so 2009 not 199whatever… apa gua yang nggak romantis, ya???? Tapi sumpah, gua bilang romantisnya berlebihan!!!

Pada akhirnya, impresi saya tertuju pada kolaborasi yang cukup nge-blend dari dua penulis ini. Saya berharap, jika nanti masih ingin membuat lagi karya duet, kedua penulis bisa mengangkat tema yang tak biasa, dan kalau bisa, segala menye-menye (yang dimaksudkan untuk romantis) agak dikurangi. Hey, don’t judge, this book is for women! Mungkin saja buku ini memang dimaksudkan untuk perempuan (kalau memang iya, mending dilabeli saja sekalian, for women only), tapi tidakkah seorang penulis bangga jikalau bukunya tidak hanya “dikotakkan” pada satu kategori saja?? Apakah penulis tidak bangga jika bukunya bisa diterima semua golongan?? Bukankah semakin luas pembaca, tiras buku yang terjual juga semakin banyak?? Kalau tidak bangga, ya…berarti saya memang salah pilih bacaan.

Okey, selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)
Seandainya ini mimpi buruk,
Karina ingin cepat-cepat bangun
dan tak ingin mengingatnya lagi....

Tapi kenyataan memilih berlaku kejam kepadanya. Dua garis di testpack yang kini berada di tangannya adalah jawaban tegas: Karina hamil. Dan satu-satunya yang terpikirkan adalah mencari bapak anak ini dan meminta pertanggungjawaban.

Karina tidak berharap dinikahi Daniel. Dia ingin laki-laki itu mengurusinya selama masa kehamilan. Dengan senang hati, dia menyerahkan bayi itu ke tangan Daniel-sesederhana itu.

Namun, berada bersama Daniel membuatnya melihat laki-laki itu dari sisi lain. Sisi lembut dan penuh perlindungan. Sisi yang membuat dadanya berdesir. Perasaan yang mengenalkan Karina pada... cinta. Mungkinkah ini pertanda mimpi buruknya kelak akan berakhir bahagia?

Friday, November 20, 2009

Resensi Novel Islami: Ifa Avianty - Jodoh Dari Surga

Ribetnya menyadari cinta



Judul: Jodoh dari Surga
Pengarang: Ifa Avianty
Penerbit: QultumMedia
Genre: Romance-Comedy, Islamic Novel
Tebal: vi+138 halaman
Harga (Toko): Rp17.500
Rilis: 2007 (Cetakan Kedua)

Catatan: Novel ini udah gua baca lamaaaaaaaaa banget, tapi kelupaan belum di-share resensinya. Nah, sambil nunggu beberapa buku gua tulis review-nya, kayaknya ga ada salahnya gua upload yang ini dulu. Secara, masih demam Facebook on Love-nya Ifa, qiqiqiqiqiqi…

Saya lupa apa yang mendorong saya untuk membeli novel ‘tipis’ ini. Mungkin harganya yang ‘murah-banget’ menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keputusan saya. Tapi, paling tidak satu yang saya ingat, gaya bahasa Ifa memang memikat saya dari awal saya meng’observasi’ novel ini sebelum deal dengan kasir dan membayarnya.

Untuk ukuran sebuah novel berlabel Islamic Novel, novel ini cukup ciamik dalam hal tata bahasa, sesuai dengan selera saya. Tidak terlalu membingungkan, mengalun sempurna dalam modernisasi kota besar, meskipun membuatnya menjadi terlalu ‘dangkal’ tergabung dalam lingkup novel bertema Islam. Ciri Islam hanya ditempelkan pada cerita tokohnya yang sering digambarkan salih-salihat, pintar mengaji, atau lontaran salam pada setiap kesempatan, plus aksesoris ‘kerudung’ dan jilbab pada tokoh wanitanya. Bisa bayangin nggak seorang cewek berjilbab, terus maen piano dalam sebuah resital piano akbar? Gue nggak bisa nih.

Cerita yang dibangun Ifa sebenarnya sangat menarik karena dibuat dengan tumpukan konflik yang bergulung-gulung bak benang kusut yang susah diuraikan. Hidup serasa berwarna dengan ragam masalah pelik yang menghampiri tiap-tiap tokohnya. Dari mulai perjodohan yang terpaksa hingga isu poligami. Namun, daya tahan saya untuk menerima gunungan konflik ini ternyata tidak terlalu bagus. Saya malah mati bosan di tengah masalah-masalahnya. Kisah tragis salah satu karakter kuncinya pun tak mampu membangkitkan rasa iba yang biasanya gampang sekali hadir dalam setiap kesempatan saya membaca novel dengan tokoh kunci hidup bergelimang sengsara. Waktu baca Bidadari-bidadari Surganya tere-liye aja gue nangis bombay hampir sampai akhir novel. Huhuhuhuhu....

Keribetan yang diciptakan Ifa nyatanya gampang sekali terurai di hampir pengujung novel, yang membuat saya mengerenyit heran. Mengapa masalahnya jadi mudah sekali ya? Mungkin kendala sedikitnya halaman membuat jalan cerita tidak dibuat dengan ending yang memadai dan terkesan dipaksakan untuk selesai. Keinginan penulis untuk mengakhiri segalanya dengan emosional justru terasa mengada-ada, menurut saya. Yah, cuman gini doank? sungut saya.

Kelemahan lain yang menyertai novel ini adalah point of view karakter yang digunakan sedikit kedodoran. Sudut pandang orang pertama ‘aku’ sedianya dihadirkan dengan independensi tiap tokohnya, seluruh tokoh menggunakan kata ganti orang pertama. Saya memang pengagum cerita dengan ciri khas begitu tetapi khusus untuk novel Ifa ini, penggunaan kata ganti orang pertama untuk hampir seluruh tokohnya malah membuat plot menjadi berantakan. Bahkan yang sangat saya sesalkan adalah tokoh ‘pinggiran’ yang sebelumnya tidak punya peran besar tiba-tiba ikut ‘berbincang’ dan mengambil porsi dalam jalinan cerita. Hal tersebut, menurut saya, kurang bagus dan sedikit ‘menghancurkan’ cerita yang telah dibangun sebelumnya. Kekurangan lain yang agak terlihat nyata adalah penggunaan kata ganti orang pertama ini cenderung lemah karena antara satu karakter dengan karakter lain ‘terasa’ sama saja. Tidak teraba perbedaan pada masing-masing tokoh. Nggak mungkin kan semua orang sama?

Yeah, maaf kalau saya sepertinya jago ‘kritik’ sekali, padahal membuat cerita sendiri saja saya tidak bisa. Namun, rasanya saya punya hak, karena saya toh sebagai pembaca memiliki kesempatan untuk berkomentar atas setiap karya yang saya ‘beli’ kan? But, like I said before, saya suka gaya bahasa yang digunakan Ifa. Chic. Simple. And, lovely.

Berikut secuplik dari novel ini, disajikan pratinjau terbatas oleh books.google.
Klik di sini.

Thursday, November 12, 2009

Resensi Novel Chicklit: Ifa Avianty - Facebook on Love

Latah popularitas fesbuk!



Judul: Facebook on Love
Pengarang: Ifa Avianty
Penerbit: PT Lingkar Pena Kreativa
Genre: Romance-Comedy, Chicklit
Tebal: 274 halaman
Harga (Toko): Rp48.000
Rilis: Juli 2009 (cet. 1)

Yeah, awalnya benci lalu jadi suka. Kalimat tersebut bisa menggambarkan dua hal sekaligus selepas saya selesai membaca karya kesekian dari Ifa Avianti, novelis produktif yang aktif dalam komunitas Forum Lingkar Pena ini, yaitu novel urban modern bertajuk Facebook on Love. Pertama, bila dirangkum dalam satu kalimat, setidaknya sebagian besar isi dari novel berlatar belakang situs komunitas yang sedang populer saat-saat sekarang ini, facebook, bisa diwakili oleh kalimat tersebut. Kedua, perasaan saya juga secara (hampir) tepat dapat digambarkan dengan kalimat tersebut begitu mencapai lembar terakhir novel fiksi terbitan Forum Lingkar Pena Publishing House ini.

Awalnya, saya memang tidak terlalu antusias mengikuti alur yang diciptakan Ifa ini, termasuk gaya “mendongeng”nya. Scene pembukanya pun agak canggung, menurut pendapat pribadi saya. Dua orang yang hanya berhubungan lewat dunia maya bisa berseteru sebegitu dramatisnya??? Hmm…agak-agak lebay, ya…. Pun, kemudian saya menjadi teringat dengan adegan pembuka yang hampir mirip dengan novel favorit saya karya Wiwien Wintarto berjudul Say No To Love. Chaos hari pertama kerja dan posisi bos yang pewaris perusahaan dan baru menjabat sudah cukup bagi saya untuk mendesah….yah, nggak bisa pake adegan ama suasana laen yakk???

Untunglah saya tak lantas mutung. Saya mencoba dan mencoba untuk terus mencari titik-titik penyejuk yang memungkinkan saya untuk setidaknya betah hingga lembar halaman pamungkasnya. Kapan saya kemudian menemukan alasan yang tepat untuk menyukai novel ini, saya sendiri tak sadar. Mendadak saja saya sudah tekun membolak-balik halamannya. Dan, tak terasa halaman terakhir juga selesai saya baca. Hmm…

Pada bagian pengantar Ifa menuturkan bahwa dia sebenarnya mendambakan novelnya ini dibuat dengan format settingan facebook secara full. Namun, sulit katanya. Saya sendiri mafhum. Karena tampilan model begitu pasti agak susah memberikan ketepatan detail karena bahasa yang digunakan cenderung bahasa percakapan yang sudah pasti mempersempit ruang improvisasi. Belum lagi, jika sentuhannya kurang halus, maka akan jatuh pada sebuah tulisan yang membosankan.

Soal penyajian facebook-nya sendiri menurut saya agak-agak “kurang-nyata”. Saya sih lupa, apakah tokoh Dea dan Fadli (aktor utama dalam novel ini) disebutkan jumlah friend yang terdaftar dalam friendlist akun mereka. Hanya kurang logis saja menurut saya jika selama update status masing-masing (yang selalu berbalasan) tidak ada satu pun friend yang bukan dari kantor mereka yang memberikan komentar. Ini menjadikan adegan percakapan dalam tampilan facebook kurang real. Tidak hidup. Paling tidak kalau ditampilkan satu-dua nama friend yang bukan dari tokoh yang turut diceritakan dalam novel, tampilan facebook-nya saya pikir akan lebih “nyata”.

Saya adalah orang yang cenderung mudah percaya dengan sesuatu, bahkan cerita fiksi dalam novel/drama sekalipun. Begitu juga ketika membaca novel ini. Rasanya tak henti benak saya memproduksi beragam kalimat tanya menyangkut beberapa hal yang mengharapkan jawaban berupa fakta (yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan nyata). Semisal, apa benar kalau kita menemukan bayi terus tanpa mengurus dokumen apapun sudah langsung bisa mengakui anak itu sebagai anak kita yang sah?

Overall, saya suka dengan novel ini. Ditegaskan, suka banget! Apalagi dengan beberapa surprise yang disiapkan Ifa dalam waktu-waktu yang tidak terduga. Termasuk ketika menjelang ending. Klimaks novel ini benar-benar dramatis. Dan, mengharukan. Salut!

Selamat membaca!

Betewe, Facebook on Love kalo di-Indonesia-in jadi apa sih? Cinta dalam Fesbuk? Fesbuk dalam Cinta? Cinta atas Fesbuk? Cinta di Fesbuk?...maklum, bahasa Inggris gua parah bangeddd!!!

Sinopsis (cover belakang)
Gara-gara Facebook, Dayana dan Fadli akhirnya bertemu di dunia nyata. Takdir membawa Dayana alias Dea, si imut, anggun, cuek tapi memiliki sifat pembangkang tingkat tinggi itu ke sebuah penerbitan yang dipimpin oleh Fadli, pria tampan bergaya aristokrat yang dikenal sebagai bos killer.

Pertengkaran dan perdebatan bergulir. Pemberontakan dan sikap keras Dea malah menyulut ketertarikan di hati Fadli, si Hantu Facebook. Hingga suatu hari, si bos menemukan dua bayi kembar terdampar di aprking lot, dan memungutnya.

Lalu siapa yang bakalan dijadikan ibu bagi bayi ini? Apa mungkin Dea, si Miss Hepburn wannabe yang sebenarnya keibuan itu?

Gempuran masa lalu Fadli juga kembali datang menyergap. Jalinan cinta kedua insan itu rupanya memang nggak semulus menulis status di Facebook.

Tuesday, November 10, 2009

Resensi Novel Metropop: Mia Arsjad - Dil3ma

Membaca novel ini adalah sebuah dilema



Judul: Dil3ma
Pengarang: Mia Arsjad
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop
Tebal: 336 halaman
Harga (Toko): Rp48.000
Rilis: Oktober 2009 (cet. 1)

Saya tidak ingat, apakah saya pernah begitu menyukai tulisan Mia Arsjad? Hmm… yang pasti, sebelum Dil3ma ini, saya hanya pernah membaca satu buah karangan Mia, Rona Hidup Rona, yang meskipun tak begitu meninggalkan kesan mendalam, namun hmm… lumayan suka. Mungkin sekitar tema-nya, mbak-mbak penggila brondong atau plot-nya yang dibuat melilit kesana-kemari. Entahlah, sepertinya saya memang menyukai Rona Hidup Rona.

Yang saya ingat lagi adalah, saya tidak menyukai gaya tulisan Mia. Menurut pandangan pribadi, Mia tidak pernah memilah, entah sengaja atau tidak, mana tulisan yang untuk percakapan (dialog) dan mana yang untuk narasi (penjelasan/pengantar cerita). Dan, saya agak tidak begitu menyukai tulisan yang blur begini. Saya suka dengan pakem. Berdialog dengan bahasa dialog dan berdeskripsi dengan bahasa deskripsi. Dalam Dil3ma, Mia masih tetap dengan gayanya tersebut, yang tentu saja mengurangi kenikmatan saya melumat adegan demi adegan yang diciptakannya.

Dengan membaca judulnya saja, Dil3ma (huruf e-nya diganti dengan angka 3), saya sudah langsung membuat tebakan besar tentang plot novel ini. Yaitu, 3 orang dengan masalah mereka. Yup, benar. Nggak salah. Novel ini memang bercerita soal tiga tokoh perempuan dengan runtutan dilema masing-masing. Seharusnya kompleks dan menegangkan, tapi ternyata datar saja. Ada sih guncangan di sana-sini, tapi lemah, karena mudah ditebak.

Soal tema, agak umum dan sudah sangat sering diangkat, jadi tidak banyak yang bisa dibahas. Bicara soal player, risk-taker, dan plin-plan, semuanya berkesan oldies. Pun, dengan jumlah tokohnya yang 3 orang. Ketika kali pertama melihat dan membaca sinopsisnya di toko buku, ingatan saya langsung melayang pada metropop-nya Clara Ng, Tiga Venus, meskipun tidak ada kejadian pertukaran jiwa di sini. Kesamaan keduanya adalah terletak pada jumlah tokohnya yang 3, kesemuanya perempuan, dengan latar belakang dan sifat yang saling bertolakan. Hmm… ga ada pilihan lain kah? tokohnya enam gitu...hehehe jadi judulnya bia dil6ma! Jayus, ah!

Kembali ke gaya tulisan Mia. Satu lagi yang membuat saya tidak nyaman, khususnya dalam novel ini, adalah pilihan Mia yang meng”aku”kan salah satu tokoh tapi meng”orang-ketiga”kan tokoh lain. Maksud saya, sebagian besar tokoh “aku” adalah pencerita dalam novel ini sehingga tokoh lain menjadi pemeran pembantu yang bertindak sebagai orang ketiga. Nah, di tempat-tempat tertentu, tanpa tokoh “aku”, tokoh-tokoh orang ketiga ini bebas sekali penggambarannya. Tokoh tersebut dengan leluasa menceritakan diri mereka. Saya sih tidak masalah dengan pemberian “porsi-mendadak” begitu asalkan dibuat dengan rapi. Sayangnya, dalam novel ini saya mendapati alasan bahwa pemberian porsi tersebut hanya untuk menjaga eksistensi si tokoh saja. Itu wajar sih, karena saya pasti ingin tahu juga dengan nasib tokoh-tokoh itu. Tapi, sekali lagi, agak kurang pas saja cara menampilkannya.

Contoh salah satu pemberian porsi yang kurang pas ini, saya rasakan ada di halaman 235. Berikut saya cuplik sedikit (muga2 gak ngelanggar hak cipta ye… Minta ijin dicuplik dikit ya, Mia + Gramedia):
Robi menepikan mobilnya dan masuk ke pelataran parkir Lura. Setelah ketemu aku tadi, Robi langsung………dan seterusnya (dst).

Mobil Robi memelan di depan kantor Lura….dst.

Robi cuma bisa maklum. Setelah cerita dari aku tadi, Robi sangat maklum sama reaksi….dst.

Dari adegan tersebut, awalnya saya menduga tokoh “aku” ikut berakting dalam adegan itu. Nyatanya tidak. Tokoh aku sama sekali tidak ada di dalam scene tersebut. Hmm, gimana ya…klo menurut gua itu weird. Aneh. Saya merasakan-nya, seolah-olah tokoh aku ini melihat, bahkan sampai detail, apa yang dilakukan oleh tokoh Robi, padahal tokoh aku tidak ada di situ. Atau, saya-nya saja ya... yang kurang teliti. Entahlah, sampai sekarang saya tetap nggak ngeh dengan adegan itu.

Dari segi cerita sendiri sebenarnya cukup menarik, sayang, penggaliannya kurang dalam. Mungkin Mia ingin tiga tokohnya terkesan “kerepotan” dengan dilema masing-masing. Unfortunately, masalah demi masalah yang dihadapi tokoh-tokoh rekaan Mia malah terkesan agak mengambang. Berpotensi menjadi ‘bencana’ yang mengundang simpati, tetapi gagal memberikan efek dramatis. Bahkan beberapa mudah sekali ditebak.

Agak disayangkan lagi, novel ini pun tak luput dari kesalahan teknis percetakan/pengeditan. Tuduhan ketelodoran tentu saja pantas ditujukan pada tim editor, of course. Harusnya editor lebih jeli dan lebih teliti lagi. Contoh kecerobohan itu ada di halaman 253.
…Mala juga. Dia menarik kursi di sisi lain ranjang Lura. “Nyokapnya belum dateng ya, Ra?” aku menyelipkan poni Lura……dst.

Pertanyaan tokoh aku itu bukankah seharusnya, “Nyokapnya belum dateng ya, La/Mal?”, kecuali jika dialog tersebut memang bermaksud si tokoh aku berbicara dengan Lura, yang sedang tak sadarkan diri (koma).

Anyway, dari keseluruhan tokoh rekaan Mia, saya memang lebih “mencintai” tokoh aku yang sifat plin-plan-nya mirip-mirip saya. Beruntung… saya tidak sama keras kepalanya dengan tokoh aku itu. Yang lucu sekaligus menyebalkan serta menjengkelkan adalah tokoh Reva yang diplot menjadi pacar dari tokoh aku. Karakter inilah yang membuat saya gemas bukan main. Kok ada ya, orang kayak begitu….

Overall, novel ini masuk kategori lumayan. Dalam waktu dekat, saya mungkin tidak tertarik untuk membacanya lagi. Entah berapa minggu, bulan, atau tahun lagi saya baru berminat untuk membacanya ulang.

Selamat membaca!

Sinopsis (cover belakang)
Tiga wanita lajang, tiga dilema.
Lura, dengan kebiasaan buruknya mempermainkan laki-laki padahal di sisinya ada Robi yang baik dan setia.

Mala, yang punya affair dengan Mas Sis, atasannya, dan sabar menanti sang bos bercerai dari istrinya.

Nania, dengan Reva-nya yang matre dan abussive secra verbal tapi ogah putus karena takut jadi jomblo abadi.

Tiga sahabat yang mencari cinta dengan segala cara. Hingga masing-masing kena batunya. Dan mendapatkan pencerahan.

Sunday, November 8, 2009

Resensi Novel Metropop: Lusiwulan - Zizi: Bintang Jodoh dan Zizi: Saksi Bulan Madu

Serial metropop dengan sentuhan komedi




Judul: Zizi: Bintang Jodoh (Buku 1), Zizi: Saksi Bulan Madu (Buku 2)
Pengarang: Lusiwulan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Romance-Comedy, Metropop
Tebal: 176 hlm (Buku 1), 152 hlm (Buku 2)
Harga (Toko): Rp28.000
Rilis: Desember 2008 (Buku 1), Nopember 2009 (Buku 2)

Saya tidak sadar bahwa novel karya Lusiwulan (penulis metropop Pacar Alternatif dan Pasangan Jadi-Jadian) yang berjudul Zizi: Saksi Bulan Madu ini adalah buku kedua dari novel serial pertama yang ditulis Lusi. Saya hanya secara asal mencomotnya ketika berkunjung ke Indonesia Book Fair 2009 karena saya pikir itu novel Lusi yang sudah sering saya lirik di toko buku beberapa waktu lalu tapi selalu tidak jadi saya beli (model penulisan judul dan desain sampul mirip). Saya baru sadar setelah membaca lembaran awalnya.

Tak dinyana, saya kepincut dengan novel tersebut. Segar. Lucu. Komedi. Menyenangkan. Menggemaskan. Komplit lah... bumbunya. Setiap adegan mengalir jenaka dengan para tokohnya yang berkarakter kuat. Kemampuan Lusi menjaga konsistensi karakter para aktor rekaannya yang membuat novel ini kian istimewa. Khusus tokoh Zizi, mau tidak mau saya teringat tokoh Kugy di novelnya Dee – Perahu Kertas. Sama-sama komikal. Sama-sama lucu. Tapi, beda nasib.

Belum dapat dipastikan, hanya Tuhan dan Lusi yang tahu, serial ini akan dibuat dalam berapa jilid (volume). Dua bagian awalnya ini memiliki jumlah halaman tak lebih dari 200-an lembar. Meskipun dipatok banderol yang lumayan terjangkau, tak ayal saya sendiri masih harus berpikir berulang kali untuk setia mengikuti kisah ini. Kalau boleh memilih, saya lebih suka Lusi langsung merampungkannya dalam satu novel tebal. Jika pun diniatkan berseri, saya berharap setiap jilidnya ditambah halamannya, yah…300-an lembar lah minimal.

Dua jilid awalnya ini sedikit berbau tahyul dengan adanya beberapa bagian yang berhubungan dengan “orang-pintar”. Bahkan sepertinya dari tahyul inilah kisah utama serial ini bermula. Saya sebagai seorang yang mencoba memahamkan agama saya dengan benar, sama sekali tidak suka dengan unsur klenik ini. Namun, ya apa mau dikata, mungkin memang inilah awal sumber inspirasi Lusi dalam menulis cerita ini.

Sebagai novel yang masuk dalam label metropop, karya Lusi ini terkesan tidak menjual mimpi. Isi ceritanya hampir-hampir mendekati realita. Yang dibicarakan tidak melulu rumah megah bertingkat-tingkat, aksesoris serba branded, atau pun segala hal yang berbau kemewahan. Para pelakonnya tidak dipaksa harus serba mewah. Pekerjaan pun bukan jenis pekerjaan yang “di atas awan”, maksudnya latar belakang profesi yang dibuat Lusi merupakan pekerjaan yang sangat terjangkau oleh siapa saja. Meskipun yang agak mengganggu, seperti kebanyakan novel urban masa kini, nama-nama tokoh ciptaan Lusi cenderung kebarat-baratan (westernisasi). Yah, wajar-wajar saja sih di jaman sekarang yang makin banyak orang tua memberi nama anak-anaknya berbau luar negeri. Namun tetap, betapa bangga rasanya jika saja nama tokoh-tokohnya itu meng-Indonesia.

Sebenarnya saya tidak suka dengan gaya mendongeng Lusi yang mostly benar-benar seperti sedang story telling. Pada beberapa tempat Lusi melempar joke-joke jayus mengomentari tingkah para aktor yang dibuatnya sendiri. Bahkan tak jarang Lusi menambahinya dengan ungkapan tawa (hihi, haha, hehe) yang tidak dalam konteks dialog antar tokoh. Sangat lebay… dan jayus. Beruntung, sekali lagi, Lusi mampu memberikan nyawa pada aktor-aktornya sehingga terkesan hidup dan klop dengan gaya mendongengnya itu.

Awalnya saya menduga novel ini dibuat dalam bentuk chapter-chapter yang langsung habis ceritanya per chapter. Satu chapter berisi masalah dan solusi pemecahannya dengan pelakon yang sama dari chapter awal hingga chapter akhir. Mirip kumpulan cerpen begitu lah. Lebih-lebih, dugaan saya diperkuat dengan pemberian judul novel yang mengambil salah satu judul chapternya. Ternyata tidak, buku ini memang benar novel dalam arti bahwa dari awal hingga akhir cerita berjalan secara berkesinambungan.

Secara teknis, novel ini lolos scanning. Saya tidak merasa menemukan adanya kesalahan ketik, tulis, atau kejanggalan lainnya. Syukur deh…

Summary (spoiler alert):

Buku 1 – Zizi: Bintang Jodoh

Untuk meyakinkan perasaannya, Zizi menemui “orang pintar” yang diharapkan membantunya meraba takdir percintaannya. Ternyata, ia tetap patah hati lantaran putus cinta dengan Teddy, pacar serius pertamanya. Zizi sendiri yang minta putus, padahal dia benar-benar telah jatuh hati dengan teramat sangat pada Teddy.

Beruntung Zizi memiliki keluarga dan teman-teman dekat yang selalu mendukungnya.

Seusai wisuda, Zizi yang masih menganggur karena perang batin antara relita versus idealisme, bertemu dengan Dylan yang kemudian menjadi salah satu karibnya. Dari Dylan lah, Zizi akhirnya mendapatkan pengalaman kerja pertamanya. Sangking dekatnya hubungan Zizi – Dylan, banyak orang menyangka mereka pacaran. Termasuk Rafa, cowok yang menyelamatkan Zizi dari amuk marah manajernya dan dari ulah tengil sang monster jagung, yang naga-naganya memberi perhatian lebih pada Zizi.

Lalu, bagaimana reaksi Zizi ketika secara kebetulan dia bertemu dengan sang mantan di counter khusus lingerie dan underwear dengan Zizi yang sedang sibuk memilih-coba lingerie-lingerie seksi? Mengapa Rafa yang dirasa Zizi menaruh hati padanya justru berkesan menjaga jarak? Apa benar Zizi hanya sekadar berteman dengan Dylan? Lantas, apa hubungan Zizi dengan Manis Manja Group?

Sinopsis (cover belakang):
"Hmm... banyak bintang kamuflase di sini..."

Zizi melongo. "Apa, Mbah, eh, maksud saya, Nini...?"

Bahu Melky agak terguncang meredam tawa melihat reaksi Zizi.

"Kamu kebanyakan TP," sambung Nini.

"Apa itu, Ni..., TP...?" tanya Zizi.

"Tebar pesona."

Itu kerjaan Zizi kalau lagi kebingungan dilamar pacar sendiri (padahal pacar sendiri lho, bukan pacar orang lain). Belum lagi kalau sedang sedih, kacau, balau, atau di masa senang, masa manis, masa bodoh sampai bodoh beneran. Tapi jangan salah, hati dan pikirannya luwes meresapi asam-manis pengalaman sebagai momen mematangkan diri. Mau bukti?

Ini kutipan perenungannya yang dalam setelah pertemuan tak terduga dengan seseorang.
"...kalau ada cowok mau nganterin dan mengekor cewek beli pakaian dalam si cewek, bisa diartikan mereka punya hubungan spesial, ya?"

Dalam, kan? Namanya aja pakaian dalam... kwakwak...

Oke, yang lebih serius, Zizi juga merenungkan apa artinya komitmen, menjadi diri sendiri, cinta yang membebaskan, dan insight lain dalam kehidupan.


Buku 2 – Zizi: Saksi Bulan Madu

Akhirnya Zizi dan Rafa jadi sepasang kekasih, tetapi Rafa meminta agar hubungan mereka tidak diketahui khalayak ramai alias backstreet. Awalnya Zizi cuek saja, terlebih dia sendiri merasa risih apabila menjadi bahan gunjingan teman-teman kantornya.

Zizi masih melanjutkan hidupnya dengan penuh aksi komedi. Kelucuan demi kelucuan mewarnai hari-harinya bersama keluarga dan teman-temannya. Termasuk ketika Zizi menawarkan diri menjadi detektif yang menyelidiki keberadaan penguntit bernama Romeo yang meresahkan tantenya.

Sial bagi Zizi, ketika menemani Rafa dalam suatu acara gathering camp dia bertemu dengan Teddy plus istrinya yang secara kebetulan menginap di hotel yang sama. Zizi tambah kikuk demi mendapati Teddy dan istrinya sedang bermesraan di kolam renang. Zizi menjadi saksi bulan madu mantan kekasihnya.

Meskipun setuju backstreet, tak urung Zizi juga menjadi ragu akan hubungannya dengan Rafa ketika mendengar cerita mirip jalinan kisah kasihnya dari teman kerjanya yang berujung kesedihan. Di lain pihak, Rafa juga makin keki. Kedekatan Zizi dan Dylan telah menerbitkan rasa cemburu yang berlebih, namun bagaimana cara Rafa menutup rasa cemburunya? Mengapa Dystan, kakak Dylan, mendadak berubah ramah pada Zizi padahal biasanya cuek? Mengapa pula Rama tiba-tiba mengajaknya dinner setelah sekian lama tidak bertemu?

Sinopsis (cover belakang):
Dianalogikan tetumbuhan, Zizi saat ini sedang berada pada periode berbunga. Kuntum merekah setelah kemarin sempat layu mendayu-dayu. Hehe, itu mah musik melayu. Kerjaan baru yang kian dikuasai, teman-teman dan atasan yang makin memaklumi dirinya--tecermin dari komentar "namanya juga Zizi..."--dan ada kumbang jantan yang sedang bergairah terbang di dekatnya. Selain itu, yang namanya taman bunga tentu tak lepas dari benalu, ulat (berbulu dan tak berbulu), tangan-tangan jail (berbulu dan tak berbulu), kupu-kupu, angin... yah, begitu pula periode kehidupan Zizi, semriwing bak tertiup angin dan geli-geli bak dirambati ulat bulu. Kesimpulannya, menyegarkan sekaligus menggelikan.

Silakan temukan jawaban-jawaban pertanyaan tersebut di atas dalam novel seri karya Lusiwulan ini.

Selamat membaca!