Monday, April 29, 2013

BBI 2nd Giveaway Hop Winner!

Ahhh, saya telat lagi.... #toyorpalasendiri. Harusnya kan ini diumumkan berbarengan dengan temen-temen Blogger Buku Indonesia Sabtu kemarin yaaaa....duhhh, mohon maaf untuk seluruh teman yang sudah ikutan di giveaway kedua dalam rangka ulang tahun BBI tahun ini.

Setelah selesai, saya menyerahkan keputusan pada rafflecofter untuk memilihkan pemenangnya. Dannn....yang terpilih adalah....

Wednesday, April 17, 2013

BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop

Ahhhh, telat kali saya ikut keramaian perayaan 2 tahun eksistensi komunitas keren: Blogger Buku Indonesia (BBI) yang meramaikan dunia perbukuan tanah air. Sudah pasti, di tahun keduanya ini BBI selayaknya anak-anak sudah siap untuk belajar jalan, bahkan mungkin berlari. Jadi, saya berharap ke depan, BBI makin menunjukkan kontribusi positifnya bagi dunia buku Indonesia. Congrats for you, Bebi!

minjem punya Esi: althesia.blogspot.com
Nah, dalam rangka selebrasi 2nd anniversary ini, para member BBI yang mendaftar sebagai host menyelenggarakan giveaway secara serentak yang sebenarnya sudah dimulai sejak Sabtu, 13 April 2013 lalu. Saya pun tak mau ketinggalan keramaian ini, maka dengan ini saya hendak menyelenggarakan giveaway buat kalian yang berminat sama hadiah yang saya sediakan.

Wednesday, April 10, 2013

[Resensi Teenlit] Love Bracelet by Hanna Natasha

Jauhhhhhhhhhhh dari harapan...


Judul: Love Bracelet
Pnegarang: Hanna Natasha
Editor: Desmonia Ningrum
Pewajah sampul: Cecilia Hidayat
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 hlm
Harga: RP35.000
Rilis: April 2013
ISBN: 978-979-22-9447-7

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya.....terserah Anda! 
Well, tagline iklan sebuah produk yang sempat populer beberapa tahun silam itu sepertinya cocok untuk menggambarkan betapa sebuah kesan pertama biasanya cenderung menentukan apa yang akan kita dapatkan selanjutnya. Berkat keikutsertaan saya sebagai salah satu juri seleksi pada Lomba Amore 2012/2013, saya mendapat petuah editing yang keren dari editor yang menjadi mentor saya, "Kalau naskah itu gak bisa bikin kamu betah di 20 halaman pertama, apa yang bisa kamu harapkan untuk membuatmu betah baca sampai akhir?" Yap, setuju. Kalau di bab-bab awal saja kita sudah dilanda bosan setegah sekarat, apakah masih ada harapan di tengah hingga ke akhirnya akan ada keindahan yang bisa direngkuh? Mungkin ada sih, tapi sepertinya probabilitasnya sangat jarang.

Saya begitu terpikat dengan gaya menulis Hanna Natasha ketika selesai membaca Runner-Up Girl, novel teen lit debutan Hanna tahun lalu. Tak tanggung-tanggung, 4 bintang saya sematkan pada novel itu. Dengan kesan pertama yang sedemikian menggoda, tentu saja saya langsung melambungkan harapan bahwa novel kedua Hanna akan bagus banget atau setidaknya setara bagusnya dengan novel pertamanya itu. Yah, kalau nggak bagus dari segi cerita pun, seharusnya masih bisa memukau dari segi tulisan. Hasilnya? NOL BESAR!

Saya sampai mual rasanya membaca novel Love Bracelet ini, *mulai lebay-mulai drama*. Sejak mengintip-baca pertama kali sehabis membeli (untung diskon 30%), saya langsung melotot ternganga. Dan, lalu mencoba melihat kembali ke sampul depannya. Okay, ini serius tulisan Hanna? Hanna Natasha yang saya suka tahun lalu? OH, GOD, beneran ini tulisan dia. Tapi kenapa jadi amburadul begini? Help me, GOD!

Jujur, saya hanya membaca sampai halaman 90-an, itu pun sebagian besar skimming. Lalu langsung meloncat ke bagian akhir menjelang epilog untuk sekadar tahu, apa sih yang sebenarnya diangkat oleh sang pengarang. Wow, keren sebenarnya tema yang diangkat. Semacam Luna-nya Julie Anne Peters. Saya nggak akan spoil di sini, karena menurut saya HANYA itu kekuatan yang dimiliki novel ini. Selebihnya, saya kecewa berat dengan novel ini. Dari segi tulisan, plot, subplot, karakterisasi, setting lokasi dan waktu, sampai dengan konfliknya kacau banget, man! Apa saya lagi-lagi musti maklum kalau ini tuh teen lit yang pangsa pasarnya TEEN di mana kejadian absurd pun bisa terjadi? Ya...kalau begitu saya mau apa? Kalau saya cukup menempatkan diri sebagai pembaca saja boleh, kan? Pembaca yang terpikat di novel sebelumnya sehingga dengan antusias berlebihan membeli novel berikutnya, lalu lemas dan kecewa supermampus ketika membacanya.

Okay, saya tak akan mengupas lebih dalam lagi tentang novel teen lit ini. Karena yang ada nanti cuman sumpah-serapah. Lagipula, saya pun nggak yang dengan mulus membaca kalimat per kalimatnya. Yang terang, mungkin saya harus berpikir puluhan kali dulu untuk membeli karya sang pengarang ini selanjutnya. Atauuuu...seharusnya saya test case dengan membaca sedikit bagian novelnya dulu sebelum membelinya.

My rating: 1 out of 5 star (apresiasi karena telah menulis novel ini).

Tuesday, April 9, 2013

[Resensi Kumcer] Autumn Once More by Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, dkk


Heaven really knows what’s best for us...


Pengarang: Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, Hetih Rusli, Anastasia Aemilia, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Lea Agustina Citra, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan.
Penyunting: Tim Editor GPU
Pewajah sampul: Marcel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 232 hlm
Harga: Rp40.000
Rilis: April 2013
ISBN: 978-979-22-9471-2

Setahu saya, Autumn Once More merupakan kumpulan cerita pendek (kumcer) bergenre metropop pertama yang ditulis secara keroyokan oleh beberapa novelis metropop dan editor GPU. Sedangkan untuk kumcer metropop sendiri sebenarnya sudah ada sejak Jakarta Kafe-nya Tatyana, sampai dengan serial Metropolitan (Nyonya Besar, Tuan Besar, Roman Orang Metropolitan, dsb) karya Threes Emir.

Daya pikat utama yang membuat kumcer ini istimewa tentu saja jajaran para penyumbang tulisannya. Siapa yang tak kenal nama-nama besar semacam Ilana Tan, aliaZalea, atau Ika Natassa? Ketiga penulis tersebut, menurut saya, termasuk novelis metropop terpopuler yang buku-bukunya superlaris bak kacang goreng di pasaran buku Indonesia. Bahkan, menurut mbak Hetih, salah seorang editor GPU, menyebutkan bahwa novelnya Ilana Tan sudah cetak ulang untuk yang ke-26 kali. WOW.