[Resensi Novel Teen lit] Nada Cinta Marcella by Ken Terate

Cinta...cinta...cinta...


Judul: Nada Cinta Marcella (buku #4)
Pengarang: Ken Terate
Pewajah sampul: Yustisea Setyalim
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 hlm
Harga: Rp42.000
Rilis: Mei 2012
ISBN:978-979-22-8385-3

Marcella menghabiskan liburan sekolahnya di rumah Oma di Jakarta. Setahun tinggal di Yogyakarta, ternyata ia mulai kikuk dengan suasana ibukota. Bahkan, beberapa kawan karibnya pun mulai menyebutnya...aneh! Jelas, Marcella tak terima. Ia sering dijuluki si cantik, smart, fashionable, tapi....aneh? No way! Terus, kalau Marcella merasa jijik melihat Gresey yang easy aja digrepe-grepe cowoknya, masak itu dibilang aneh? Dia berprinsip! Dia bukan cewek gampangan. Ugh!

Dan, masa liburan pun hampir berakhir ketika Marcella akhirnya kembali ke Yogyakarta, plus setumpuk barang-barang baru yang dibelinya secara kalap berkat 'kartu-ajaib' pemberian Oma. Setelah kembali ke sekolah, dan ber 'Fun Friday' bareng Joy dan Wening, roda kehidupan kembali berputar pada keseharian Marcella. Namun, sepertinya roda hidupnya sedang macet di posisi terbawah. Krisis finansial menerjang keluarganya (jadwal nyalon musti disetop sementara, hufff), karier ke-OSIS-annya di ujung tanduk (PENSI hampir gagal, hikz), dan Devon belum juga menunjukkan tanda-tanda nembak, padahal ia sudah nggak sabar (plus deg-degan, secara Devon itu mantan-inceran-sahabat-dekatnya). Jadi, Marcella musti gimana donk?

Simak saja tingkah polah Cella dan Joy dan Wening dalam buku keempat dalam seri My Friends My Dreams karya Ken Terate ini.


Baiklah, saya tak perlu lagi ya... mengulang alasan mengapa saya SANGAT MENYUKAI karya-karya Ken Terate. Bahkan, untuk seri keempat ini, saya berikan bintang LIMA untuk novel ini. Fiuhhh. Keren deh, buku ini. Ho-ho-ho, tentu saja, penilaian ini sangat subjektif dari saya.

Ketika kali pertama membaca My Friends My Dreams years ago, saya tak pernah membayangkan Ken bakal membuatnya berseri. Oh, don't worry! Buat kamu yang nggak suka novel seri, serial ini tetap dapat dibaca terpisah. Masing-masing bukunya memiliki kisah sendiri yang memang akan lebih nikmat jika dibaca secara keseluruhan.




Nada Cinta Marcella memfokuskan cerita pada tokoh Marcella, yang dari buku-buku terdahulu saya kenal sebagai sosok Miss Popular, Princess of Fairytale, dan memang, orang-orang di sekelilingnya masih menganggapnya begitu. Bahkan, setelah setahun ia bersosialiasi, masih saja banyak yang merasa Cella adalah cewek-impor-Jakarta-yang-sok, padahal Cella sudah berusaha mati-matian untuk bersikap biasa-biasa saja. Oh yeah, dia masih suka nyalon, make barang branded, tapi memangnya itu salah? Asal semua dibiayain pakai duitnya sendiri (at least duit ortu-nya) nggak papa, kan? Tapi, ya begitulah, nasib seorang Marcella.

Ternyata di balik kecantikannya, Cella menyimpan banyak kisah. Yang disadarinya maupun tidak disadarinya. Terutama soal keluarganya dan Devon. Bayangkan saja, Cella yang ketika di Jakarta tinggal hura-hura saja tanpa peduli habis biaya berapa, di Yogya dia harus berpikir beberapa kali dulu hanya untuk beli selembar CosmoGirl terbaru. Sungguh ironi! Lalu, soal Devon. Mengapa tiba-tiba saja cowok itu menjadi demikian 'memikat' di matanya. Terang saja Cella gugup. Dia sudah pernah menolak Devon suatu waktu dulu. Dan, lagi, Devon itu pernah ditaksir setangah mati sama sobat karibnya, Joy. Bagaimana Cella sanggup menahan pesona Devon sekaligus mempertahankan pertemanannya dengan Joy?

Saya cekikikan sendiri ketika membaca keseluruhan buku ini. Alert! Jangan baca buku ini pas kamu jalan, hehehe, jaminan jadi tontonan publik! Sudahlah diksinya yang cerdas nan kocak, saya masih disuguhi adegan-adegan bernuansa putih abu-abu yang ngegemesin. Jadilah satu porsi gado-gado cerita khas remaja yang menyenangkan. Dan, bagi saya, tulisan Ken selalu jauh di atas rata-rata kebanyakan novel teen lit (tentu saja, dibanding novel teen lit yang sudah saya baca, dan saya sudah jarang baca teen lit, hehehe).

Saya suka pilihan konflik yang diberikan pada Cella. Meski sempat juga merasa gemas pada sikapnya yang maju-mundur soal Devon dan menjaga perasaan Joy, padahal dari imej seorang Cella, tak seharusnya ia menjadi peragu seperti itu. Tapiiii... saya bukan ahli psikologi. Pun, saya tak yakin bisa menyelami perasaan seorang Marcella. Ia bisa saja blakblakan tetapi tak menutup kemungkinan ia juga memiliki rahasia yang tak ingin dibaginya dengan orang lain.

Menurut kabar, ini adalah buku penutup dari seri ini. Secara pribadi, saya masih pengin menikmati kisah-kisah ketiga sahabat ini, apalagi mereka baru kelas dua, setidaknya selesaikan kisah mereka sampai lulus, hehehe... #ngarep. Tapi, yah, sebagai buku penutup (jika kabar itu benar), saya puas dengan Nada Cinta Marcella ini. Saya pun happy dengan ending yang diberikan Ken pada ketiga tokoh utama. Apakah semua tokohnya menuju pada kisah happy ending? Hmmm, baca sendiri yaaaa....

Intermezoooo.....laporan typo:
(hlm. 21) tingggi = tinggi
(hlm. 81) tantangannnya = tantangannya
(hlm. 161) dita-mpilkan = janggal pemenggalannya
(hlm. 170) Dan itu buat orangtua murid, bukan? NENEK murid! = Dan itu buat orangtua murid, kan? Bukan NENEK murid!
(hlm. 186) rumahnya oomnya = rumah oomnya
(hlm. 190) nama penyanyi Rossa, kan ya? Bukan Rosa?
(hlm. 205) Meksi = Meski
(hlm. 207) membuatku = membuat gue = konsistensi
(hlm. 219) memenangkan = menenangkan, kali yaaa...
(hlm. 230) bergensi = bergengsi
(hlm. 241) Gue pasti ikut remedial. = Gue pasti ikut remedial."
(hlm. 245) kamu = lo = konsistensi
(hlm. 255) tiba-tba = tiba-tiba
Satu hal yang saya sayangkan adalah penggunaan istilah "autis abis" di halaman 54. Kita sudah memerangi penggunaan istilah ini untuk bahan olok-olokan, kan? Bahkan, pernah sangat gencar di twitter beberapa waktu lalu.
Dan, saya pun punya banyak diksi-diksi favorit yang dipilihkan Ken, berikut di antaranya:
Kencan pertama itu --bila kamu bukan cewek murahan-- hanya terjadi sekali dalam sekian tahun (127)
Suatu saat nanti mereka pasti tahu bahwa gue dan Devon segera melintasi batas "teman" (132)
Seni adalah media paling murah supaya manusia tetap waras, bahkan dalam kondisi kritis (144)
Kesedihan akan berkurang bila dibagi dan kebahagiaan akan bertambah bila dibagi (206)
Dan, kebahagiaan saya kian lengkap nih, ketika di twitter beberapa waktu lalu, Mbak Vera dan Mbak Donna (editor di Gramedia) mengabarkan bahwa selepas Lebaran, novel terbaru Ken akan terbit, berjudul DARK LOVE. Sedikit bocorannya dari percakapan kami di twitter berikut ini. Jadi gak sabar!
@verakresna: @fiksimetropop fans Ken Terate: DARK LOVE, teenlit terbarunya Ken. Bagus bangettttt!!!!!!
@verakresna: ttg cewek kelas 3SMA, pintar, dan... hamil. Trancam g bs ikt UN. Ada unsur p'belajarannya jg. Bagus bgt buat remaja.
@cdonnaw: @fiksimetropop @verakresna Dark Love ya? Novel ini emang keren bgt. Permasalahan berat tp gk menye2.
@cdonnaw: @verakresna ken terate memang asyik. Selalu bisa buat cerita remaja yg asyik, lucu, segar. Konsisten lagi, nggak mandek.
Baiklah, semoga novel ini segera beredar selepas lebaran, jadi saya segera terbius kembali dengan tulisan Ken yang saya suka.

Selamat membaca, kawan!

2 comments

Anonymous August 25, 2012 at 3:54 PM

hmmm.. kayanya mengasyikan ya baca ini novel.. gw baca serial my friends my dreams pas kebetulan gw lagi ada di jogja.. jadi pas kebetulan banget gw bs bener-bener ngebayangin tempatnya gimana suasananya gimana... gimana enggak, gw ps ada di tempat it gitu,,,

and then... gw mandeg baca nya sampe novel yang ke 2 a.k.a marshmallow cokelat...
dan pas baca resensi ini.. gw makin penasaran sama kelanjutan dari serial my friends my dreams ini,,,
benenr-benr pengen baca ><

anw... dark love ini teenlit ya?
for intermezzo... ka Ken Terate bikin novel yang selain teenlit ga?
thanks :)

joel @ bookworm August 29, 2012 at 6:44 PM

Hai kamu yang tak meninggalkan jejak-nama, hehehe...

Terus terang, aku suka gaya menulis dan tema ringan-cenderung-beda-dari=kebanyakan-teenlit lain lah yang membuatku jatuh cinta pada Ken Terate. Apa pun karyanya pasti akan kuburu. Jadi, memang sudah telanjur subjektif sih, hehehe...

Iya, Dark Love ternyata teen lit juga. Aku pernah sih nanya soal apakah Ken bakal nulis novel selain teen lit, tapi lupa, Niken jawabnya apa yaa....hehehe...so far, Ken belum pernah menulis di luar teen lit (setahuku)

Post a Comment