Wednesday, December 8, 2010

Tuesday, December 7, 2010

Book Quiz: Daftar yang beruntung bulan November 2010

Selamat yaaa.....



Hmm, saya sangat berbahagia karena dari e-mail yang masuk banyak yang mengejutkan. Mungkin, saya memang salah menggunakan kata “editing” pada pertanyaan kuis kali ini, sehingga banyak dari teman-teman yang lebih menyoroti persoalan yang lebih dalam, semisal tentang judgement kalimat yang tidak efektif atau suatu kata yang seharusnya diubah dengan kata yang lain biar enak dibaca. Sebenarnya, saya belum sampai sejauh itu sih. Saya hanya ingin menguji ketelitian membaca pada kata yang salah ketik atau tanda baca yang kurang pas, tapi belum sampai mengutak-atik kalimat. Hehehe, mohon dimaafkan kalau pertanyaan kemarin terasa ambigu ya.

Catatan: untuk standardisasi, saya menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi 2006 dan edisi online di sini), untuk membantu menentukan kata-kata yang sesuai dengan kaidah tata bahasa yang benar.



Paragraf sebelum diedit
Saya diam, mencabut tisue dari kotak disebelah tongkat persnelling, menghapus air mata dan membenahi riasan, nggak mempedulikan kata-kata Evan. Saya memejamkan mata, menarik napas panjang, "Sebaiknya kita cepat ke White supaya saya bisa mengerjakan reviewnya malam ini. Lebih cepat lebih baik,"saya bicara sambil melihat lurus kedepan, tanpa memedulikan Evan.

Paragraf setelah diedit:
Saya diam, mencabut tissue (atau cukup ditulis tisu) dari kotak di sebelah tongkat persneling, menghapus air mata, dan membenahi riasan, nggak memedulikan kata-kata Evan. Saya memejamkan mata dan menarik napas panjang. "Sebaiknya kita cepat ke White supaya saya bisa mengerjakan reviewnya malam ini. Lebih cepat lebih baik," saya bicara sambil melihat lurus ke depan, tanpa memedulikan Evan.

Demikian adalah paragraf hasil edit yang saya lakukan. Tentu saja, saya tidak merasa paling benar sendiri. Oleh karenanya, bagi yang memiliki pendapat lain saya akan dengan senang hati menunggunya untuk dibagi di sini.

Baiklah, setelah dundi (seperti biasanya), berikut adalah nama-nama yang beruntung mendapat bingkisan dan akan dikirimkan segera ke masing-masing dari Anda. Apabila Anda merasa belum memberikan alamat kirim paket, mohon untuk mengirimkannya ke
e-mail metropop.lover@gmail.com, agar buku yang telah disiapkan bisa saya kirimkan secepatnya. Terima kasih dan selamat membaca.

1. Peni Astiti
2. Rahmah Devon
3. Bulan Tresna Try Puspa
4. Ady Ahmed
5. Yudhistia Sudibya
6. Rini Nurul

Tak lupa, saya sampaikan terima kasih kepada semuanya yang telah ikut berpartisipasi dalam kuis sederhana di blog ini. Bagi yang belum beruntung, jangan kapok ya, selalu akan ada kuis-kuis semacam ini di blog ini. Dan, who knows di bulan-bulan berikutnya Anda yang beruntung.

Statistik partisipan:
e-mail masuk: 30
Jawaban sesuai: 14
e-mail
Jawaban kurang sesuai: 16
e-mail

Monday, November 22, 2010

Book Quiz: November 2010

November ceriaaaaaa.........milik kitaaa...bersama


copyright: http://www.smiley-faces.org

Waduhhh, November tinggal menghitung hari ya...ehmm, tersisa kurang-lebih 8 (delapan) hari lagi, dan saya belum membuat materi kuisnya...haduhh, salahkan pada kemalasan yang tiba-tiba menyerbu keseharian saya belakangan ini... *sengaja nyari kambing hitam*

Baiklah, sebagaimana janji saya semula, saya menyediakan sekitar 6 (enam) buah buku-novel baru untuk bulan November ini, buat 6 (enam) orang pengunjung blog yang beruntung. Caranya masih sama, yaitu dengan menjawab pertanyaan yang saya berikan.

Untuk bulan November ini, pertanyaannya akan saya buat sedikit berbeda, yaitu latihan untuk bersabar membaca dan menemukan kejanggalan-kejanggalan teknis yang terdapat dalam sebuah paragraf (typo).

Ini dia paragrafnya:

Saya diam, mencabut tisue dari kotak disebelah tongkat persnelling, menghapus air mata dan membenahi riasan, nggak mempedulikan kata-kata Evan. Saya memejamkan mata, menarik napas panjang, "Sebaiknya kita cepat ke White supaya saya bisa mengerjakan reviewnya malam ini. Lebih cepat lebih baik,"saya bicara sambil melihat lurus kedepan, tanpa memedulikan Evan.

(halaman: 24, Novel: No Date Dinner oleh Intan Lui B, dengan sedikit modifikasi)

Pertanyaan: sebutkan minimal 5 kejanggalan teknik editing yang terdapat pada paragraf di atas.

Jawaban Anda saya tunggu sampai dengan tanggal 30 November 2010. seperti biasa, kirimkan ke metropop.lover@gmail.com. Dan, ingat untuk mencantumkan Book Quiz November 2010 pada kolom subjek. Jika tidak, maka jawaban Anda dinyatakan gugur (inbox email saya lumayan banyak notifikasinya sehingga malas mengoprek satu per satu). Maka, saya ingatkan kembali untuk mencantumkan Book Quiz November 2010 pada kolom subjek email balasan Anda.


Catatan: sesuai kesepakatan, yang sudah beruntung di bulan sebelumnya, mohon untuk tidak ikut serta terlebih dahulu.

Terima kasih, dan semoga beruntung.

Buku-novel bagi yang beruntung:











Sunday, November 7, 2010

Kuis Bulan Oktober 2010: Pengumuman Yang Beruntung

Congratulations.......


gambar minjem dari sini: fatinsyaheraanuar.blogspot.com

Tak ada penggal kalimat yang bisa saya sampaikan kecuali kata maaf yang mendalam kepada teman-teman yang telah berpartisipasi dalam Kuis Bulan Oktober pada blog http://metropop-lover.blogspot.com. Pengumuman teman yang beruntung mendapat paket buku/novel sedianya dilaksanakan pada 1 November 2010, ternyata melenceng satu minggu. Sekali lagi, mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya.

Setelah melalui tahap pengundian, yang beruntung untuk mendapatkan masing-masing satu buah novel fiksi (Dimi is Married dan Size 12 is not Fat) adalah:

1. Irhami (Nanggroe Aceh Darussalam)
2. Citra Pertiwi Rahayuningsih (masih dalam konfirmasi)

Selamat untuk kedua teman yang beruntung, paket akan segera dikirimkan ke alamat masing-masing. Dan, sekali lagi untuk diberitahukan bahwa saya tidak bisa menetapkan siapa mendapat bingkisan novel yang mana, jadi semoga teman yang beruntung menikmati suvenir novel yang saya kirimkan.

Dan, bagi yang belum beruntung, jangan bersedih ya, masih akan terus digelar kuis-kuis berhadiah novel fiksi gratis di blog ini. Oleh karena antusiasme teman-teman sekalian, saya akan menambah jumlah bingkisan suvenir untuk bulan-bulan berikutnya, dimulai dengan bulan November ini. Jadi, cheer up y'all, masih banyak hadiah novel bagus yang siap kamu miliki.

Catatan: agar hadiah novel merata, maka saya menetapkan aturan khusus bahwa yang telah beruntung mendapat bingkisan, tidak diperkenankan ikut kuis lagi pada bulan berikutnya, dan baru boleh ikut lagi di bulan kedua setelahnya. Misal, Irhami yang telah terpilih di bulan Oktober maka untuk bulan November tidak boleh ikut serta, dan baru boleh ikut lagi bulan Desember mendatang. Sepakat, kan?

Terima kasih.

Friday, October 8, 2010

Book Quiz: Novel Gratisan Bulan Oktober 2010

Waktunya Kuissssssssss.......

Nah, seperti yang sudah pernah saya janjikan sebelumnya, bahwa untuk lebih menyemarakkan suasana, maka akan ada kuis rutin setiap bulan di blog ini yang berhadiah buku-novel terbaru (tentu saja sesuai dengan genre yang menjadi kiblat blog ini yaitu chick lit, teen lit, atau metropop).

Untuk bulan Oktober ini saya menyediakan dua buah buku-novel baru bagi dua orang yang beruntung, buku-novelnya adalah sebagai berikut:



Sinopsis di website resmi Gramedia di sini



Sinopsis di website resmi Gramedia di sini

Meskipun gratis, yang namanya kuis tetap harus ada pertanyaannya kan, but don't worry, pertanyaannya nggak susah kok, hanya butuh kejelian sedikit saja.

Pertanyaan ada dua, yaitu:
1. Apakah novel yang menjadi buku favorit nomor satu dalam daftar Top 10 My Favorite Novels (pernah saya posting di blog ini)?
2. Siapakah nama tokoh utama perempuan dalam seri Mediator karya Meg Cabot?

Jawaban cukup dikirim via email ke metropop.lover@gmail.com. Dan, jawaban sudah harus saya terima sebelum tanggal 31 Oktober 2010.

Semoga beruntung.

Catatan: novel yang disediakan adalah masing-masing satu buah, jadi yang beruntung tidak tahu mendapat jatah novel yang mana. Tapi, saya rasa dua-duanya oke kok.....:)

Thursday, September 23, 2010

Tuesday, September 21, 2010

Diskusi Klub Buku Goodreads Indonesia - Romansa Kaum Urban

Yang suka Chick lit, Teen lit, dan Metropop.....datang ya....acaranya pasti seruuu!!!



Geliat dunia perbukuan tanah air mendadak meriah dengan membanjirnya novel-novel karya para penulis baru yang tergabung dalam genre yang populer disebut chick lit dan teen lit, yang memenuhi display toko buku-toko buku di seantero negeri. Belakangan ada lini Metropop yang merupakan kreasi dari salah satu penerbit besar Indonesia yang ikut meramaikan percaturan industri novel genre ini. Sejatinya, booming genre novel ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Adalah novel Bridget Jones’s Diary karangan Helen Fielding yang menandai permulaan penyebutan genre chick lit ini, meskipun sebenarnya bila ditelusur lebih jauh karya klasik semacam tulisan Jane Austen dan Bronte Bersaudari juga dapat dikategorikan chick lit (menurut Profesor Suzanne Ferriss).

Data penjualan novel ini pun terbilang cukup bagus dengan beberapa judul berhasil memuncaki daftar buku laris, bersaing dengan judul dari genre lain. Bahkan beberapa di antaranya mengalami cetak ulang sampai beberapa kali. Sebut saja Season series-nya Ilana Tan, Cintappuccino-nya Nisha “Icha” Rahmanti, Dealova-nya Dyan Nuranindya, Fairish-nya Esti Kinasih, dan lain sebagainya. Hal tersebut menunjukkan antusiasme yang besar dari pembaca dalam menyambut kehadiran novel genre ini, di mana sebagian di antaranya adalah pembaca pemula.

Namun demikian, banyak pihak yang menyayangkan kuantitas novel genre ini yang sebegitu mengejutkan tidak dibarengi dengan kualitas yang memadai. Sebagian menyebut novel genre ini terlalu ringan (cheesy), tak bermutu, menjual mimpi (gambaran kehidupan serba mewah), haha-hihi semata (tanpa pesan moral yang jelas), sedangkan sebagian lainnya bahkan menyatakan ‘alergi’ dan tak berminat membacanya sama sekali.

Nah, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan novel chick lit, teen lit, dan metropop ini, apa ciri khas dari novel-novel yang tergabung dalam genre ini? Lalu, bagaimana perkembangan novel genre ini di Indonesia, apakah masih akan bertahan lama dalam memikat pembacanya mengingat novel-novel keluaran terkini tak lagi menawarkan hal-hal baru yang inovatif? Dan, sebenarnya cerita-cerita glamor yang ditandai dengan taburan barang bermerk berharga selangit dan tempat-tempat nongkrong prestisius yang biasanya menjadi setting lokasinya itu nyata atau sekadar fantasi belaka?

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, Klub Buku Goodreads Indonesia mengundang Saudara untuk mendiskusikannya lebih lanjut dalam:

Acara: Klub Buku Goodreads Indonesia bulan September 2010
Hari/Tanggal: Minggu/26 September 2010
Waktu: Pukul 14.00 s.d. 16.00
Tempat: TM Bookstore Depok Town Square (DeTos) – Lantai 3A, Jalan Margonda Raya, Depok
Judul: Romansa Kaum Urban
Narasumber:
1. Syahmedi Dean (penulis tetralogi Metropop Fashion: L.S.D.L.F., J.P.V.F.K., P.G.D.P.C., dan A.M.S.A.T)
2. Christian Simamora (editor, penulis Pillow Talk, Macarin Anjing, dan Boylicious)
3. Clio Freya (penulis Eiffel Tolong dan From Paris to Eternity)
Moderator: Ijul a.k.a YuliYono

Goodreads Indonesia

Tuesday, August 10, 2010

Pengumuman Pembaca yang Beruntung dalam Survei Pembaca Chicklit Indonesia 2010

Maaf-maaf-maaf, bahwa pengumuman yang beruntung mendapatkan paket buku dari http://metropop-lover.blogspot.com tertunda sampai hari ini. Pengundiannya sendiri sebenarnya telah dilaksanakan pada hari Minggu (08/08/2010), sayang, dikarenakan satu dan lain hal, pengumuman secara resmi baru disampaikan sekarang.

Nah, yang beruntung adalah....(jerengjengjengjeng....)
1. Refica Dewita Sarmen
2. Truly Rudiono
3. Ditta Sekar Cempaka

Untuk proses pengundiannya, silakan tengok video yang aku upload di channel youtube-ku berikut:



Selamat bagi yang beruntung, nantikan kirimannya sesegera mungkin. Dan, bagi yang belum beruntung, jangan berkecil hati, mudah-mudahan mulai bulan depan, akan diadakan kuis rutin di blog tersebut, dengan hadiah buku yang semoga menyenangkan.

Terima kasih bagi yang sudah berpartisipasi.

Saturday, July 31, 2010

Book Event: Survei Pembaca Chicklit Indonesia Berhadiah Buku Pilihan Sendiri

Survei Pembaca Chicklit Indonesia Berhadiah Buku Pilihan Sendiri



Syarat dan Ketentuan:

1. Menjawab seluruh pertanyaan yang disediakan (kecuali diberikan pilihan untuk boleh tidak menjawab);

2. Mengirimkan jawaban melalui email ke alamat metropop.lover@gmail.com disertai dengan identitas asli dan alamat pengiriman yang jelas serta nomor kontak yang bisa dihubungi. Jangan lupa menuliskan “Survei Pembaca Chicklit Indonesia” di kolom subject;

3. Satu orang hanya diperbolehkan mengirimkan satu jawaban;

4. Buku pilihan adalah kategori novel fiksi chicklit/teenlit/metropop tulisan penulis Indonesia (bukan karya terjemahan) terbitan Gramedia Pustaka Utama dan Gagas Media;

5. Buku pilihan adalah 2 (dua) buah judul novel fiksi chicklit/teenlit/metropop untuk masing-masing 3 (tiga) orang pemenang. Sertakan buku pilihan Anda di bawah jawaban yang dikirimkan, JAWABAN YANG TIDAK MENCANTUMKAN BUKU PILIHAN DIANGGAP TIDAK SAH;
6. Sistem pemilihan pemenang adalah pengundian;

7. Keputusan pengundian tidak dapat diganggu gugat;

8. Batas waktu pengiriman jawaban adalah hari Jumat, tanggal 6 Agustus 2010, pukul 00.00 Waktu Indonesia Bagian Barat.

9. Semoga sistem pengundian ini terlepas dari unsur-unsur haram dalam hukum keagamaan.


Pertanyaan:

1. Apakah menurut Anda ada perbedaan antara novel fiksi chicklit, teenlit, dan metropop?
a. Ada, alasan:………………………………………………………………………….
b. Tidak ada, alasan:……………………………………………………………………...

2. Apakah Anda pernah membaca novel fiksi kategori chicklit/teenlit/metropop hasil tulisan penulis Indonesia?
a. Sering
b. Jarang
c. Sekali waktu (satu-dua judul saja)
d. Tidak pernah

3. Apakah Anda pernah membaca novel fiksi kategori chicklit/teenlit/metropop terjemahan?
a. Sering
b. Jarang
c. Sekali waktu (satu-dua judul saja)
d. Tidak pernah

Catatan: Jika Anda menjawab “Tidak pernah” untuk pertanyaan nomor 2 dan 3, maka Anda tidak perlu menjawab pertanyaan nomor 4 s.d. 6

4. Bagaimanakah kualitas novel fiksi kategori chicklit/teenlit/metropop Indonesia dibandingkan dengan karya terjemahan?
a. Lebih baik
b. Sama baik
c. Cukup baik
d. Kurang

5. Apa kelebihan novel fiksi kategori chicklit/teenlit/metropop menurut Anda? (pilihan boleh lebih dari satu)
a. Menghibur
b. Unik
c. Menghadirkan hal-hal baru
d. Bertema keseharian
e. Lainnya:………………………………………………………………………………………….

6. Apa kelemahan novel fiksi kategori chicklit/teenlit/metropop menurut Anda? (pilihan boleh lebih dari satu)
a. Lebay
b. Klise
c. Tidak realistis/too perfect to be true
d. Tidak orisinil
e. Lainnya:………………………………………………………………………………………………

Terima kasih atas partisipasi Anda.

Book Event: Discount 30% - Grand Opening Gramedia Bookstore @ Central Park Mal

Tambahan bacaan baru (yang entah kapan bisa dibaca, duhhh)



Grand Opening Gramedia Central Park
Discount 30% All Items
From : 31 July - 8 August 2010

Dari pertengahan hingga akhir bulan Juli ini, saya sudah mencanangkan gerakan “stop shopping and start reading”, mengingat timbunan buku-novel saya yang, astaganaga, sudah mulai tak muat dijubelkan di satu lemari buku saya. Fiuuhhh, gara-gara kalap di Pesta Buku Jakarta 2010 kemarin dan beberapa sesi diskon dari mulut ke mulut beberapa teman, saya dengan semangatnya membeli apa saja yang menarik mata. Nahhh, sekarang saya jadi susah ngebayangin bagaimana kalau saya pindah kost atau kontrakan,…iya kalau buku-buku itu sudah saya tuntaskan-baca seluruhnya, ini belum, double waduh lah…

Ehhhhh, ini Gramedia ternyata malah ‘menggoda’ saya lagi, dengan ngadain event diskon 30% all items pada Grand Opening Gramedia Bookstore di mal Central Park, kompleks Taman Anggrek. Maka, tak kuatlah benteng niat saya, sehingga hari ini, saya kembali kalap memborong beberapa buku-novel chicklit-teenlit-metropop di sana. Dan, untuk kali ini temanya adalah “Revenge for Gagas Media”. Iya, saya memang sedang sebal sama penerbit satu ini, karena jarang sekali memberikan diskon besar di pelbagai event. Bahkan di PBJ 2010 kemarin saja (sebagaimana keikutsertaan penerbit ini pada ajang pameran lainnya) kembali hanya memberi diskon 10%. Ya ampunnnn, minim banget sih. Diskon toko buku online saja 15%. Kebangetan.

Maka, pantaslah saya kali ini memilih tema ‘balas-dendam’ dengan membeli beberapa eksemplar novel terbitan Gagas Media. Hmm, pengen tau, buku apa saja yang saya beli? Berikut saya berikan daftarnya:

Terbitan Gagas:
1. Orange (Windry Ramadhina) – Rp35.000 (Rp24.500)
2. Rain Affair (Clara Canceriana) – Rp34.500 (Rp24.150)
3. Kisah Langit Merah (Bubin Lantang) – Rp37.000 (Rp25.900)
4. Outrageous (Momoe Rizal) – Rp37.000 (Rp25.900)
5. Orang Ketiga (Yuditha Hardini) – Rp30.000 (Rp21.000)
6. Dongeng Semusim (Sefryana Khairil) – Rp35.500 (Rp24.850)
7. Rindu (Sefryana Khairil) – Rp35.000 (Rp24.500)
8. Mendamba (Aditia Yudio) – Rp34.000 (Rp23.800)
9. Mendua (Indah Hanaco) – Rp38.500 (Rp26.950)







Terbitan Gramedia:
1. Galau Remaja di SMA (Mira W) – Rp31.000 (Rp21.700)
2. Dari Jendela SMP (Mira W) – Rp38.500 (Rp26.950)
3. Suami Pilihan Suamiku (Mira W) – Rp32.000 (22.400)
4. Cewek Matre (Alberthiene Endah) – Rp55.000 (Rp38.500) ----BELI ULANG! Yang pertama beli sudah lepas jilidannya, duhhh, sayang bangets!
5. Best Man (Matt Dunn) – Rp50.000 (Rp35.000)
6. Fortunata (Ria N. Badaria) – Rp29.000 (Rp20.300)

Penerbit Matahati:
1. Frostbite – Vampire Academy 2 (Richelle Mead) – Rp64.500 (Rp45.150)

Penerbit Authorized Books:
1. Fate (Orizuka) – Rp41.000 (Rp28.700)

Yah, itulah daftar belanjaan saya hari ini (plus ada bberapa eksemplar titipan teman)…ugh, sampai bikin pegel pundak pas mencangklong tas belanjaan tadi. Semoga semuanya bisa saya baca, amiiinnn….dan semoga pula cerita buku-novelnya bagus-bagus….amiiinn..

Nah, bagi yang mau ngeborong juga, tenang, Gramedia sale ini masih berlangsung satu minggu ke depan kok. Yah, siapkan stamina saja buat mengantrenya…pasti panjangggggg dan lamaaaaaa…..:)

Friday, July 23, 2010

Resensi Novel Chicklit: Rina Suryakusuma - Lukisan Keempat (Amore 01)

Jalan panjang berdamai dengan masa lalu

Rating: 2,5 dari 5 Bintang



Judul: Lukisan Keempat
Penulis: Rina Suryakusuma
Editor: Novera Kresnawati
Co. Editor: Irna Permanasari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Lini: Amore
Tebal: 224 hlm
Harga: Rp30.000
Rilis: Pebruari 2010
ISBN: 978-979-22-5457-0

Natasya Petra Rahadian melarikan rasa frustasinya setelah putus cinta dari Edward Dwiansyah dengan meng-apply lowongan pekerjaan sebagai stewardess sebuah maskapai penerbangan internasional yang berbasis di Amerika Serikat. Ia berharap diterima sehingga dapat segera menyingkir dari segala kenangan tentang Edward untuk sementara waktu, kalau perlu selamanya. Tak dinyana, Natasya lolos seleksi hingga dikirim ke Colorado untuk mengikuti training calon pramugari sebelum secara resmi dikontrak oleh maskapai tersebut. Dan, dimulailah babak baru episode kehidupannya.

Natasya mulai ada rasa pada trainernya yang ternyata adalah seorang pilot, meski kemudian dia kembali harus tertusuk realita bahwa cowok itu berselingkuh dengan teman baiknya sesama pramugari. Pada saat itulah, Natasya dipertemukan oleh takdir dengan seorang penumpang pesawat menyebalkan yang berusaha menarik perhatiannya. Aura permusuhan yang muncrat pada awalnya, perlahan menjadi semacam candu yang membakar gairah asmara Natasya hingga ia tak lagi mampu membohongi diri sendiri bahwa ia terjatuh dalam kubangan pesona si penumpang bengal tersebut. Apakah kali ini kisah cinta Natasya akan berakhir dengan happy ending? Belum lagi ketika laki-laki lain dari masa lalunya tiba-tiba menyeruak ke dalam hidupnya, bagaimana ia menghadapinya? Lalu, apa yang dimaksud dengan lukisan keempat itu? Temukan jawaban-jawabannya dengan membaca novel pertama dari lini Amore yang digagas Gramedia ini.

Kecewa dengan keseluruhan elemen cerita dalam novel Amore 02 membuat saya sempat mengucap ‘sumpah’ untuk tak lagi menyentuh novel lain dari lini Amore ini. Namun, ternyata saya malah tak tahan untuk ikut-ikutan teman yang sudah membaca novel Amore 01 dan berkomentar bahwa it was better than Amore 02. Saya menjadi tertarik dan kebetulan ada teman yang baru membelinya dan mengizinkan saya “memerawaninya” terlebih dahulu. Terima kasih buat mas Tomo.

Hasilnya? Saya setuju dengan komentar teman tersebut bahwa novel ini lebih ngalir ketimbang novel Amore 02. Meskipun masih sama-sama dalam dunia khayal kesempurnaan para tokohnya, namun Lukisan Keempat ini menyajikan cerita yang lebih natural dan smooth. Metamorfosis karakter rekaan sang penulis dapat terekam dengan baik dan cukup hidup dalam belitan konflik yang diciptakannya. Walaupun, lagi-lagi, semua berjalan dengan sangat sederhana. Dan, tidak terlalu istimewa.

Seharusnya, terlebih dahulu saya mengosongkan pikiran dari segala pengetahuan yang pernah terekam dalam memori otak sebelum mulai membaca sebuah buku untuk menghindari keinginan hati mengaitkan cerita dalam buku yang saya baca dengan cerita lain yang pernah saya baca, dengar, atau lihat sebelumnya. Sayang, saya tak terpikir melakukannya ketika mulai membaca novel ini, sehingga kelebatan adegan demi adegan film View From The Top-nya Gwyneth Paltrow tak mampu saya bendung dan menyerbu benak saya. Tapi, untunglah, kesamaan novel ini dengan film itu sepertinya hanya terletak pada latar belakang kehidupan pramugari dan situasi training di awalnya saja. Selebihnya, seingat saya, berbeda sekali. Ahh, jadi pengen nonton film itu lagi…

Novel ini memang tidak menawarkan sebuah cerita yang rumit dan penulis juga nampaknya tidak berkeinginan untuk membuatnya rumit. Tak ada konflik bombastis dan hanya berkutat pada nasib percintaan tokoh utama sebelum dipertemukan dengan ‘jodoh’ yang telah dipersiapkan oleh si penulis. Yeah, ‘lil bit boring memang karena segalanya menjadi tampak begitu mudah. Pengaturan tokoh yang bermusuhan-dahulu-berkencan-kemudian terjadi begitu gampang tanpa banyak halangan. Namun, cara mengemas penulis patut diacungi jempol, sehingga pembaca (saya, maksudnya) bisa ikut larut dalam setiap adegan yang dimainkan oleh para tokohnya.

Pada satu sisi saya menyukai bagaimana sosok Craig ditampilkan sedikit tersamar, misterius. Namun, pada sisi yang lain juga ingin menuntut jawaban atas pertanyaan bagaimana ia bisa tahu banyak hal tentang Natasya. Dan, entah apakah ada fakta yang terlewat, seingat saya, penulis memang tidak menerangkan posisi Craig secara jelas, pekerjaan, keseharian, dan atau kekuasaan yang dimilikinya, sehingga memungkinkannya untuk memperoleh informasi-informasi penting soal Natasya itu. Bukan masalah sih dibiarkan misterius, tapi tetap saja diperlukan jawaban pasti atas pertanyaan mendasar itu. Di buku selanjutnya, maybe?

As usual, berikut laporan kejanggalan yang saya temukan di novel ini:
(hlm. 22) …ucap si pris bule………, pris = pria

(hlm. 16, 23, 114, 194, 195)…..hmm, meskipun dalam KBBI terdapat kata ‘kuatir’ namun juga ingin tahu artinya disarankan merujuk kata khawatir, nah, dalam novel ini alih-alih kata khawatir atau cemas, penulis lebih menggemari menggunakan kata ‘kuatir’, bagi saya kata itu lebih cocok untuk percakapan/dialog, sedang untuk deskripsi/narasi lebih enak jika memakai ‘khawatir’. Namun, sempat pula agak keselip ingin menggunakan kata khawatir (hlm. 26) tapi justru menjadi typo….mengkhatirkan = mengkhawatirkan?

(hlm. 83) unbeliaveble = unbelievable

(hlm. 108) adakah istilah force major untuk kondisi darurat/mendesak……..kalau setahu saya sih force majeur(e)

(hlm. 114) ….Craig ada didekatnya……., didekatnya seharusnya dipisah = di dekatnya

(hlm. 123) “What?” Tasia tercengang menatap Craig……, ehmm, seharusnya demi konsistensi, untuk selain dialog penulisan nama tokohnya yang lengkap, Natasya, apalagi diceritakan bahwa panggilan “Tasia” hanya dilakukan oleh dua orang tokoh tertentu di novel ini

(hlm. 164) Semua impiannya terkabu……., terkabu = terkabul

(hlm. 170) “……apa akibatnya?” mama menatap anak…….., mama = Mama

(hlm. 188) kurang tanda titik pada kalimat akhir paragraf….gadis yang bisa dibawa-bawa(titik)


My thought: saya kok agak geli ya membaca frasa “memijit tombol handphone”…kalau mendengar kata itu, saya selalu terasosiasikan pada kegiatan pijat-urut. Sama juga dengan frasa “mengenakan lipstik”, hmmm….agak kurang familiar saja, bagi saya, soalnya terbiasa mendengar, “mengenakan kemeja” atau “mengenakan sepatu”
Dalam ukuran selera saya sih, typo tersebut masih dalam batas wajar dan tidak begitu mengganggu dalam proses melumat cerita novel ini. Namun, tetap saja, hal tersebut menunjukkan masih terdapatnya titik lemah pada sektor penjaminan kualitas cetakan yang perlu dibenahi. Kenapa sih guwe secerewet ini? Pertama, saya ingin seluruh elemen yang terlibat dalam penerbitan sebuah buku sadar bahwa kualitas cetakan juga penting sehingga sangat perlu untuk menghindari beragam ‘cacat’. Kedua, sudah ada yang namanya editor jadi harusnya kesalahan seperti ini dapat terminimalisir, kalaupun ada yang menyebutkan bahwa bisa saja terdapat faktor-faktor khusus pada proses konversi file ke dalam aplikasi lain untuk dicetak, masak iya nggak ada quality check lagi pada tahap itu? Ketiga, pada kenyataannya ada lho buku yang ‘nyaris’ tidak ada ‘cacat’ teknis cetaknya, jadi kenapa buku yang lain tak bisa begitu.

Oops, kok malah melantur ke mana-mana. Kembali ke…..buku ini. Pada akhirnya, saya memang menyukai novel Lukisan Keempat ini. Bagaimana alur dibiarkan mengalir alami dan latar belakang pramugari yang meskipun tidak diuraikan secara mendetail tapi cukup untuk dapat menghilangkan kesan bahwa profesi itu ‘hanya’ tempelan belaka, membuat saya nyaman menuntaskan novel tipis yang baru saya sadari font-nya agak lebih eye-friendly ketimbang novel Amore 02, sehingga tidak melelahkan mata. Ending berasa mengundang sekuel meskipun ternyata kata penulisnya, ia belum memiliki gambaran akan meneruskan cerita ini atau tidak. Bagi saya, I love to wait for the next story of Natasya.

Okay, enjoy reading, people!

Sinopsis:
Sebagai pramugari maskapai penerbangan internasional Corissa Airlines, tidak seorang pun mengira Natasya Petra Rahadian memiliki tiga fase kehidupan yang membuat gadis itu terluka karena cinta.

Dimulai dari ayahnya yang meninggalkan Natasya bersama ibu dan adiknya. Kekasih masa kuliah yang menduakannya dengan sahabat karibnya sendiri. Dan terakhir, pilot yang dekat dengan dirinya ketika menjalani pelatihan berselingkuh dengan teman sekamarnya.

Natasya bersumpah takkan jatuh cinta lagi. Sampai ia bertemu Craig Hayden, penumpang Corissa Airlines yang menyebalkan. Sementara Craig sudah tertarik pada Natasya yang begitu menawan hati saat kali pertama ia memandangnya.

Entah bagaimana Craig tahu, Nat memendam luka dalam hidupnya. Ia bertekad akan menyingkap kabut tersebut, memberi Natasya siraman kasih sayang, dan mengembalikan kepercayaannya kepada cinta.

Mampukah Craig membuktikan bahwa ia layak masuk dalam kehidupan Natasya? Bisakah Craig mewujudkan tekadnya untuk menjadi bagian dari lukisan hidup Natasya yang keempat, sekaligus yang terakhir?

Saturday, July 10, 2010

Resensi Novel Chicklit: Yunisa KD - Memory and Destiny (Amore 02)

(mungkin) Saya hanya nggak dapet feel-nya

Rating: 1 out of 5 stars



Judul: Memory and Destiny
Penulis: Yunisa KD
Editor: Hetih Rusli
Co-editor: Raya Fitrah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Lini: Amore
Tebal: 264 hlm
Harga: Rp30.000
Rilis: April 2010
ISBN: 978-979-22-5658

Maroon Winata kecil tidak menyadari bahwa sesosok lelaki dewasa bernama Donald Basuki yang selalu menemaninya belajar dan bermain adalah bukan seutuhnya manusia. Maroon seolah tak peduli dan hanya menikmati kehangatan hubungan yang terjalin diantara dirinya dan Donald, karena Donald selalu berhasil membuatnya nyaman sebagai sahabat yang membantu melewati masa-masa sulit sejak kepindahannya dari London ke Jakarta. Namun perjumpaan itu pada akhirnya harus berujung pada sebuah perpisahan ketika Donald menghilang dari kehidupan Maroon.

Waktu terus berganti, cerita kehidupan Maroon pun bergulir meninggalkan jejak-jejak yang penuh warna. Begitu pula pada tokoh-tokoh lain, termasuk keluarganya, teman-temannya, juga dua orang lelaki yang kelak menggoreskan tinta dengan warna berbeda pada lembaran kehidupan Maroon yang sangat penting, yaitu Donald dan David. Lalu di manakah Maroon dapat bertemu dengan destiny-nya? Apakah sepotong memory masa lalunya yang sempat hilang dapat menuntunnya ke arah yang benar? Temukan jawabannya dengan membaca novel dalam lini terbaru Gramedia, Amore, karya Yunisa KD ini.

Sejak awal, saya sudah menyampirkan asa setinggi angkasa bahwa lini baru Gramedia ini setidaknya bisa melengkapi lini metropop yang novel-novelnya saya gemari. Apalagi ketika saya menyadari editor yang menggawangi kemunculan lini ini sama dengan yang membidani kelahiran metropop. Buncah harapan itu terbit dalam bisik kalimat di hati, “kalo yang ini oke, guwe bakal ngikutin Amore seterusnya deh, gak peduli siapa penulisnya.” Nyatanya, hmm… saya agak kecewa, dan yah boleh dibilang icip-icip saya ini membawa simpulan untuk mencukupkan baca lini Amore pada novel ini saja. Saya fokus ke metropop saja lah. Seperti sejak mula.

Sekilas, kemasan novel pada lini ini hampir mirip dengan harlequin. Baik dari segi ukuran (panjang-lebar) hingga cover design-nya. Sedangkan jika dibandingkan dengan metropop yang sebagian besar masih menggunakan gambar ilustrasi (bukan foto) saya lebih appreciate metropop yang menggunakan cover gambar karena lebih original (penilaian subjektif). Tapi, dibanding Lukisan Keempat (Amore 01 karya Rina Suryakusuma) saya lebih suka cover novel ini, karena saya adalah penggemar kota London (Inggris secara umum).

Membaca lembar-lembar awalnya, saya seolah diberikan harapan akan mendapat sebuah sajian romance story yang menjanjikan. Namun, antusiasme saya justru terus menurun dan secara perlahan saya menjadi agak terengah-engah membaca lembar-lembar selanjutnya. Yang paling membuat saya hilang semangat adalah potongan adegan di halaman 34 – 35. Karena adegan tersebut sangat mirip dengan film Just Like Heaven-nya Reese Witherspoon dan Mark Ruffalo. Saya mungkin tidak akan mempermasalahkannya kalau saja penulis tidak secara terang-terangan mengidolakan Reese, yang artinya seharusnya dia sudah menonton film ini. Entah ceritanya beliau terinspirasi dari film tersebut sehingga menulis novel ini atau bagaimana, yang jelas saya agak kecewa dengan kesamaan adegan ‘pengusiran-arwah’ (bahkan soal sosok Donald juga mirip dengan Elizabeth yang diperankan oleh Reese, yang keduanya adalah ‘jiwa-kelana’ dari seseorang yang sedang koma, sama-sama berprofesi sebagai dokter, serta mengalami jenis kecelakaan yang sama, astaga!). Dan, yang membuat saya semakin ilfil adalah film ini pun sudah dijiplak (entah berijin atau tidak) oleh Multivision Plus dalam bentuk sebuah film televisi yang saat ini masih bisa didapatkan keping VCD originalnya (saya beli!) dengan judul Cinta Untuk Cinta yang dibintangi oleh Masayu Anastasia dan Dimas Seto. Ya ampunn….

Okay, mungkin karena penulisnya tinggal dan menetap di luar negeri sehingga tak tahu-menahu soal FTV ini, lalu apakah editor (yang orang Indonesia) juga tidak tahu? Fine, mari di-justifikasi lagi bahwa penulis dan editor tidak tahu atau kenyataan bahwa di zaman sekarang sudah lumrah jika satu karya dengan karya yang lain bisa saja ada kesamaan, tapi… apa iya harus mirip banget begitu? Soalnya yang bikin geli, versi novel ini mirip banget sama versi FTV-nya (ada ahli agamanya, ada ahli perdukunan lokal, dan ada ahli perdukunan China). What a coincidence, hah!

Dan, ngomong-ngomong soal kebetulan, novel ini dipenuhi dengan taburan kebetulan demi kebetulan yang too much, menurut saya. Okay, judulnya memang merujuk pada destiny, tapi masak iya destiny itu begitu mudahnya dituju dengan serendipity yang sebagian kurang penjelasan. Pertama, saya ingin tahu bagaimana seorang Donald bisa berteman dengan Wiro, di mana Wiro adalah bersepupu dengan Sharon yang adalah teman Maroon. Kedua, termasuk juga kebetulan Donald satu tempat fitness bersama Romeo II (ada dua nama Romeo di novel ini) yang nantinya adalah calon suami Sharon, teman Maroon, kok bisa? Ketiga, saya ingin tahu mengapa Donald bisa bertugas sebagai dokter di Singapura dan secara kebetulan Maroon sedang mengambil spesialisasi keahlian kedokterannya di negeri Singa itu. Keempat, sedang ngapain kah Donald ke Westminster Abbey pada Kamis 18 Juni 2009 ketika Maroon juga secara kebetulan pergi ke situ. Saya perlu logic-nya.

Amnesia lagi – amnesia lagi. Rasanya sudah semakin membosankan tema hilang-ingatan-sementara ini diangkat menjadi latar sebuah kisah percintaan karena ujungnya pasti ketebak, begitu ingatannya kembali, si tokoh akan kembali ke pelukan love interest pertama. Dan, penulis mengambil pakem itu juga. Yang agak aneh adalah begitu ingatannya kembali, Maroon blingsatan mencari kesana-kemari sosok Donald di Singapura. Lah, kan di handphone Maroon ada nomor kontak Donald (seingat saya tidak diceritakan Donald mengganti nomor kontaknya dan meskipun di halaman 203 disebutkan Maroon tak yakin itu nomor kontak Donald, setidaknya ia bisa mencobanya, ataukah karena amnesia maka seluruh kejadian di saat amnesia akan terlupa ketika ingatan sudah kembali? Dunno).

Sudah hilang selera akibat adegan per adegannya, kepenatan saya ditambah dengan banyaknya typo dan kejanggalan kata/kalimat yang bertaburan di sana-sini. Sebut saya aneh (atau bahkan gila/miring/sedeng) bahwa saya kurang kerjaan banget memelototi kesalahan teknis sebuah buku. Namun, apa mau dikata jika kesalahan-kesalahan teknis tersebut memengaruhi kenyamanan saya dalam membaca. Maklum, otak saya tidak lagi prima (sudah dari dulunya sih) sehingga sedikit kesalahan teknis-cetak membuat proses membaca saya menjadi ter-pause dan otak bekerja keras menafsir sendiri apa maksud dari kata/kalimat tersebut. Berikut beberapa kejanggalan yang saya temukan:
(hlm: 11) menggenaskan, (hlm: 24) mengenaskan = inkonsistensi

(hlm: 15 dan 63) kata di panggil harusnya digabung menjadi dipanggil (merujuk kata kerja)

(hlm: 16) meski dia sudah pernah mendengar….., dan dia masih ingin… ini hanya soal enak diucap-didengarkan versi saya sih, sebaiknya kata meski diikuti kata sambung tapi/namun, bukan dan….meski dia sudah pernah mendengar….., tetapi/namun dia masih ingin…

(hlm: 18, 64, 137) ha-rus, pergela-ngan, ada-lah, sebaiknya tanda (-) dibuang saja karena kata tersebut muat dalam satu kalimat (sebatas marjin halaman).

(hlm: 20) …menunjuk ke arah pedagang asongan [yang:] menawarkan… (hlm: 117) …aku tidak bisa mengingat siapa laki-laki [yang:] duduk itu,….lebih enak dikasih tambahan kata ‘yang’

(hlm: 21) memertahankan, (hlm: 89) memedulikan, (hlm: 171) memerkenalkan, (hlm: 192) memerlakukan, (hlm: ?) memerlancar…terkhusus hal ini saya sendiri belum mencari aturan bakunya, namun secara lidah penulisan itu kurang begitu enak diucapkan.

(hlm: 27) aku sempat cita-cita menjadi penyanyi opera…lebih enak jika kata cita-cita diubah menjadi bercita-cita.

(hlm: 28) menyamangati = menyemangati

(hlm: 36) …masker oksigen di pasangkan…kata dipasangkan terpisah batas marjin, sebaiknya demi konsistensi diberi tanda (-) menjadi di-pasangkan.

(hlm: 37) Lalu kau bisa menghajar anak-anak yang mengolok-olokmu…saya merasa terlalu kasar nasihat yang diberikan Donald pada Maroon yang baru 10 tahun ini (kata “menghajar”).

(hlm: 48) semua bully di kelasku menjadi tidak berkutik…bukankah seharusnya yang tidak berkutik itu ‘pelaku’ bully, bukan bully-nya.

(hlm: 62) mengantung = menggantung

(hlm: 68) …aku sudah memimpikannya keberadaannya……fungsi –nya pada kata memimpikannya untuk apa ya? Menurut saya mending dibuang saja.

(hlm: 73-74) entahlah, saya masih tidak bisa menerima seorang profesor salah memberikan resep.

(hlm: 74) pertanyaan-pertanyakan = pertanyaan-pertanyaan

(hlm: 76) Maroon tidak hanyak = hanya

(hlm: 77) padahal dia baru beberapa tahun yang lalu, ia melewati masa…….saya agak kurang sreg dengan kalimat ini, redundansi pada kata ganti (dia, ia), lebih baik dibuang salah satunya.

(hlm: 82) saya agak muak dengan proses pengenalan tokoh David di sini karena kemudian terdapat jeda yang agak lama sebelum tokoh ini ‘tampil’ lagi, maaf.

(hlm: 89) …pria muda ini mengajak orang-nya bersulang….orang-nya = orangtuanya?

(hlm: 92) …mendampingin = mendampingi (ataukah sengaja dipakai sebagai bahasa gaul dengan tambahan huruf n, kalau mau gaul sekalian ditulis “ngedampingin”)

(hlm: 94) kuturunkan cursor, kembali kembali ke…….duplikasi kata ‘kembali’

(hlm: 94) tidak hapis bikir…..hapis = habis

(hlm: 95) tidak ada yang menyeram di jogging…….menyeram = menyeram[kan:]

(hlm: 110, 119) terpekur, (hlm: 124) tepekur = inkonsistensi

(hlm: 111) keaggunan = keanggunan

(hlm: 114) menakhlukkan = menaklukkan

(hlm: 131) penasar-an, (hlm: 179) tatan-an….. yang ini saya belum mencari kebenaran cara pemenggalan kata tersebut.

(hlm: 137-138) mati aku, ini cewek ini kayaknya…..duplikasi kata ‘ini’, sebaiknya buang salah satu

(hlm: 165) ada alasan untuk mengantarnya Maroon untuk pulang…..’nya’ itu merujuk ke Maroon, jadi sebaiknya pilih salah satu saja, menggunakan ‘nya’ atau Maroon.

(hlm: 177 dan satu hlm lagi saya lupa) nama Maroon terketik Maron, kurang satu 'o'.

(hlm: 189) ..untuk memainkan melodi Basch....siapa itu Basch? Johann Sebastian Bach (Bach)kah yang dimaksud?

(hlm: 214) …entah karena…..dengan sepenuh hati atau makin benturan kepala……saya merasa ada kata yang ‘nyelip’ di antara kata makin dan benturan.

(hlm: 228) rencanaku pertama sebenarnya memang menyusul Donald di negeri Singa….bagaimana kalau saya usul begini: rencana pertamaku sebenarnya memang untuk menyusul Donald ke negeri Singa.

(hlm: 236) …mirip orang gadis Harajuku yang…….saya kok merasa kata orang dan gadis redundansi ya? Sebaiknya kata orang-nya dibuang, langsung disebut gadis Harajuku saja.

(hlm: 237) …setengah menelanjangi isi hatiku, sambil melepaskannya pelukan beruang Teddy ala…….aku kok merasa kurang pas dengan kata melepaskannya pelukan.

(hlm: 239) pria yang baru akan kukenal…..kukenal = kukenal[kan:]

(hlm: 247) …lagu Sunday Morning milik Maroon 5 yang selalu diputar Donald di setiap Minggu pagi saat kami bertemu untuk brunch selama beberapa ini……saya merasa ada informasi yang hilang, harusnya setelah kata beberapa ditambahkan keterangan waktu.

(hlm: 251) …ketika kamar pintu diketuk….rasanya terbalik, lebih enak ‘pintu kamar diketuk’.
Tambahan: cetak miring/tidak pada beberapa tempat juga masih inkonsisten, termasuk untuk menggambarkan suasana hati (bukan dialog) kadang menggunakan tanda petik, kadang dimiringkan.

Itulah beberapa kejanggalan yang saya temukan ketika merampungkan-baca novel bercover dominasi langit biru ini. Untuk deskripsi saya juga agak terganggu dengan pengulangan-pengulangan informasi tokoh atau keadaan. Misalnya, di awal sudah dideskripsikan bahwa Donald itu tampan bla-bla-bla, dan saya yakin pembaca sudah mampu menangkap pesannya, namun informasi ini diulang lagi-ulang lagi untuk menggambarkan sosok Donald. Begitu juga dengan tokoh David yang dimirip-miripkan Ricky Martin. Behhhh, saya sampai mual membaca nama Ricky Martin yang banyak itu, saya sampai berniat nyeletuk, “iya-iya udah tau, kan dah lo bilang tadi, capek dehhh…” Termasuk juga informasi soal Wiro yang homo. Beberapa kali jika tokoh ini muncul, si pembicara selalu menambahi, “sepupu Sharon yang homo.” Saya pikir sekali-dua kali saja pembaca sudah bisa menangkap deskripsi tokoh tersebut, tidak perlu diulang-ulang-ulang-ulang-ulang-ulang.

Intermezo: novel ini harusnya bersifat futuristik (setting hingga tahun 2015, berarti 2012 nggak jadi kiamat) sehingga seharusnya penulis berkreasi dengan menciptakan nuansa-nuansa masa depan. Sayang sekali, saya justru tidak merasakannya. Misal istilah lebay yang sekarang sedang nge-trend ternyata oleh penulis masih dianggap sebuah trend di tahun 2015. Gosip-gosip artis juga jadul sekali, misal soal perceraian Britney Spears – Kevin Federline atau tentang salah satu lagunya Jessica Simpson. Saya berharap penulis berinovasi dengan menghadirkan suasana future yang mampu menggeliatkan fantasi pembacanya.

Soal lain, saya berharap penulis konsisten untuk menghadirkan tokoh Olivia (adik Maroon), yang kadang disebutkan sebagai Olive. Hal itu tidak menjadi masalah kalau nama Olivia dan Olive dibedakan pemakaiannya, misalnya dipanggil Olive jika terjadi dialog atau ketika salah satu tokoh bercerita dari PoV mereka (sebagai panggilan sayang) dan disebut Olivia dalam narasi/deskripsi.

Hmm, kritik terakhir. Dan, lagi-lagi berdasar selera saya (subjektif banget). Konsistenlah, wahai sang penulis. Jikalau tidak bisa fokus, mending gunakan satu PoV saja dalam penceritaannya, tidak perlu berganti-ganti PoV. Saya jadi merasa bahwa penulis benar-benar tuhan di novel ini. Penulis mencoba menjadi dalang otoriter yang mengendalikan semua tokohnya sehingga tidak menyisakan ruang imajinasi bagi pembacanya.

Akhirnya, saya hanya dapat menyimpulkan bahwa novel ini adalah sekadar kisah cinta segitiga biasa yang seperempat bagian awalnya mirip jalan cerita sebuah film. Konflik hanya berputar di situ-situ saja dengan senjata andalan: amnesia. Namun, tentu saja, keseluruhan cuap-cuap ini hanyalah sekadar penilaian subjektif saya yang kebetulan kurang dapat feel dari novel setebal 250-an halaman ini. Maka, bagi yang ingin mengerti maksud judul Memory and Destiny, silakan baca novel yang ditulis oleh Yunisa KD, salah satu dari Top 5 Finalis Pantene Shine Award 2006 di Singapura, ini.

Selamat membaca.

Sinopsis (cover belakang buku):
Memory and Destiny. Kisah cinta dua dunia. Apakah teman khayalan itu benar-benar ada? Ataukah itu malaikat pelindung anak kecil?

Maroon Winata, calon dokter, yakin bahwa Donald-nya benar-benar ada. Sejak pertemuan pertama di Westminster Abbey, pada hari terakhir Maroon kecil di kota London, sampai Maroon di Jakarta dan berjuang menyesuaikan diri dari lidah bule ke bahasa ibunya, Donald adalah teman bermain dan belajar.

Maroon dan Donald dewasa bertemu, namun mereka belum menemukan tali penghubung memory masa lalu mereka. Nasib mempermainkan mereka. Lalu muncullah David yang tampan dan kaya. Lelaki itu percaya destiny telah mempertemukannya dengan Maroon. Memory dan destiny dalam hidup Maroon pada akhirnya menunjukkan bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.

Saturday, June 5, 2010

(2010 - 11) Resensi Novel Teenlit: Charon - 7 Hari Menembus Waktu

Haruskah saya ikut bilang, “harap maklum”?

Rating: 1 dari 5 bintang



Judul: 7 Hari Menembus Waktu
Pengarang: Charon
Editor: ……(Ike)
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Teenlit
Tebal: 176 hlm
Harga: Rp25.000 (Toko)
Rilis: Maret 2010
ISBN: 978-979-22-5518-8

Marissa secara tak sengaja terlempar ke masa dua puluh tahun ke belakang saat mengumpat di depan sebuah lukisan ‘ajaib’ yang terpajang di gedung tempat penyelenggaraan pesta yang tak dikehendakinya untuk dihadiri. Dari tahun 2008 Marissa terperangkap di tahun 1988 ketika kedua orangtuanya belum bersepakat menjalin hubungan. Di tahun itu, ia bertemu dengan Wiliam, seorang anak yatim-piatu kaya yang bersifat dingin dan tertutup.

Berdasarkan simpulannya, ia baru bisa kembali ke masanya 7 hari dari hari itu, ketika lukisan ajaib itu untuk kali pertama dipajang. Sembari menunggu waktu tersebut, Marissa berpetualang bersama Wiliam. Dan, rekaman 7 hari petualangan Marissa bersama Wiliam itulah yang menjadi inti keseluruhan teenlit ini.

Permakluman adalah satu bentuk pengingkaran terhadap sesuatu dengan mengesampingkan pemenuhan kriteria demi pengakuan terhadapnya. Dan, mungkin saja, saya juga diingatkan untuk mempersembahkan “harap maklum” ketika membaca (dan meresensi) novel teenlit terbaru karya Charon ini. Ya maklum donk, ini kan teenlit, dan kau bukanlah target yang disasar novel ini jadi jangan menilai seenak jidatmu, teriak ‘suara-di-salah-satu-sisi-kuping’ saya yang mempermaklumkan keberadaan novel ini. Tapi, lagi-lagi saya bersembunyi di balik kata “hak saya” untuk tak mengindahkan imbauan permakluman tersebut.

Ide ceritanya memang cemerlang, harus saya akui itu. Segar dan menghibur. Namun sayang, gaya penyampaiannya agak kurang oke, menurut selera saya. Lagi-lagi saya dibuat muak dengan tokoh yang tidak semestinya. Imagining, umur 18 tahun, masih suka lelet-leletin lidah, ya ampun. TK banget sih. Tak cukup begitu, sebagai produk Jakarta di tahun 2008, saya tidak menemukan sentuhan modern dari seorang cewek masa kini pada diri Marissa. Bahkan, ketika ia terlempar ke situasi jadul, ia bisa nge-blend (beradaptasi) dengan begitu mudahnya. Ia hanya kagok pada jenis makanan dan permainan yang berbeda antara masa itu dan masanya di 2008. Harusnya dibuat agak sedikit gegar budaya untuk merasionalkan cerita.

Oke, berikut list kejanggalan yang saya temukan di teenlit ini:

(hlm: 23) tanpa sebab, kenapa Wiliam memanggil Marissa kakak padahal di awal jumpa Wiliam cukup memanggil namanya saja, hal tersebut membuat karakter Wiliam yang dingin menjadi agak meleleh tidak pada waktu yang tepat.

(hlm: 35) harusnya halaman ini berkaitan dengan halaman 10, soal pencantuman tanggal 6 Juli 1988, nyatanya tidak ada keterangan tanggal itu di halaman 10, justru di halaman 13 tanggal itu baru tercantum.

(hlm: 37) dua tahun yang lalu, ketika Marissa sembunyi-sembunyi memakai kosmetik, Mami marah besar. Sekarang, ternyata Mami…kata dua tahun lalu dan sekarang agak kurang pas digunakan, karena rujukan waktunya di masa lalu. Lebih baik jika diganti, “padahal waktu mudanya/masa kuliahnya Mami…(hanya usulan).

Bandingkan ini, apakah ada yang janggal (hlm: 34) dengan seribu rupiah, kau bisa membayar bensin motor selama seminggu. (hlm: 41) dua mangkuk mie bakso hanya 500 rupiah. 1000=4 mangkuk bakso=seminggu bensin? Benarkah? Akuratkah data ini?

(hlm: 47) harusnya Jimmy tertulis Jummy.

(hlm: 48) harusnya Wiliam tertulis William.

(hlm: 59) harusnya menyadari tertulis meyadari.

Logika menjadi terlupa ataukah sengaja dipercepat ketika Marissa yang tidak punya uang (dan menjadi punya uang dengan minta ke Wiliam, hlm: 34) mendadak bisa membayar makanan (hlm: 60 dan 78) tanpa meminta uang lagi pada Wiliam? Termasuk ketika Marissa memaksa belanja ke pasar tanpa minta uang pada siapapun (hlm: 93).

(hlm: 63) harusnya di tangannya tertulis di Tangannya.

Kembali logika menjadi pecah ketika dinyatakan Ferry-Diana sudah berteman lama (hlm: 80) tapi Ferry yang gugup menelepon Diana beralasan takut Diana tidak mengenalinya (hlm: 76) padahal di awal (hlm: 39) Ferry terlihat hanya menjadi sasaran cela Diana. Agak rancu mendeskripsikan kompleksitas hubungan Ferry-Diana ini.

Yang ini juga membingungkan (hlm: 148) …dari atas dan jendela kamarnya, Diana melihat Ferry memandangnya dengan putus asa. Kalimat awalnya ambigu, susah dimengerti.

Secara keseluruhan teenlit ini membosankan sekali. Untung saja, sekali lagi, ide ceritanya segar sehingga saya masih tertarik menghabiskannya hingga lembar halaman pamungkasnya. Namun, sumpah, gaya mendongengnya kaku banget, saya sampai geregetan. Kalau boleh membandingkan buku ini serupa namun berkebalikan dengan novel Pillow Talk-nya Christian Simamora. Serupa, karena saya sukar membedakan mana bahasa tulisan dan mana bahasa lisan pada keduanya. Sedangkan berkebalikan, maksudnya, kalau di Pillow Talk yang lebih terasa adalah bahasa lisan-nya maka di teenlit ini sebaliknya, bahasa tulis-nya lah yang lebih menonjol. Bahkan untuk kalimat percakapannya (dialog) sekalipun, kaku banget. Ugh!

Sinopsis:
Marissa kesal sekali ketika harus ikut ayahnya ke Gedung Albratoss. Itu artinya dia akan bertemu Michel, mantan pacarnya. Dan itu berarti, dia juga akan bertemu Selina, musuh bebuyutannya, yang telah merebut Michel dari sisinya.
Merasa frustrasi oleh situasi, tak sadar Marissa menangis di depan sebuah lukisan, dan bergumam seandainya saja ia bisa menghilang.

Dan ia betul-betul menghilang... terlempar ke masa 20 tahun yang lalu, saat ia belum lahir, saat orangtuanya pun masih belum berpacaran...

Bersama Wiliam, anak kecil yang ditemuinya di masa lalu, ia mengalami hal-hal yang lucu dan menyenangkan di masa lalu, hal-hal yang akan mengubah kehidupan Marissa dan Wiliam di masa depan...

(2010 - 10) Resensi Novel Chicklit Islami: Riawani Elyta dan Rika Y. Sari - Tarapuccino

Toko Roti Penuh Intrik.
Bagus tapi Inkonsisten.


Rating: 2 dari 5 bintang



Judul: Tarapuccino
Pengarang: Riawani Elyta dan Rika Y. Sari
Editor: Saptorini, S.S
Desain sampul: Andi Rasydan
Setting: Udien Nur Che'
Penerbit: Afra Publishing (Kelompok Indiva Media Kreasi)
Tebal: 248 hlm
Harga: Rp26.000
Rilis: Oktober 2009 (Cet. 1)
ISBN: 978-602-8277-15-0

Tara dan Raffi adalah dua bersepupu yang mempunyai passion yang sama untuk membuka usaha bakery di kawasan Batam yang dipatenkan dengan nama Bread Time. Mereka merintis dari awal hingga usaha tersebut berkembang pesat dan menjadi salah satu toko bakery kenamaan di wilayah tersebut. Terdorong semangat untuk lebih maju, keduanya merekrut Hazel yang bertugas menangani segala pernik publikasi sebagai media promosi Bread Time.

Sejak bergabungnya Hazel, intrik demi intrik mulai mewarnai hari-hari Bread Time. Mulai dari ditemukannya indikasi bahwa pasokan material yang menjadi bahan baku produksi ditengarai berlabel haram sehingga berujung pada pemutusan kerjasama secara sepihak dengan rekanan, sabotase mobil pengiriman furniture pesanan kantor, hingga kasus keracunan makanan yang di-blow up media. Konflik demi konflik misterius tersebut selanjutnya menyulut bara dalam sekam persahabatan Tara-Raffi-Hazel. Sikap saling curiga dan tuduh-menuduh berkhianat siap menghancurkan bukit kepercayaan yang telah tercipta di antara mereka.

Judul novel ini mengingatkan saya pada novel chicklit fenomenal karya Nisha “Icha” Rahmanti, Cintapuccino, terkait unsur puccino yang menyambungkan kata pertamanya. Dari segi judul, sampai tuntas membaca saya tidak bisa menangkap maksudnya apa selain bahwa Tara adalah salah satu tokoh sentral dan (cinnamon) cappucino (btw, kata wikipedia yang benar menulisnya adalah double p dan double c: cappuccino, baru tahu) merupakan salah satu sajian istimewa dari Bread Time. Lagipula judul tersebut ditulis Tarapuccino (dengan dua c) bukan Tarappuccino (dengan dua p dan dua c). Tanya kenapa? Secara filosofis saya tak dapat merangkumnya dari keseluruhan lembarannya. Saya memang lagi dodol!

Terkhusus, saya suka pada selipan-selipan unsur tindak-tanduk Islami pada tokoh-tokohnya, terutama pada singgungan soal say no to pacarannya dan pengenalan pada proses taaruf, meskipun tidak sampai mendalam. Namun, sayang sekali, selipan tersebut terasa janggal ketika tokoh Tara yang suatu ketika digambarkan begitu sangat muslimah, ternyata “sempat-jelalatan” menatap dan mengagumi salah satu tokoh laki-lakinya. Wajar sih, sebagai seorang perempuan hetero yang dikurniai nafsu, ketertarikan (fantasi) pada lawan jenis bisa saja terjadi. Hanya saja, bagi saya itu agak bertolak belakang dengan part lain dimana si tokoh perempuan ini beretika lebih hati-hati.

Novel ini dibuka dengan adegan misterius yang cukup menjanjikan dan nuansa itu terus dibangun hingga akhir dengan intrik-intrik menarik seputar bisnis roti dan kue. Konflik susul menyusul pada waktu yang tepat meskipun tahapan timbulnya masalah dan pemecahannya tidak semengagumkan karya-karya Agatha Christie atau Dan Brown. Tetapi cukuplah untuk bisa menciptakan suasana tegang di waktu-waktu tertentu dan keinginan untuk berspekulasi mengenai kejadian demi kejadian yang dirangkai oleh kedua penulis.

Sebagai sebuah hasil kerjasama dari dua penulis, novel ini hampir bisa menyatu meskipun secara tersurat saya merasakan sentuhan yang berbeda yang cukup jelas untuk menandai mana tulisan Riawani dan mana tulisan Rika (walaupun saya tak dapat menebaknya, karena novel ini adalah novel pertama dari masing-masing mereka yang saya baca sehingga belum bisa memetakan kekhasan secara pribadi). Adalah kata “secara” (hlm: 36, 129) yang menurut saya tidak disepakati oleh dua penulis ini sehingga manimbulkan keyakinan bahwa persekutuan dua penulis ini masih perlu untuk dikuatkan lagi.

Isi cerita, tebaran konflik, dan ending-nya cukup memuaskan. Sayang sekali, kualitas cerita tersebut tidak dibarengi dengan kualitas teknik percetakannya. Entah karena lalai atau sengaja disesuaikan dengan kondisi asli kota Batam, novel ini berusaha keras meleburkan kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, yang nyatanya menjadi bumerang karena banyaknya inkonsistensi penulisannya (kadang miring, kadang tidak). Termasuk pula pada beberapa kata tertentu penulis menggunakan padanan kata Indonesia-nya ketimbang bahasa aslinya atau sebaliknya. Misalnya, alih-alih menggunakan kata “screen handphone” penulis lebih memilih “skrin handphone” (hlm: 169) dan kata “pintu depan” dibanding kata “front door” (hal: 183). Khusus frasa front door ini penulis menggunakannya dengan “front door bakery” yang kurang pas. Bukankah seharusnya ditulis bakery’s front door? (Jujur, kemampuan bahasa Inggris saya masih kacau). Bagi saya, usaha mencampur dua bahasa ini kurang efektif (dan efisien) dan terbaca hanya sebagai upaya penulis agar novel ini terlihat modern dan bergaya (penilaian subjektif saya).

Saya juga agak terganggu dengan banyaknya kata yang diberikan tanda petik tunggal untuk memberi tekanan pada kata tersebut (beberapa tidak masalah, terlampau sering membosankan) dan komitmen penulis yang menggunakan kata ganti orang ketiga (ia, dia) pada awal bab/paragraf meskipun sejatinya aktor/aktris yang bermain sudah jelas (telah diperkenalkan di depan).

Bab 5, halaman 39
Ia datang agak kesiangan pagi ini. Hm, kacanya sudah diganti dengan yang lebih bening, sesuai dengan keinginan gadis itu tempo hari, gumamnya dalam hati. Dengan kaca yang…dan seterusnya.

Bab 7, halaman 51
Tinggal selangkah lagi dari depan pintu ruko, ia berhenti sejenak. Untuk sekadar menarik napas dalam-dalam dan meredakan gelisah yang mulai berdentum. Karena dalam jarak beberapa langkah lagi ia harus menghadapi sesuatu…dan seterusnya.

Saya hanya penasaran, mengapa masih harus menggunakan kata ganti “ia” jika tokoh yang beradegan sudah jelas (Diaz) dan tak lagi memerlukan space untuk deskripsi karakter. Dan, contoh seperti ini ada di beberapa tempat. Inilah yang saya sebut sebagai kekurangefektif-efisienan.

Kunci utama dari buraian beragam konflik dalam novel ini sejatinya ada pada tokoh Hazel dan Diaz. Awalnya saya sempat kebingungan dengan dua tokoh tersebut, namun seiring halaman demi halaman saya tuntaskan semakin benderanglah siapa mereka. Dan jujur, saya kurang sreg dengan teknik penulis untuk mengaburkan tokoh tersebut. Agak mengada-ada saja dengan penggunaan sudut pandang orang ketiga jika tokoh tersebut diberi “nyawa” dengan teknik seperti itu. Alasan saya membingungkan? Iya, mohon maaf, saya tidak bisa membuatnya lebih terang lagi karena saya menangkap justru kehidupan tokoh Hazel dan Diaz ini yang menjadi mantra penjaga agar novel ini terasa misterius, kalau saya bongkar berarti itu spoiler dan novel ini menjadi kehilangan sisi misteriusnya. Maka, untuk mengetahui siapakah Hazel dan Diaz, silakan comot novel ini dari toko buku dan mulai membacanya. Dan, tentu saja, untuk mengetahui pula pada siapakah Tara akhirnya melabuhkan bahtera cintanya, Raffi atau Hazel?

Beberapa hal janggal yang seharusnya tertangkap pada proses editing:

(hlm: 16) …dengan intonasi yang tak kalah firmnya, sedikit pun tak bergeming. Harusnya tidak perlu ditambahkan kata tak sebelum kata bergeming. Yang lucu, pada halaman 133, penggunaan kata ini benar. Inkonsistensi.

(hlm: 20) …launching bulletin. Lagi dan lagi, masalah konsistensi. Pertanyaan: mengapa pada halaman yang sama kata ini digunakan dalam bahasa Inggris sekaligus bahasa Indonesia secara berbarengan? Opini: variasi diksi yang kurang oke.

(hlm: 41) …came corder. Apa ini, apakah maksudnya camcorder (video camera recorder)?

Gigabyte (hlm: 61), display (hlm: 91), Home (hlm: 92), shift (hlm: 83, 111), dan masih banyak lagi yang lain. Harusnya dicetak miring?

(hlm: 70-71) korsvet ditulis dengan dua tampilan berbeda, miring dan tidak. Lagi-lagi masalah inkonsistensi.

(hlm: 89) …ice green tea atau iced green tea. Inkonsisten.

(hlm: 138) IP Adress. Harusnya IP Address.

(hlm: 216) di dapatnya harusnya digabung, didapatnya. Dimata harusnya dipisah, di mata.

Kata yang paling sering inkonsisten: cappuccino (kadang miring, kadang tidak)

Overused: penggambaran karakter Tara yang langsing (gadis langsing tersebut..bla..bla..bla), Hazel yang jangkung (sosok jangkung tersebut…bla…bla…bla…). Apa tidak bisa mencari citra diri lain untuk menjelaskan dua tokoh tersebut?

Sinopsis (dari blog resmi Riawani Elyta)
Bread Time, sebuah bakery di Kota Batam yang dikelola dua pengusaha muda Tara dan Raffi yang masih terikat hubungan keluarga. Disaat Bread Time semakin berkembang, Hazel, seorang pemuda yang ahli dalam pengerjaan grafis bergabung dalam usaha bakery tersebut. Latar belakangnya yang misterius ditambah lagi sebuah kekacauan yang nyaris menghancurkan nama baik Bread Time yang susah payah dibangun Raffi dan Tara, mengarahkan kecurigaan Raffi pada keterlibatan Hazel yang akhirnya membuat pria misterius itu harus terdepak dari Bread Time.

Sebuah tragedi dan rahasia masa lalu, perlahan menyeruak dan secara pelan-pelan menemukan jejak kebenaran dan benang merah dengan semua yang dialami dan terpaksa harus dijalani Hazel selama bertahun-tahun. Jejak kebenaran yang membuka wajah aslinya sebagai seorang mahasiswa drop out dan mantan aktivis rohis di masa lalu bernama Ahmadiaz Syah Reza.

Namun ia justru dihadapkan pada situasi sulit – terbelit oleh hutang yang terus berbunga membuatnya terpaksa terlibat dalam sindikat illegal trading – yang tragisnya pula, telah menggiringnya pada suatu kecelakaan maut. Kecelakaan ini jua yang menjadi titik terungkapnya sebuah rahasia lain tentang keterikatan yang pernah nyaris terjalin antara dirinya dan Tara di masa lalu, tanpa pernah disadari oleh keduanya. Namun raibnya sosok Hazel tak mengurangi porsi pria itu yang telah menorehkan tempat tersendiri di hati Tara.

Tahun yang terus bergulir, telah menggiring Bread Time menjadi salah satu ikon kesuksesan kuliner di Batam. Saat yang bersamaan, pernikahan Tara dan Raffi telah di depan mata. Namun sebuah liburan akhir tahun telah menyeret Tara pada perjumpaan tak terduganya dengan sosok pria – satu-satunya pria – yang pernah menempati ruang hatinya secara utuh

Kisah fiksi yang berlatar belakang pada fenomena lokal khas daerah perbatasan, yaitu tindak kriminal yang berhubungan dengan illegal trading dan luasnya keran impor penyelundupan melalui jalur perdagangan tak resmi, juga budaya masyarakatnya yang sangat heterogen sehingga mengaburkan nilai-nilai kearifan lokal.

Sebuah novel yang mencoba bertutur dengan cara mengolaborasikan unsur thriller, entrepreneurship, romantisme, cyber crime dan humanis dengan tetap berpijak pada koridor Islam yang santun. Dilatarbelakangi issue illegal trading, penyelundupan, juga maraknya akan kasus penggunaan lemak haram dalam pencampuran bahan makanan.

Telah beredar di toko-toko buku nasional atau hub. marketing Indiva : 081329768314)


-------------------------------------------------------------------------

tambahan info bagi pecinta kopi (me)

A cappuccino is an Italian coffee drink prepared with espresso, hot milk, and steamed-milk foam.

The name cappuccino comes from the Capuchin friars, possibly referring to the colour of their habits or to the aspect of their tonsured (white) heads, surrounded by a ring of brown hair.

A cappuccino is traditionally served in a porcelain cup, which has far better heat-retention characteristics than glass or paper. The foam on top of the cappuccino acts as an insulator and helps retain the heat of the liquid, allowing it to stay hot longer. The foam may optionally have powder (commonly cocoa, cinnamon or nutmeg) sprinkled on top.

source: wikipedia