[Resensi Novel Teenlit] Runner-Up Girl by Hanna Natasha

Ada Apa Dengan Mira? (AADM?)
Rating: 4 out of 5 stars


Pengarang: Hanna Natasha
Pewajah sampul: Yustisea Satyalim
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 168 hlm
Harga: Rp35.000
Rilis: Maret 2012
ISBN: 978-979-22-8129-3

Mira dan Kelly adalah duo sobat karib yang saat ini bersekolah di SMA yang sama. Meskipun demikian, keduanya memiliki karakter dan latar belakang keluarga yang berbeda. Mira adalah gadis tomboi dan anak orang kaya sedangkan Kelly adalah seorang gadis feminin dari keluarga biasa saja. Satu lagi perbedaan mendasar yang selalu menjadi bahan keluhan Mira, yaitu menurutnya mama Kelly lebih penyayang dibanding mama Mira yang penuntut dan perfeksionis. Maka, tak jarang keduanya berandai-andai bertukar tempat.

Suatu ketika, lingkup pertemanan mereka bertambah ramai berkat kehadiran Riku dan Aoi, dua cowok yang menghadirkan aura cinta pada keduanya. Kelly menyukai Riku, Riku menyukai Mira, dan Mira menyukai Aoi. Nah, ribet sepertinya urusannya. Apalagi, langsung atau tidak langsung telah tersulut api persaingan di antara Mira dan Aoi. Belum lagi, jalinan persahabatannya dengan Kelly terancam jurang kebencian, Mira tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kelly seandainya ia menerima ‘tembakan’ Riku.

Silakan disimak romansa cinta monyet keempat sahabat dalam teen lit terbaru karya Hanna Natasha bertajuk Runner-Up Girl ini.

Fiuuuhhh, sekian lamanya saya tak lagi membaca novel-novel teen lit. Saya melewatkan setiap novel teen lit yang terbit setiap bulannya, padahal biasanya saya tetap menyempatkan baca barang satu atau dua buah novel, selain novel teen lit dari pengarang favorit. Di samping memang sebenarnya ingin menuntaskan-baca setiap novel metropop yang terbit, saya juga sudah merasa tidak pada ‘usianya’ untuk membaca novel teen lit, mengingat tak jarang saya keburu men-judge ketika tiba-tiba saya disodori cerita dengan tema yang itu-itu saja, eksekusi konflik yang biasa, karakter yang tidak kuat, plus gaya penulisan yang terlampau childish. Maka, ketika saya menyelesaikan novel ini, dan merasa begitu terhanyut, saya mendecak kagum. Saya suka novel ini.

Runner-Up Girl menyajikan konflik dari empat sahabat yaitu Mira, Kelly, Riku, dan Aoi, namun dengan porsi yang lebih menonjol pada Mira. Ia digambarkan sebagai seorang gadis yang haus akan prestasi namun selalu merasa kurang kasih sayang sang mama yang mengharapkan Mira selalu menjadi juara satu. Dua konflik disematkan padanya. Konflik asmara yang rumit dan konflik yang bersumber pada persaingan di bidang akademis antara Mira dan Aoi. Meskipun masih terdapat beberapa hal yang kurang sentuhan, saya cukup puas dengan konflik yang diciptakan dan solusi yang dipilih untuk mengakhiri konflik itu.

Tentu saja, temanya biasa. Pernik-perniknya pun tak ada yang istimewa. Singkat kata, cukup banyak novel teen lit yang telah terbit dengan tema, konflik, dan karakter yang serupa dengan novel ini. Tak hanya itu, selipan adegan memasak di rumah Aoi langsung menerbangkan ingatan saya pada adegan Cinta yang mengunjungi rumah Rangga setelah Cinta mendapat kabar bahwa Rangga cedera akibat dikeroyok, dan di sana terdapat adegan Cinta yang membantu Rangga memasak hidangan makan malam.


PERSIS! ASTAGAHHH!!! Pada saat itu, saya langsung ‘mutung’ dan berniat memberi dua bintang saja. Tetapi, saya telanjur terenyuh pada banyak bagian novel ini dan terhanyut dalam alur ceritanya, sehingga saya tetap dengan ikhlas memberikan empat bintang. Saya bimbang, hahahaha.

Secara khusus, saya cukup menyukai gaya menulis Hanna. Bahkan, beberapa dialognya cukup bagus dan cerdas dengan selipan sense of humor yang pas. Pada beberapa bagian saya tertawa membacanya. Berikut di antaranya:

Bertingkah konyol ternyata kadang diperlukan untuk membuat rileks pikiran. (hlm. 35)
Sahabat yang baik nggak menjadi beban bagi sahabatnya, tapi menjadi pendukung. (hlm. 41)

Sedangkan, ada satu bagian yang sangat memorable bagi saya. (Hanna, numpang comot yaaa...)

“Tapi, bagaimana cara menembaknya ya?” Kelly garuk-garuk dahi tak jelas.
“Ambil senapan. Taruh moncongnya di dada Riku, kemudian tarik pelatuknya. Gampang, kan?”
“Ah, Miraaaaa!” Kelly kesal. “Aku serius, tauuu!”

Persoalan cetakan, mulus. Hanya ada beberapa typo yang kebetulan saya temukan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

(hlm. 61) Rik = panggilan Riku oleh Kelly, sebelum-sebelumnya dipanggil ‘Ri’ saja, entahlah, saya merasa inkonsisten
(hlm. 112) menganggu-angguk = mengangguk-angguk
(hlm. 154) ?” tanya Riku (kurang tanda baca titik)
(hlm. 156) memafkan = memaafkan
(hlm. 160) ada penyebutan Australia sebagai negara tempat studi Aoi oleh Mira, padahal (seingat saya) tidak ada sama sekali disebut negara tujuan Aoi sebelumnya

Overall saya suka dengan novel ini dan tetap memberikan empat bintang untuknya. Tak lupa, saya akan menunggu novel-novel Hanna berikutnya. Oiya, Hanna ini juga keren deh. Selain menulis, dia juga seorang penyanyi, yang pada Desember 2010 lalu telah menelurkan album Tetap Kupercaya. Oke, tetep produktif ya, Hann!

Selamat membaca, kawan!



2 comments

okeyzz April 18, 2012 at 9:37 PM

Hm, bagus nih kayaknya~ *merasa masih umurnya baca teenlit*

Adit June 14, 2012 at 12:27 AM

Pengen banget sih saya nulis novel
tapi masih cari2 ispirasi deh kayaknya hehehehe
kebetulan saya penulis buku IT dan lagi pengen beralih jadi novelis, tapi ternyata menulis sebuah novel yang bagus jauh lebih susah dibandingkan menulis tutorial hacking .LOL hihihihi salam knal yah,

Post a Comment