Resensi Novel Metropop: Morning Brew by Nina Addison

Just enjoy the ride!
Read from December 15 to 18, 2011
4 out of 5 star


Judul: Morning Brew
Penulis: Nina Addison
Editor: Hariska
Pewajah Sampul: Eduard Iwan Mangopang
Tebal: 224 hlm
Harga: Rp40.000
Rilis: September 2011 (Cet. 1)
ISBN: 978-97922-7567-4

Reney mengira Boy akan mengajukan a pop question when he invites her to a romantic dinner. But, hell, Boy malah memutuskan hubungan asmara mereka yang sudah berjalan tujuh tahun itu, hampir delapan tahun malah, demi beasiswa ke London. Tak terbayangkan betapa hancur hati Reney. Untunglah ada Ivana dan Danny, sahabat sekaligus rekan kerjanya di Morning Brew, sebuah kafe milik Tante Patra yang diserahkan pengelolaannya kepada Ivana selaku keponakan Tante Patra. Maka, hari-hari Reney diisi dengan kesibukannya melayani pelanggan kafe yang datang silih berganti. Tak lupa, ia pun mencoba segala cara demi melupakan Boy, apalagi Ivana dan Danny juga selalu andil membantunya dengan menyodorkan cowok-cowok ready stock buat dipacari. Mulai dari teman mantan, pegawai bank yang super-duper gorgeous, sampai geek yang gimbal. Dan, Reney tetap tak mampu melupakan Boy. Terlebih ketika kemudian secara mendadak Boy balik ke Jakarta dan melamarnya. Bagaimana Reney menentukan pilihannya? Apakah ia akhirnya menerima pinangan Boy dan ikut pindah ke London serta meninggalkan sahabat serta orangtuanya di Jakarta? Temukan jawabannya di dalam novel debutan karya Nina Addison ini.

Membeli buku ini sudah masuk ke dalam program ‘wajib’ untuk koleksi book shelf novel metropop saya. So, nothing to lose ketika akhirnya saya mengambil novel ini dari toko buku dan memindahkannya ke lemari buku. Sedangkan keinginan membacanya baru menggebu selepas mendengar komentar Nike Rasyid pas ketemu di stan saya di Festival Pembaca Indonesia 2011 kemarin. Yang saya tangkap dari komentarnya, Nike menyukai novel ini. Maka, setelah merampungkan membaca Orange, saya langsung berinisiatif membaca novel ini. Yang ternyata masih dalam kondisi tersegel ketika saya pamerin di stan saya itu. Hahaha.

Baiklah, untuk kali ini, saya menyetujui pendapat Nike. Novel ini memang enjoyable. Menjadi novel debutan kesekian yang langsung menarik hati saya. Percaya deh, nanti begitu Nina Addison menerbitkan buku baru, saya pasti tak ragu mencomotnya langsung. Saya suka dengan gaya bercerita dan menulisnya. Apalagi dengan pilihan diksi dan beberapa part/kalimat yang mengandung pesan yang dalam. Menyenangkan sekali membacanya. Membangkitkan gairah.


Benang merahnya sih, tentang pencarian soulmate. Di sini, Nina menumpahkan pendapatnya bahwa lama masa pacaran tak lantas langsung menerbitkan kayakinan di hati seseorang untuk segera menyimpulkan bahwa pasangan yang telah dipacarinya itu adalah belahan jiwanya. Perenungan atas segala pertimbangan yang menyangkut diri sendiri, keluarga, sampai dengan sahabat harus dipikirkan. Berhubungan, apalagi sampai menikah, tidak hanya menyatukan dua hati [meskipun yang menjalaninya pemilik dua hati itu] namun juga mempertemukan orang-orang di sekitar mereka. Keluarga dengan keluarga. Teman dengan teman. Apakah semua orang ‘bisa’ cocok? Apakah semua orang ‘harus’ cocok? Jurus terjitunya: kompromi. Bila tidak ketemu? Diskusikan lagi. Coba uraikan segala simpul yang mengikat jalan keluar tiap masalah. Apa yang menjadi concern pasangan, harus dipertimbangkan. Jujurlah pada masing-masing. Dengarkan kata hati. Jangan bersifat egois.

Membaca novel ini sungguh lancar jaya. Saya sengaja tidak berharap apa-apa ketika memulai membaca, oleh karenanya mungkin saya tak menemui hambatan dalam mengunyah tiap bagian novel ini. Menyisip tetes demi tetes kisahnya. Mengunyahnya hingga tandas dan memunguti remah-remah yang berserakan di sana-sini. Saya suka tokoh-tokohnya. Saya suka konfliknya. Dan, saya juga suka cara Nina mengakhiri setiap konflik yang diciptakannya. Meskipun di beberapa bagian terasa ‘digampangkan’, misalnya keputusan soal masa-depan Danny atau ketika Ivana yang dingin terhadap cowok akhirnya dipertemukan dengan salah satu cowok pemeran figuran. Tetap saja, novel ini renyah sekali. Sekali gigit, terasa nikmatnya. Bahkan, di beberapa bagian saya dibuat ngakak geli. Misalnya pada bagian Ivana yang ngomelin Kiki, teman yang mengkritik berta badannya (hlm 141). Hilarious.

Pesan saya, jangan mudah bosan. Teruskan saja membaca. Pada seperempat bagian awal saya hampir bosan. Yah, pada bagian itu memang disesaki dengan adegan Reney yang mencobai satu-demi-satu persediaan cowok yang disodorkan padanya. Satu-dua-tiga kali masih lumrah. Selepas itu saya geregetan. Saya sempat mengancam [tentu, dalam hati] jika masih ada satu lagi koleksi cowok yang disodorkan pada Reney, maka novel ini hanya akan saya kasih rating maksimal dua. Untunglah, Nina mencukupkan tiga cowok saja untuk dicicipi oleh Reney. Thank GOD!

Lalu, Morning Brew itu apa? Dalam novel ini, Morning Brew adalah sebuah kafe yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Ivana dengan pemodal tetap adalah Tante Patra, saudara ibunya. Di kafe inilah, sebagian besar setting lokasi untuk ‘shooting’novel ini diambil. Reney, Ivana, dan Danny, menjadi trio yang menjalankan roda bisnis ini. Apakah eksplorasi atas Morning Brew cukup? Bagi saya... cukup, dalam rangka mendukung cerita. Pas takaran. Tak berlebihan – tak berkekurangan.

Nina juga memberi bonus info-info seputar dunia kuliner pada bagian intermeso. Ada pula resep yang patut untuk dicoba, bagi Anda yang punya hobi masak. Dan, ini menjadi nilai lebih bagi saya. Tak hanya disuguhi sepiring kue cinta berbalut persahabatan, saya juga dihidangkan segelas pengetahuan yang mungkin terabaikan dalam keseharian. Interesting.

Sayang, masih saja ada beberapa typo dalam novel ini, di antaranya:

(hlm. 48) Tapi tak lama lama kemudian.... [kelebihan kata ‘lama’]
(hlm. 63) menganggu = mengganggu
(hlm. 73) ...yang baru tanpa embel-embeli nama... [harus akhiran ‘i’ atau tambah awalan ‘di’ pada ‘embel-embeli’]
(hlm. 78) kongkrit = konkret [KBBI online]
(hlm. 79) seahun = setahun
(hlm. 80) kebodohon = kebodohan
(hlm. 84) ...Danny telah melewati beberapa episode bertema cowok... [hanya merasa ambigu, ‘bertema’ ataukah ‘bertemu’ cowok?, bisa masuk dua-duanya sih, nggak ngubah makna sebenarnya, hehehe]
(hlm. 174) Andy = Andi
(hlm. 186) menganguk = mengangguk
Typo minor aja sih, tapi seandainya clean sheet kan lebih bagus. Dan, ada beberapa kalimat yang saya rasa bagus jika ditambah tanda baca, tapi saya tak tahu yang benar sesuai EYD-nya bagaimana, jadi tidak saya cantumkan sebagai typo. Hahaha.

Di samping itu, terdapat beberapa kalimat/paragraf yang menjadi favorit saya. Cukup banyak, malah. Jadi, ya sudah, saya simpan untuk diri saya sendiri. Untuk menyemangati diri sendiri, hahaha. Tapi yang paling-paling-paling saya suka, adalah paragraf penutupnya. Ini dia:

Kesimpulannya? Tak perlu ada kesimpulan. Cukup ingat saja bahwa jatuh dan patah hati adalah rumus pasti dalam dunia percintaan. Namun jangan pernah patah semangat dan takut mendengarkan bisikan hati kecil karena dia takkan pernah menyesatkan perjalanan kita. Just enjoy the ride!
Yakkk, setuju! Cukup nikmati saja perjalananmu. Let it flow, kata sebagian orang. Tetap berusaha, tentu saja. Tapi, nikmatilah setiap usaha yang diambil itu. Enyahkan segala gerutuan. Singkirkan segala keraguan. Songsong masa depan dengan sikap optimis. Tuhan mencipta segala sesuatunya dengan alasan, kan? Absolutely. Jadi, berusahalah, karena semua akan indah pada waktunya.

Selamat membaca, kawan!

3 comments

ana December 18, 2011 at 2:48 PM

waks. baca review ini jadi keinget betapa ribetnya persiapan nikah, terutama persiapan dalam " mempertemukan" kedua keluarga besar.. hehehe *malah curhat*

ijul December 30, 2011 at 4:34 PM

@ana...wahhh, ntar bisa donk minta konsultasi, biar klo aku married nggak ribet lagi, hehehe...:)

dewi puspita October 5, 2012 at 4:01 PM

aku sudah baca novelnya dan WAW :)

Post a Comment