Monday, April 13, 2020

[Resensi Novel Metropop] Ganjil Genap by Almira Bastari

First line:
AKU MEMASUKI mobil sambil tersenyum tipis.
---hlm.7, Prolog: Malam Ganjil

Gimana rasanya diputusin setelah berpacaran selama tiga belas tahun?

Hidup Gala yang mendadak jomblo semakin runyam ketika adiknya kebelet nikah! Gala bertekad pantang lajang menjelang umur kepala tiga. Bersama ketiga sahabatnya, Nandi, Sydney, dan Detira, strategi pencarian jodoh pun disusun. Darat, udara, bahkan laut "disisir" demi menemukan pria idaman.

Akankah Gala berhasil menemukan pasangan untuk menggenapi hari-hari ganjilnya?

Judul: Ganjil Genap
Pengarang: Almira Bastari
Editor: Claudia von Nasution
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 hlm
Rilis: Februari 2020
My rating: 4,5 out of 5 star

Ganjil Genap

Mungkin banyak seniman: penyanyi, bintang film, pelukis, penyair, bahkan penulis/pengarang; yang akan selalu jengkel jika penikmat karya seni mereka selalu mencoba membanding-bandingkan karyanya dengan karya seniman lain, ataupun dengan karya sebelumnya dari seniman yang bersangkutan. Mungkin tak terkecuali si Ratu Cungpret aka Almira Bastari. Hei, ini baru asumsi saya, ya. Bukan berarti benar, hahaha. Makanya saya pakai kata "mungkin".

via GIPHY

Mengingat #novelMetropop debutan Almira yang FENOMENAL mengguncang dunia perbukuan sekitar dua tahun silam, namanya cukup menyita perhatian pembaca Indonesia saat meluncurkan Resign! yang hingga kini (09/04/2020) di web goodreads.com telah dibaca dan diberikan rating oleh sekitar 2.062 pembaca serta ditambahkan ke rak baca oleh sekitar 3.656 pembaca (tentu lebih banyak lagi ditambah dengan pembaca yang tidak memiliki akun goodreads). Maka, ketika diumumkan bahwa Almira akan menerbitkan karyanya selanjutnya, para pembaca yang terkesima oleh Resign! begitu antusias menantikannya. Dan, hal menjengkelkan tadi akan segera datang: novel barunya ini mau tak mau pasti akan dibanding-bandingkan dengan her masterpiece (so far) itu: Resign!

Paling tidak, penikmat karyanya yang akan membanding-bandingkannya itu adalah: saya! *nyengir

via GIPHY

Novel terbarunya bertajuk: Ganjil Genap. Buat pembaca yang berdomisili di Jakarta (dan sekitarnya) atau yang pernah berkunjung atau yang membaca berita tentang Jakarta (karena sebagian besar berita biasanya Jakarta-sentris) pasti tahu sama istilah ganjil-genap ini, kan, yang merupakan kebijakan pengaturan lalu lintas di jalanan protokol Jakarta dalam rangka menekan jumlah kendaraan pribadi yang melintas agar mampu mengurai kemacetan yang telah menjadi masalah terbesar kota Jakarta, selain banjir dan sampah dan polusi.

Yap, Ganjil Genap memang terinspirasi dari sana, dan sebagian besar adegannya tentang itu, meskipun sebagian lain terselip filosofi yang cukup mendalam tentang cerita cinta yang ganjil-genap. Banyak cerita unik tentang novel Ganjil Genap (dan keseharian Almira) yang diungkap dalam obrolan bersama Aditya Hadi dari Podcast BukuKutu di bawah ini, simak deh.



Saya merupakan salah seorang pembaca yang beruntung bisa membaca lebih dulu ketimbang para pembaca lain sebelum Ganjil Genap resmi dirilis, bahkan sebelum masa pre-order dibuka. Yayyy, makasih kirimannya ya Almira dan Kak Odi, sang editor kesayangan. Tak butuh waktu lama sebenarnya untuk merampungkan-baca racikan terbaru Almira ini, hanya saja waktu itu saya kepikiran untuk membuat resensinya dekat-dekat tanggal rilis resminya, biar fair sama pembaca yang lain. Ealah, malah kesela banyak urusan dan baru bisa diresensi sekarang. Hiks, maafkan.

Dan, benar saja. Saya memang si penikmat baca yang menjengkelkan tadi. Selama proses pembacaan, saya kerap membanding-bandingkan Ganjil Genap dengan Resign!. Sedikit banyak, saya memang mengharapkan sentuhan magis Almira yang berhasil membuat Resign! sedemikian luar biasa: ceplas-ceplos, lugas, kocak, komikal, padat-berisi, dan menghanyutkan; kembali hadir di Ganjil Genap. Ehmm... sebagian besar harapan terkabul, cuma karena dari sisi bobot halaman, si Ganjil Genap ini lebih tebal dibanding Resign!, memang menjadikan Ganjil Genap tidak sepadat-berisi Resign!

Oke, enough for the comparison. Memang hanya sampai situ saja perbandingannya, kok. Mari kita nikmati ke'baper'an terbaru dari dongeng kaum urban olahan Almira ini. Sebagaimana dibocorkan dalam blurb-nya yang seuprit itu, Ganjil Genap menyoroti kisah asmara Gala, si tokoh utama perempuan, yang mendadak ganjil setelah selama tiga belas tahun ini genap bersama kekasihnya, Bara. Di tengah runyamnya nasib jomlo dan pusingnya memutar otak mencari jalan keluar melintasi jalanan Jakarta di tanggal ganjil (karena nomor polisi/pelat mobilnya genap), Gala juga terancam dikutuk jadi perawan tua kalau sampai dilangkahi adiknya yang sudah menetapkan tanggal nikahan. Maka, segala daya upaya dikerahkan, demi mencari pasangan sebelum semuanya terlambat.

Ketika sampai di bagian ini, saya keinget film 30 Hari Mencari Cinta karya Upi yang menjadi salah satu film rom-com lokal favorit saya.

Cuma keinget, ya. Maksudnya, pas di situasi jomlo dan mesti cari pasangan itulah, segala reaksi muncul: cengar-cengir, cengengesan, nyumpah-nyumpahin, hingga ngakak-ngakak-nya sama. Gala mencoba semua kemungkinan dari yang konvensional seperti memperluas lingkup pertemanan, gabung komunitas baru, lalu mencicip biro jodoh, speed dating, hingga memasang dating apps: Tinder! Bacalah sendiri untuk mendapatkan sensasi galaunya si Gala demi mencari pasangan ini.

Banyak yang sudah membaca Ganjil Genap merasa relate banget sama ceritanya. Saya pun. Well, curcol dikit, ya. Meski bueeda juuauh, saya bisa lah masuk kategori Om Aiman (salah satu tokoh utama laki-laki), hahaha. Umur saya sudah jauh melewati angka 30 ketika memutuskan mengajak nikah buistri. Saya sendiri menemui beragam dilema selama membujang, ya... yang sering dijadiin jokes dan meme di medsos lah, dan untuk di zaman modern serbadigital sekarang ketambahan lagi anggapan kalau laki-laki belum menikah di usia (ke)matang(an) itu tidak jantan: "Kamu homo, ya?"

via GIPHY

Buistri bernasib sedikit mirip Gala. Adik buistri sudah berpacaran cukup lama dan didesak untuk segera menikah. Desakan itu mau nggak mau mengarah ke buistri juga. Berhubung orang Jawa, ada mitos kalau kakak perempuan dilangkahi adiknya menikah bisa-bisa nanti susah dapat jodoh alias jadi perawan tua. Ya, buistri sih orangnya lumayan santuy, dia nggak begitu peduli kalau akhirnya adiknya menikah duluan, hanya saja buistri lebih peduli sama perasaan orangtuanya (terutama ibunya) yang takut jadi omongan tetangga kanan-kiri. Entah mungkin sudah suratan takdir ya, di saat itulah saya dan buistri dipertemukan. Karena sedang dalam mode cari istri, saya pun segera melancarkan aksi, "Saya sudah cukup banyak punya teman, saya kenalan untuk menjalin hubungan lebih dari teman, kalau kamu bersedia ayo, kalau tidak ya kita cukupkan sampai di perkenalan ini saja." *gayane

Eh, ngomong-ngomong saya tahu juga kok sebelumnya bahwa saat itu buistri pun sebenarnya dalam mode siap berumah tangga. Jadi, ajakan menjalin hubungan itu bukannya tanpa perhitungan. Well, long story short, tiga bulan sejak kenalan kami lamaran, dan tambah dua bulan kemudian kami nikahan. Alhamdulillah. Eh, maaf, kepanjangan curcolnya. Hahaha.

via GIPHY

Oleh karenanya, meski tak sepadat-berisi Resign!, saya sangat menikmati Ganjil Genap. Ya, ada sih adegan-adegan yang bikin saya nganga, "Eh, ini fantastis amat adegannya," kayak nggak mungkin banget, sampai-sampai bawa kerabat kerajaan negeri jiran, tapi yaaa... bolehlah. Saya juga suka banget banyaknya adegan ikonik nan komikal yang dibuat Almira di sini. Kadang ikut geregetan, ikut cekakakan, tapi kadang kepingin noyor kepala Gala juga, sih.

Overall, for me, Ganjil Genap tetap berhasil membuat saya jatuh cinta sekali lagi dengan gaya menulis Almira. Meskipun (as I said earlier) nggak sepadat-berisi Resign!, Ganjil Genap berhasil menyentuh beragam rasa pada tingkatan yang tepat. Memang ada sedikit yang mengganjal hingga saya tak menggenapkan rating ke 5 bintang penuh, tapi Ganjil Genap tetap jadi salah satu buku favorit yang saya baca tahun ini, so far. Bacalah, tweemans.

Topik bahasan:
1. Usaha-usaha move on
2. Drama keluarga
3. Jodoh pasti bertemu
4. Profesi: bankir dan dokter gigi
5. Setting: Jakarta

Selamat membaca, kamu. Sembari baca, nyanyi yuk...




little warning:
Kalau kamu kebetulan mau binge-reading #novelMetropop dan kepikiran mau baca Ganjil Genap dan 90 Hari Mencari Suami-nya Ken Terate, berilah jeda waktu yang lumayan untuk keduanya, ya, karena premis kedua novel ini agak mirip: cewek diburu umur, adik mau nikah, diminta segera nyari pasangan; biar nggak berasa deja vu bacanya.

End line:
Aku menaikturunkan alis sambil tersenyum.
---hlm.342, Epilog

0 komentar:

Post a Comment