(2010 - 5) Resensi Novel Terjemahan: Banana Yoshimoto - Kitchen

Dapur yang manis dan romantis



Judul: Kitchen
Pengarang: Banana Yoshimoto
Penerjemah: Dewi Anggraeni
Penyunting: Dini Andarnuswari
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tema: Keluarga, Romansa, Persahabatan, Dewasa, Rasa kehilangan
Tebal: 204 + vi halaman
Harga (Toko): Rp40.000
Rilis: April 2009 (cet. 1)

Saya adalah salah satu penggemar dorama Jepang. Sebut saja Oshin, Tokyo Love Story, Rindu-rindu Aishawa (lupa judul aslinya), Long Vacation, Hotelier (versi Jepang) dan beberapa lagi yang lainnya. Pun, saya juga masih menahbiskan Jepang sebagai negara pencipta kartun terbaik di dunia. Terutama dari segi keragaman ceritanya. Namun, saya tidak sampai sebegitu gemasnya bermimpi menginjakkan kaki di negeri Sakura tersebut (seperti kebanyakan orang yang terkagum-kagum dengan etos kerja dan pesatnya kemajuan teknologi negeri Samurai itu) atau bahkan sekadar membaca hasil karya tulis sastrawannya. Entahlah, rasanya untuk ukuran Jepang saya lebih suka yang visual, bukan verbal, hehehehe. Aneh!

Kalau diingat-ingat saya hanya baru membaca 2 buah novel karya penulis Jepang (Toto Chan dan Kitchen), 1 novel berlatar Jepang (Memoirs of Geisha), 1 novel yang belum dibaca (salah satu dari seri klan Ottori), dan 1 novel karya penulis Indonesia bersetting Jepang (Winter in Tokyo by Ilana Tan). Entahlah, saya belum tergerak untuk mencari lebih banyak hasil tulisan penulis-penulis Jepang. Mungkin ada saatnya, nanti.

Mengenai Kitchen, saya sempat berasumsi bahwa novel mungil yang simple namun eye-catching ini adalah sebuah cookbook yang dinarasikan menggunakan bahasa novel. Ternyata anggapan saya keliru. Saya yang sudah ngiler kepengin tahu beberapa resep kue-kue khas Jepang atau aneka macam mie-nya yang terkenal itu (yang sering saya lihat juga di dorama-doramanya, saya selalu mengingat adegan Tokyo Love Story dimana sehabis jam kerja biasanya mereka hang out dulu di kedai mie, ugh…menggoda sekali mie-mie-nya…), makin dibuat ngiler dengan banyaknya jenis-jenis makanan khas yang disebutkan dalam novel ini. Namun sayang hanya sebatas itu, karena tidak ada satu pun resep masakan yang muncul di sini.

Sejatinya novel ini (versi terjemah Indonesia) adalah sebuah novelete, karena di dalamnya terdiri dari dua cerita yang berbeda. Awalnya saya tidak menduganya seperti itu. Maka, ketika cerita berganti ke judul kedua, saya bingung alang kepalang. Sementara, saya merasa cerita pertama belum tuntas seratus persen. Loh, ceritanya kok jadi kesini, apa hubungannya ini dengan si anu tadi ya??? Setelah dua kali balik ke halaman muka, daftar isi, dan kembali ke belakang, saya baru ngeh kalau dua cerita di dalam novel ini tidak saling terkait. Saat itu juga saya berseru bodoh, “..ooohhhh…beda rupanya.” Payah!

Berdasar informasi dari situs wikipedia, Kitchen merupakan novel debutan Banana yang bernama asli Mahoko Yoshimoto, dan menjadi fenomena karena langsung menangguk sukses. Di Jepang sendiri, novel ini telah cetak ulang lebih dari 60 kali dan diadaptasi ke dalam film sebanyak 2 kali. Banana mendapatkan penghargaan Kaien Newcomer Writers Prize pada Nopember 1987, the Umitsubame First Novel Prize, dan Izumi Kyoka Literary Prize pada Januari 1988 untuk novel Kitchen-nya ini. Selengkapnya silakan klik di sini.

Novelete Kitchen mengalir sederhana dengan diksi yang tidak terlalu rumit, pun dengan konflik yang ada. Banana lebih menonjolkan bagaimana jalinan hubungan diantara aktor-aktornya yang tidak terlalu banyak itu. Saya juga suka dengan deskripsi gaya tokohnya. Serasa benar-benar sedang menikmati suguhan dorama.

Cerita Pertama, berjudul Kitchen, terdiri dari dua bab. Kisahnya adalah tentang seorang gadis bernama Mikage Sakurai yang berjuang menambal perasaan kehilangan setelah kerabat satu-satunya yang tersisa, neneknya, meninggal dunia. Mikage sangat tergila-gila pada dapur yang selalu memberikannya kenyamanan ketika perasaan sepi menerpanya.
“….aku paling bisa lelap ketika tidur di samping kulkas.” (hlm: 4)

Bahkan secara eksplisit dia memilih dapur sebagai tempat favorit seandainya dia meninggal.
“…., aku ingin menghembuskan napas terakhirku di dapur. Tak peduli dapur itu dingin sekali…” (hlm: 4).

Untunglah, ada Yuichi Tanabe yang telah sepakat dengan ibunya untuk mengajak Mikage tinggal bersama mereka selama gadis itu belum menemukan apartemen baru. Saat tinggal di keluarga Tanabe inilah, Mikage menyadari betapa sebuah keluarga adalah anugerah. Tak selalu indah, namun patut disyukuri. Selain kenyataan bahwa Eriko, ibu Yuichi, adalah seorang laki-laki transgender yang adalah ayah kandung Yuichi, Mikage juga mulai menyadari bahwa ada perasaan lain yang tumbuh di dalam dirinya terhadap Yuichi. Cinta.

Sayang sekali, keharmonisan hidup Mikage, Yuichi, dan Eriko tak berlangsung lama. Pada bab kedua diceritakan bahwa Eriko dibunuh. Berita ini tentu saja mengacaukan perasaan Mikage, terlebih Yuichi sebagai seorang anak. Pada titik itulah hubungan keduanya diuji. Perlahan masing-masing mulai menyadari bahwa mereka punya perasaan lain selain perasaan bahwa selama ini mereka adalah keluarga. Ketika hati tak lagi mampu berbohong, keputusan terbaik harus segera dibuat. Novelete ini ditutup dengan ending yang legit dan menyentuh. Sangat menginspirasi, bahwa dalam hidup dibutuhkan perjuangan dan kedewasaan dalam menentukan sikap.
Intermezzo dari cerita Kitchen, “Laptop (hlm: 35) dan kuis Family 100 (hlm: 82) sudah ada di Jepang sejak tahun 1980-an?” Wow!!

Cerita kedua, berjudul Moonlight Shadow, juga berkisah tentang kehilangan. Kehilangan kekasih ketika berada di puncak asmara. Satsuki masih merasa terlalu berat melepas kepergian Hitoshi, yang direnggut malaikat maut melalui kecelakaan mobil yang juga menewaskan Yumiko, kekasih Shu – adik laki-laki Hitoshi. Untuk mengusir kehampaan akibat kehilangannya itu, Satsuki memutuskan untuk rajin berlari pagi, yang selalu dimulai dan diakhiri di atas sebuah jembatan yang menjadi tempat bersejarahnya bersama Hitoshi. Hal yang sama juga dialami Shu yang memanifestasikan kehilangannya dengan selalu mengenakan seragam Yumiko, yaitu berupa baju kelasi – seragam sekolah untuk siswa perempuan di Jepang (mungkin mirip seragamnya Usagi dalam serial kartun Sailormoon kali ya…???).

Suatu pagi Satsuki bertemu dengan Urara, seorang gadis aneh yang misterius. Urara yang merasa bertanggungjawab atas jatuhnya botol minum Satsuki ke sungai berjanji akan menggantinya. Maka ketika suatu hari Urara menelpon Satsuki (dimana Satsuki terkejut karena ia merasa tak pernah memberi tahu nomor telepon rumahnya) dan berjanji untuk membelikan botol minum sebagai gantinya, Satsuki mengabaikan demamnya dan menemui Urara di tempat yang ditentukan. Dari situlah, Satsuki semakin berminat akan suatu fenomena yang akan ditunjukkan Urara.

Pada hari yang disebutkan Urara, Satsuki pergi ke jembatan. Dan, peristiwa tumpang-tindih yang dikatakan Urara hanya terjadi setiap 100 tahun sekali itu, pada kenyataannya memang membuat shock Satsuki. Awalnya ia justru sedih telah menyaksikan fenomena itu, namun lambat laun ia mensyukurinya karena berkat kejadian itu ia mulai ikhlas melepas kepergian Hitoshi. Pada saat yang sama, Shu juga menceritakan pada Satsuki bahwa gara-gara ia mendapat mimpi aneh pada hari yang sama ketika Satsuki melihat fenomena itu, Shu merasa telah tiba saatnya untuk meneruskan hidup dan melupakan tragedi yang menimpa kakak dan kekasihnya. Seperti halnya cerita pertama, Banana juga menutup cerita kedua ini dengan bagus sekali. Bahkan, menurut saya halaman terakhirnya ditulis dengan penghayatan yang sangat dalam. Saya tercengang dibuatnya. Indah. Memikat.

Sebelum membuat resensinya, saya membaca novelete ini sampai dua kali. Pada kesempatan pertama, rasanya saya salah memaknainya sehingga dulu saya menganggap novel ini ringan dan kurang berisi. Bahkan, saya sampai bertanya, apa sih yang bikin novel ini bombastis di Jepang dan dapet banyak penghargaan, kok guwe nggak ngerasain apa-apa ya? Namun, entah apakah karena saya yang sedang dalam situasi sentimental saat membaca kembali novel ini untuk kesempatan kedua, makna yang saya dapatkan jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan. Saya merasa novel ini ditulis dengan emosi yang hidup. Seolah setiap rangkaian kalimatnya adalah ekspresi nyata para tokohnya. Paragraf demi paragraf seperti muncul dari hasil pemikiran dan perasaan yang begitu dalam. Benar-benar menghanyutkan.

Salah satu yang membuat saya bergetar adalah bagian ini,
“Sejujurnya aku ingin sekali berhenti berjalan, berhenti melanjutkan hidup…dst. …tak pernah kukira hidup ini ternyata begitu berat.” (hlm: 63).

Yah, ada saat-saat dimana saya selalu mempertanyakan tujuan penciptaan saya di dunia ini. Kalau sudah begitu, pikiran saya mulai melantur dengan mendaftar seberapa banyak kesengsaraan menimpa saya, hingga kadang berujung pada simpulan mungkin kematian adalah jawaban paling logis untuk mengakhiri segala macam kesengsaraan itu. Puji Tuhan, tidak seperti para tokoh dalam novel ini yang sering bertanya, “Tuhan ada atau tidak sih?” (hlm: 117), saya percaya bahwa Tuhan itu ada dan saya memahami mengapa Dia mengharamkan bunuh diri, karena itu perbuatan yang sia-sia dan tindakan kufur (ingkar atas nikmat yang diberikan).

Dari segi teknis, beberapa kekeliruan yang saya catat banyak terdapat pada cerita kedua, diantaranya:
(hlm: 188) .kadang-kadang hal itu membuatku perasaanku…, saya pikir harusnya “ku” yang melekat pada kata “membuat” lebih baik dihilangkan.

(hlm: 194) …Rambutku dan kerah kemeja Hitoshi yang kurindukan. Saya agak ambigu di sini, yang dirindukan rambut dan kerah kemeja Hitoshi ataukah maksudnya “rambutku di kerah kemeja Hitoshi”?

(hlm: 198) …tadinya ia menanti kedatangannya dengan duduk di bangku…, saya juga agak ambigu dengan kalimat ini. Saya pikir yang ditunggu Shu adalah Satsuki yang berperan sebagai “aku”. Saya pikir seharusnya kalimatnya adalah, “….menanti kedatanganku…”

Tambahan masukan, untuk cerita kedua, yang agak mengganggu adalah pemisahan paragraf untuk kejadian di waktu yang berbeda kurang jelas sehingga bagi saya agak mengacaukan kronologis cerita. Setting waktu menjadi tumpang-tindih dan membingungkan.

Secara keseluruhan, Kitchen menyampaikan kisah penuh harapan dengan bahasanya yang indah. Berakhir happy ending karena ingin menegaskan bahwa selama masih berjuang, setiap yang kita lakukan pasti akan membawa hasil sebagaimana yang diharapkan. Tentu saja, perjuangan itu adalah dengan cara dan disertai dengan tujuan yang baik. Yang patut dipuji, Banana menamatkan ceritanya dengan manis dan romantis namun tidak cengeng. Sederhana tapi penuh makna. Tak ada kata pujian selain, “novel ini indah sekali.”

Selamat membaca (dan terharu), kawan!

Sinopsis (cover belakang)
"Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur."

Mikage Sakurai sebatang kara sejak neneknya meninggal. Dapur menjadi satu-satunya tempat di mana perempuan itu tak merasa kesepian, di mana ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, serta ditemani sepetak langit malam berbintang di jendela.

Namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Di sana selama satu musim panas ia bergulat dengan acar, udon, soba, dan tempura. Di sana pula ia temukan apa yang tak pernah dimilikinya: keluarga, bersama Yuichi Tanabe yang dingin dan Eriko Tanabe yang mempesona - perempuan transeksual yang sejatinya ayah kandung Yuichi.

Ketika Eriko meninggal, Mikage dan Yuichi menjauh dan saling terasing dalam kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bangkit dari dukacita dan menyadari ada cinta di antara mereka?

2 comments

nils March 4, 2010 at 4:48 PM

setuju.novel ini memang indah sekali.
tapi melihat ulasan2mu,sepertnya selera kita memang nggak jauh berbeda ya...

lustandcoffee April 23, 2013 at 11:11 AM

Ijuuuul, buku ini dijual nggak? Kalo iya, aku mau beli dong. Thank you :)

Post a Comment