Thursday, September 11, 2014

[Resensi Novel Romance] Before Happiness by Abbas Aditya

Cinta dalam diam, sakitnya tuh di sini.... *nunjuk dada*
Namaku Happy, dan seperti harapan saat orangtuaku memberi nama ini, semestinya aku orang yang selalu bahagia.

Aku mencintai sahabatku melebihi segalanya, termasuk diriku sendiri. Tapi, tak pernah bisa mengungkapkanya. Aku takut persahabatanku lenyap hanya karena satu kata itu; cinta.

Dan, ketika ia memintaku untuk melamarkan kekasihnya yang juga sahabatku, entah kenapa hatiku perih, seperti tertusuk pisau karatan dengan perlahan, lalu menghujam ulu hati yang terdalam.

Langit Jakarta, kota Batu di Malang, dan sungai Chao Phraya Thailand mungkin bisa jadi obat bagi sakit ini.

Dan, aku yakin hanya jarak dan waktu yang akan menyembuhkan. Tapi, haruskah aku melupakan cinta ini?

Judul: Before Happiness
Pengarang: Abbas Aditya
Penyunting: Dedik Priyanto
Pendesain Sampul: Adam S. Muhsinin
Penyelaras Akhir: Dea Anugerah
Penerbit: Moka Media
Tebal: 210 hlm
Harga: Rp39.000
Rilis: 2014
ISBN: 9789797958411

Selain perjodohan, tema sahabat jadi cinta menjadi salah satu tema yang sangat cukup sering saya dapati dalam novel, terutama pada novel romance. Buat saya, dua tema ini menduduki peringkat terendah dalam daftar tema favorit saya. Jika memungkinkan, dan masih ada novel dengan tema lain di luar sana, saya dengan senang hati akan meminggirkan novel-novel dengan dua tema itu dan lebih memilih membaca novel bertema lain itu.

Jujur saja, landasan awal saya langsung mencomot Before Happiness adalah harapan yang cukup tinggi dari pengarangnya. Meski tak mengenalnya secara pribadi, saya tahu Abbas dan ikut bersemangat menunggu novel debutannya. Hmm, sayangnya saya memasang ekspektasi terlalu tinggi sehingga hasilnya agak kurang bagus.

Saya tak bisa banyak bilang soal ceritanya. Well, yeah, saya mencoba mencari sisi-sisi lain dari novel ini untuk tetap dapat terhubung dengan plotnya. Tentu saja, ini bukan salah pengarang atau siapa, permasalahan ada di saya yang memang sudah sulit terhubung dengan temanya. Predictable. Padahal saya bukan orang yang selalu haus kejutan, tapi kejutan tetap kejutan yang mampu memompa adrenalin. Maka ketika cerita mengalir melalui liku-liku yang sudah diketahui, hmm, petualangan rasanya tak lagi menyenangkan.

Jika saya bilang, pilihan ending untuk kisah sahabat jadi cinta ini hanya ada dua: memang menjadi cinta atau memilih tetap bersahabat, mungkin akan ada yang bilang ke saya, semua cerita hanya punya dua cabang akhir. Entahlah, saya tetap merasa, untuk tema lain masih akan ada banyak pilihan akhir yang bisa digunakan. Oke, abaikan saja racauan saya tentang tema ini. Yang akan saya bilang, saya cukup menikmati gaya bercerita Abbas meskipun adegan demi adegan yang saya baca hanya berlalu begitu saja. Pada ujungnya, saya hanya ingin tahu cabang mana yang dipilih Abbas. Tentu saja, tak perlu menunggu sampai akhir untuk memastikannya, Abbas sudah menunjukkan tanda-tandanya. Saya rasa, di sepertiga bagian akhir novel ini.

Sejak awal saya sudah bermasalah dengan proses editing dan proofreading dari novel ini. Saya benci menjadi orang yang terkekang urusan teknis itu ketika menikmati membaca buku, but I can't help it. Sudahlah saya tak terkoneksi dengan temanya, typo-nya parah benar ditambah cukup banyak kalimat tak efektif yang berhamburan. Mendengar cerita bahwa novel ini bahkan melalui proses revisi sampai delapan kali, serius? Tapi masih cukup banyak yang tak tergunting dengan memadai? Saya bukan ahli editing atau proofreading, tapi saya mengharapkan hal yang lebih baik dari ini. Saya bahkan terlalu malas menandai banyak hal yang saya anggap tak benar/janggal. *tarik napas*

Cukup banyak momen canggung yang membuat saya turn off ketika membaca. Drama domestik dengan kehadiran Nara adalah salah satu yang tak saya suka serta napak tilas yang dilakukan Happy begitu mudah ditebak. Sekali lagi, ini soal selera, kok. Yang bisa saya sarankan, khususnya untuk Abbas yang saya tahu sudah membaca begitu banyak buku, suguhkan pada saya (sebagai pembaca) sesuatu yang unik dan berbeda yang mungkin belum dipakai pengarang lain. Oh, ini bukan soal tema, tapi adegan demi adegan, plot, karakter, dan eksekusi cerita yang bisa dimainkannya. Semoga di novel Abbas selanjutnya saya bisa menemukan kekuatan menulisnya.

Satu lagi, seperti banyak yang sudah berkomentar, saya pun tak begitu nyaman dengan Prince-Princess thingy dan chemistry yang kurang meyakinkan dari Happy-Sadha untuk bisa menghanyutkan saya sehingga paham kepahitan macam apa cinta diam-diam yang dimiliki Happy. Untung di sini ada Gerald, meskipun saya akan lebih menyukai Gerald yang bukan dari lingkaran kehidupan Happy. Kayaknya konflik akan menjadi lebih lebar dan kompleks. Subjektif. Hahaha.

Komplain mulu ya, saya? Maafkan, ini memang rasa yang saya dapat ketika menyelesaikan lembar terakhir atau selama proses pembacaan novel Before Happiness ini. Untuk yang menyukai tema friendzone atau sahabat jadi cinta atau ingin menyelami perasaan seseorang yang sedang dalam proses memahami rasa terdalamnya dan hendak menerjemahkannya dalam aksi nyata, silakan untuk membaca novel debutan Abbas Aditya ini.

Selamat membaca, tweemans.

My rating: 1,5 out of 5 star

1 comment:

  1. WOW, ratingnya asli hanya segitu. Wah, ada yang nggak beres nih sama novelnya..

    ReplyDelete