Sunday, March 29, 2020

[Resensi Novel Metropop] The Case We Met by Flazia

First line:
[sidang kedelapan, New York Criminal Court; Lantai 13

"Red! Astaga, Nona Harris! Jangan lari-lari begitu! Nanti Anda jatuh!" teriak Hakim Walter yang baru saja hendak memasuki ruang sidang nomor 1301.

---hlm.5, Chapter 1 - Preambule

Sign in as Redita Harris
From : Ratu Maheswari < ratumahestjip@chef.net >
Subject : Re: Re: Baca NY Times

Dita, kamu bahkan masuk berita NY Times karena mendadak ambruk waktu sidang dan orang jadi ngira kamu mau dibunuh sama lawan kamu—you should take a break, for God’s sake! Jadi, kenapa juga tiba-tiba kamu ribet ngurusin kasus malapraktik di sini? Kamu bahkan udah nggak ketemu Natan bertahun-tahun, dan terakhir kali ketemu pun kamu masih gagap-bisu di depan dia! Masih nanya sebaiknya kamu terima jadi pengacara dia atau nggak? Kecuali hati kamu akhirnya berhasil beralih, yang jelas ini bukan keputusan yang bagus, Red.


Sign in as Natanegara Langit
From : Akbar Zaydan < dn.akbr@dr.com >
Subject : Butuh Propofol?

Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed. Kematian pasien kali ini jelas bukan salah kamu, dan rumah sakit lagi sibuk cari jalan keluar, jadi kenapa sekarang kamu malah ke New York? Harus dianestesi biar diem, hah? Persetan sama konferensi di Wyndham. Kami tahu kamu nggak akan lari, jadi ayo cepet balik. Dita datang ke rumah sakit pagi ini, cari kamu.

Judul: The Case We Met
Pengarang: Flazia
Penyunting: Miranda Malonka
Penyelaras aksara: Wienny Siska
Perancang sampul: Fitria N.A (@fitnrdm)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 440 hlm
Rilis: 23 Maret 2020
My rating: 4 out of 5 star

The Case We Met


Thanks to Kak Raya, yang sudah ngasih kejutan manis di hari-hari terakhir jelang kebijakan kantor untuk #WorkFromHome (WFH) dalam rangka #SocialDistancing dan #PhysicalDistancing #DiRumahAja guna memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang makin mengkhawatirkan ini. Setuju juga sama Kak Raya yang sedih harus banyak membatasi aktivitas berkumpul, padahal kalau para pembaca sudah berkumpul dan ngobrolin buku itu seru banget. Namun, demi masa depan yang lebih sehat, kita semua harus mematuhi imbauan, anjuran, bahkan larangan yang ditetapkan pemerintah, ya?


It's definitely a PAGE-TURNER! Saya benar-benar kepincut dari awal baca dan nggak bisa berhenti hingga halaman terakhir. Untunglah, di sela-sela WFH, saya bisa segera menuntaskan-baca novel ini. Melirik kiprahnya, Flazia (Fildzah Izzazi Achmadi) bukan nama baru di industri perbukuan, tapi untuk di lini metropop, sepertinya ini karya debutannya. Dan, buat saya, cukup memesona serta tidak mengecewakan.


Plot: Redita "Dita" Harris, pengacara berhijab (yang karenanya dijuluki Red Riding Hijab) asal Indonesia yang sukses menangani beberapa kasus kontroversial di New York, terutama kasus-kasus antara lansia-pasien melawan dokter yang diduga melakukan tindakan malapraktik. Dalam satu titik, Dita harus kembali ke Indonesia, sekaligus menjadi pengacara untuk Natanegara "Natan" Langit, dokter anestesi yang dituduh melakukan malapraktik hingga menyebabkan meninggalnya pasien yang ditanganinya. Tak hanya harus berjibaku membuktikan bahwa Natan tidak bersalah di persidangan, Dita pun harus menata hatinya demi menemui lelaki yang sudah ditaksirnya habis-habisan sejak lama--sejak SMA, mantan tunangan yang menjadi lawannya di persidangan, hingga ancaman pembunuhan dari salah satu narapidana yang sakit hati karena kalah dan dipenjara berkat Dita.

Saya menyukai latar kesehatan: dokter, rumah sakit, ruang operasi, dan sebagainya; sejak membaca beberapa novel karya Mira W. Juga karena duluuu banget saya pernah bercita-cita menjadi dokter, yang akhirnya nggak kesampaian. Ditambah dengan intrik persidangan yang lumayan, membuat The Case We Met begitu asyik untuk dinikmati. Khusus untuk unsur kesehatannya, cukup mendetail. Bahkan, mungkin, untuk sebagian pembaca akan terkesan terlalu detail.


Buat saya sih, yang memang menggemari novel-novel metropop dengan alasan agar bisa menambah wawasan dunia kerja kaum urban, rupa-rupa dunia kesehatan di novel ini--khususnya spesialis anestesi, sangat menarik karena Flazia berhasil mengemasnya sedemikian rupa hingga tidak seperti sedang membaca jurnal ilmiah. Karena saya tidak bekerja di bidang kesehatan dan sedang tidak berminat fact-check, saya nggak bisa memastikan apakah seluruh fakta kesehatan di novel ini sudah benar. Well, Flazia memang kuliah di kedokteran/farmasi (?) dan berprofesi sebagai dokter (sekaligus script writer?)--profil linkedin: fildzahia, jadi mestinya faktanya dapat dipertanggungjawabkan ya.

Sementara untuk intrik hukum/persidangannya, tentu saja jangan mengharapkan yang sepelik seperti dalam novel-novelnya John Grisham, ya. Agak mendekati kasus yang diselesaikan Elle Woods di film Legally Blonde-nya Reese Witherspoon itu, deh. Ya nggak silly-komedi begitu, cuma agak gampang ditebak ujungnya dan kurang mendebarkan untuk tokoh Natan sebagai terdakwa.


via GIPHY

Untungnya lagi, unsur romance yang dibangun Flazia pun tidak cringe, terhindar dari instalove--cenderung slow burn, dan cukup manis. Cinta lama bersemi kembali, cinta yang ternyata bertepuk sebelah tangan, dan cinta yang salah sasaran. Mungkin novel ini tidak menyimpan plot twist, tapi banyak kejutan kecil yang bikin saya memekik bahagia campur haru di sana-sini. Tak jarang, di banyak bagiannya saya juga tergelak oleh dialog yang kocak dan witty-banter yang oke punya. Well done, Flazia.

Sayangnya, saya tak jadi memberikan 5 bintang utuh ke novel ini, karena seperempat bagian akhirnya. Oke, saya paham harus ada adegan penyerangan itu--sop.iler(spoiler), untuk konsistensi cerita, tapi... entahlah. Agak kurang meyakinkan, nanggung saja jadinya.


via GIPHY

Hal lain yang menurut saya agak menyulitkan novel ini menjangkau pembaca yang lebih luas (semoga saya salah, semoga saya salah, semoga saya salah):
1. gaya penulisan Flazia di novel ini sangat mirip dengan gaya novel terjemahan, yang sayang sekali, beberapa pembaca masih merasa novel terjemahan tak terlalu nyaman dibaca;
2. meskipun tidak jatuh ke gaya dakwah/ceramah sedalam novel-novel religi islam (yes, ayat-ayat cinta, dsb), tapi konten bernuansa islam pada beberapa bagian (terutama menuju ending) cukup kental dengan mengutip serta menginterpretasikan ayat alquran dan hadis.

Overall, for me, The Case We Met adalah novel metropop debutan yang cukup mengejutkan--in a good way. Dengan menyematkan rating 4 bintang, tentu saja, novel ini berhasil memikat saya, mulai dari gaya menulis, latar belakang, plot, dan parade karakter yang kuat. Namun demikian, masih ada beberapa bagian yang agak nanggung.

Topik bahasan:
1. Cinta lama bersemi kembali
2. Menyukai sahabat kakak
3. Office romance
4. Latar: hukum (pengecara) dan kesehatan (dokter)
5. Bad boy became a good guy
6. Drama keluarga
7. Setting: New York dan Yogyakarta

Selamat membaca, kamu.

End line:
Ayo kita pulang sekarang.
---hlm.434, Adendum

Saturday, March 28, 2020

[Curhat] Pindahan... yang bukan fiksimetropop :)

Sudah sejak lama sebenarnya, saya ingin mengkhususkan blog ini buat memuat artikel apa pun yang hanya berkaitan sama #novelMetropop. Hahaha. So far, ya cuman niat. Nggak kejadian dari kapan tahun juga. Well, tapi mulai 2020 ini, saya kepingin menghidupkan kembali niatan itu. Mestinya sih dari awal sudah begitu, ya. Alamat blog sudah fiksimetropop. Buku paling banyak dibaca ya metropop. Niatan bikin blog, juga buat menyebarkan virus baca novel-novel metropop.

Namun, karena dasarnya saya kan bukan melulu baca #novelMetropop doang. Jadi, saya tetap butuh wadah buat menampung segala rupa di luar metropop, ketimbang jadi jerawat, kan? Karenanya untuk seluruh postingan di luar metropop nantinya akan dialihkan ke blog baru, yang sebenarnya sudah dibuat beberapa waktu silam. Alamatnya: http://bukanfiksimetropop.blogspot.com.

Belum (dan sepertinya nggak akan) dibikin blog dengan domain berbayar, sih. Hahaha. Lha, satu aja yang berbayar nggak keurus rutin. Nantilah, kapan-kapan kalau tenaga masih cukup dan nggak sok sibuk, (mungkin) bakal dibeliin domain juga. Untuk saat ini, begini dululah. Yang penting sudah cukup memenuhi niatan yang selama ini selalu pengin dilakuin.

Beberapa konten yang cukup populer mungkin bakal stay di sini, atau dipecah jadi dua. Misalnya, Top Ten Tuesday dan BOOKtainment. Kalau bisa dibikin di dua blog, ya bakal dibikin dua. Kalau nggak bisa, yaudah, bakal tetap dipajang di blog yang ini saja.

That's all. Itu doang yang sebenarnya pengin dicurhatin kali ini. Semoga apa yang saya niatkan ini dilapangkan dan dimudahkan jalannya. Aaamiin. Let's keep reading, tweemans.


via GIPHY
xoxo
fiksimetropop

Monday, July 1, 2019

[BOOKtainment] Trailer resmi Twivortiare, novel-novel Sarah Dessen diFILMkan, mengintip gelaran #BBWBandung2019, dan kabar literasi lainnya

Hari Senin adalah saatnya mewartakan kabar-kabar lain dari dunia literasi, baik dari dalam maupun luar negeri, biar bikin kita enggak lagi bilang, "I hate Monday". Warta perbukuan ini saya rangkum dari pelbagai sumber.


1. Official trailer film adaptasi salah satu #novelMetropop paling laris, Twivortiare karya Ika Natassa, resmi dirilis dan filmnya siap tayang 29 Agustus 2019. Bagaimana menurutmu? Oke, nggak, based on this trailer?



2. Tiga novel Sarah Dessen siap diadaptasi ke layar lebar oleh Netflix: Along for the Ride, This Lullaby, dan Once and For All. Can't wait! Baca berita selengkapnya di http://media.netflix.com/id


3. Mengintip #BBWBandung2019 aka Big Bad Wolf book sale teranyar yang diselenggarakan di Bandung dari postingan video Aya. Waktu dapat bocoran rencana BBW menggelar book sale di beberapa kota selain Jakarta, Surabaya, dan Medan, saya cukup antuasias ketika melihat nama Bandung ada dalam bocoran tersebut serta berdoa semoga bisa mengunjunginya. Hanya saja ketika diumumkan tempat penyelenggaraan ada di Hotel Mason Pine yang lumayan jauh dari kota Bandung-nya sendiri, saya mulai pesimis buat datang. Lalu jadwal ujian kampus dan rencana kondangan ke luar kota di dua weekend penyelenggaraan BBW, membuat saya tak mungkin bisa berhadir ke pameran tersebut. Ditambah lagi kesan-kesan booktuber Indonesia: Aya di video-nya ini makin membuat saya tak merasa FOMO (fear of missing out) meskipun nggak bisa datang ke BBW Bandung. Adios!



4. #novelMetropop anyar, "Gendut? Siapa Takut!" karya Alnira sudah rilis dan beredar. Yuk, dibaca.


add to your goodreads: Gendut? Siapa Takut!

5. Yuk, ikut bantu membuat database #novelMetropop terbitan Gramedia Pustaka Utama sekaligus memilih yang terfavorit menurutmu. Semoga daftar "Novel Metropop Terbaik Sepanjang Masa" ini bisa jadi database pencinta #novelMetropop yang bisa kita akses bersama, buat mastiin novel mana yang sudah kamu punya dan mana yang belum, hehehe. Daftar dulu jadi anggota di www.goodreads.com kalau mau nge-vote, ya.

Wednesday, May 22, 2019

[Resensi Novel Romance] Kenya by Kincirmainan

First line:
GUE MENGISAP SEBATANG MARLBORO MENTOL dengan saksama, menghirup lewat lubang hidung, menahan sebentar di rongga mulut sebelum mengembuskan perlahan.
---hlm.5, Chapter 1 - RESOLUSI

Gue Kenya Barika Bayo, lahir di Kenya, punya adik cowok yang super mega ultra sensitif bernama Afrika.

Seperti cewek lain di muka bumi ini, gue juga bikin resolusi tahun baru yang nggak berguna sebab isinya 85% gagal 10% pasti segera gagal dan 5% belum pasti gimana nasibnya.

Kacau.

Delta, cowok yang gue sayang dari kecil dan mau gue tembak tepat pada malam pergantian tahun, which is bagian dari rencana besar gue tahun ini, justru jadian sama sahabat gue!
Parahnya, malam itu juga gue malah jatuh ke pelukan Data, adiknya Delta!

Oh my God, Kenya, what were you thinking?!

Judul: Kenya
Pengarang: Kincirmainan
Penyunting: Yuke Ratna Permatasari
Penyelaras Akhir: Ani Nuraini Syahara
Ilustrasi sampul: Bella Ansori
Desainer: Dea Elysia Kristianto
Penerbit: Penerbit Bhuana Ilmu Populer
Tebal: 356 hlm
Rilis: Mei 2019
My rating: 3 out of 5 star

Kenya


I'm bored and fell into a reading slump hole too deep when I saw this book on my Gramedia Digital's account. Jujur saja, selain nama "Kincirmainan" yang sudah wara-wiri di linimasa Twitter beberapa waktu ke belekang, kovernya yang kuning gonjreng dengan gambar ilustrasi cewek berambut keriting panjang awut-awutan yang sekilas mengingatkan saya pada karakter Merida di film animasi garapan Pixar-Disney "Brave"-lah yang membuat saya akhirnya mengunduh fail di Gramedia Digital dan langsung membacanya.


via GIPHY

I LOVEEE.... HER WRITING! Itu kesan pertama ketika mengawali membaca novel ini. Lincah, lugas, diksi apik, tatanan bahasa-kalimat yang bagus, kalimat serbaguna, mengalir lancar... pokoknya jenis yang bisa membuat saya betah berlama-lama membaca sebuah buku, makanya saya langsung mengucap syukur karena merasa menemukan "tangga" untuk bisa merangkak keluar dari lubang kemalasan membaca. Sudah lama saya enggak nemu gaya menulis ceplas-ceplos seperti ini, terakhir di Resign-nya Almira Bastari.

Pun, dengan para karakternya. Begitu hidup, begitu berwarna, begitu ekspresif. Mulut seperti enggak ada saringannya. Saya menyukai fakta-fakta yang terselip di sana-sini sebagai latar belakang karakter masing-masing. Favorit saya: Data dan Jamal. Maka, harapan untuk menyukai dan berakhir dengan menyematkan rating 5 bintang di goodreads pada novel ini begitu tinggi.


via GIPHY

Well, ternyata KENYAtaan tidak selalu berbanding lurus dengan harapan, ya. Kayak penginnya ongkang-ongkang kaki doang terus dapet gaji gitu, hehehe. Premis yang cukup kuat berakhir di eksekusi yang kebanyakan drama dan serba kebetulan, *sigh.


via GIPHY

Premis: Kenya adalah sulung dari dua bersaudara, kakak perempuan dari seorang adik laki-laki bernama Afrika. Keduanya bak tertukar jiwa, Kenya justru berkelakuan seperti laki-laki sedangkan Afrika cenderung bersikap seperti perempuan. Kenya punya trauma masa lalu menyangkut hubungan romantis, hingga sangat selektif untuk berani menjalin hubungan dengan komitmen. Terlebih, dia sebenarnya sudah jatuh hati pada sahabat sejak kecilnya, Delta, tapi terpaksa harus menguburnya dalam-dalam karena si sahabat sudah menjalin kasih dengan sahabatnya yang lain, Bella. Karena Kenya memang tentang cinta, secara garis besar novel ini akan melulu membahas perjuangan Kenya mencari cinta sejatinya. Tentu saja dilengkapi dengan BANYAK drama di sekelilingnya, mulai dari hubungan dengan keluarganya (adik dan ibunya---terutama dengan adiknya, yang selalu berantem, kayak anjing-kucing), lingkungan kerjanya, adik-beradik Delta dan Data, Bella, Jody, dan masih banyak lagi.

Sesemangatnya saya melahap kalimat demi kalimat buatan Kincirmainan, ada dua adegan yang membuat saya ingin berhenti baca dan memutuskan DNF saja. Cuman, karena sudah lumayan jauh bacanya, akhirnya saya kuat-kuatkan hingga akhir halaman.


Saya pernah protes pada aliaZalea waktu menulis Miss Pesimis yang lumayan vulgar ataupun Okke "sepatumerah" di Heart Block yang seolah mengampanyekan merokok, well... ternyata dua novel itu nggak ada apa-apanya dibanding Kenya ini. Sering berkata kasar, cek; seks bebas, cek; hubungan sesama jenis, cek; merokok, cek; minum alkohol, cek; jambak-jambakan di area publik, cek; menyumpahin ortu-sodara-temen, cek; hubungan sesama sodara alias incest, cek. Lengkap banget pokoknya. Semakin ke sini, saya sih mulai "terserah lo, deh", sama urusan-urusan seperti ini. Hanya saja, saya tetap akan menginformasikan ke siapa pun yang kebetulan membaca resensi ini, bahwa di dalam novel yang saya baca mengandung hal-hal vulgar atau disturbing, siapa tahu ada yang butuh, kan?


via GIPHY

Pada akhirnya, hanya tiga bintang yang bisa saya sematkan untuk Kenya. Coba saja dramanya enggak begitu banget. Coba saja ada bagian-bagian yang dipotong saja. Coba saja adegan-adegan meet cute-nya enggak dibikin serba kebetulan. Coba saja Kenya nggak pernah jadian sama Delta dan fokus ke Data saja. But, I do really love Kincirmainan's writing. Saya masih mau nyoba baca karyanya yang lain, tentu saja.

Topik bahasan:
1. Sahabat jadi cinta
2. Cinta bersegi banyak
3. Office romance
4. Latar: bidang peternakan (babi), kuliner (chef), pengarang
5. Dosa masa lalu
6. Drama keluarga
7. Setting: Jakarta

Selamat membaca, kamu.

End line:
Data bikin grilled tenderloin yang juicy banget, bikin gue makin cinta sama dia.
---hlm.347, Epilog

Monday, May 13, 2019

[BOOKtainment] To All The Boys I've Loved Before 2 Selesai Syuting, Novel Baru-nya Sarah Dessen dan Marie Lu, Chapter Tambahan untuk If I Stay, dan Bakal Ada Kejutan di Novel Metropop

Hari Senin adalah saatnya mewartakan kabar-kabar lain dari dunia literasi, baik dari dalam maupun luar negeri, biar bikin kita enggak lagi bilang, "I hate Monday". Warta perbukuan ini saya rangkum dari pelbagai sumber.


1. Syuting film lanjutan dari To All The Boys I've Loved Before yang diadaptasi dari novel young adult karangan Jenny Han sudah rampung, diasumsikan dari salah satu tweet yang dikicaukan Noah Centineo beberapa waktu lalu.



Oh, dan buat fans Noah sudah tahu kan kalau dia ini lagi laris manis tanjung kimpul lah, ya, sampai Calvin Klein mendapuknya barengan Shawn Mendes di salah satu pemotretan baru-baru ini. Mungkin bakal jadi "wajah" Calvin Klein, yes?







2. Akan ada novel baru di jajaran Legend Saga karangan Marie Lu! Saya belum baca, sih, tapi sudah ngumpulin, hahaha.



3. Khusus untuk perayaan 10 tahun terbitnya novel If I Stay karangan Gayle Forman, akan ditambahkan bab khusus yang menceritakan soal Kat dan Danny, orangtua Mia Hall yang charming banget itu. Yayyy.... saya suka banget If I Stay.



4. Novel baru Sarah Dessen, The Rest of the Story, sudah siap edar!



5. Melinda Gates, istri miliuner Bill Gates, juga punya buku baru yang siap edar!



6. Siap menonton The Sun Is Also A Star, film adaptasi novel karangan Nicola Yoon?



7. Hmmm, masih nggak jelas sih kejutannya apa, tapi dari tweet Utha terjadilah convo ini, hehehe.


Tuesday, April 30, 2019

[Top Ten Tuesday] Inspirational/Thought-Provoking Book Quotes

Top Ten Tuesday was created by The Broke and the Bookish in June of 2010 and was moved to That Artsy Reader Girl in January of 2018. It was born of a love of lists, a love of books, and a desire to bring bookish friends together. The Artsy Reader Girl original title for April 30: Inspirational/Thought-Provoking Book Quotes.


For me, diction is the most important part of the book. I'll stop reading or throw away--literally--a book if its diction doesn't meet my expectation. So, yeah, I'll always love an inspirational/thought-provoking book quotes, so here they are:

1. Resign! by Almira Bastari



2. Harry Potter and The Prisoner of Azkaban by J.K. Rowling



3. Wolf Brother by Michelle Paver



4. The Hate U Give by Angie Thomas



5. The Hate U Give by Angie Thomas



6. Goodbye Things by Fumio Sasaki



7. Antologi Rasa by Ika Natassa



8. What I Know for Sure by Oprah Winfrey



9. London: Angel by Windry Ramadhina



10. Twilight by Stephenie Meyer



Monday, April 29, 2019

[Resensi Novel Romance] Asa Ayuni by Dyah Rinni: sejumput cinta penuh drama

First line:
Ayuni Safira bangun pada jam empat pagi dengan dua prioritas utama: reuni nanti siang dan bagaimana membuat Poppy, teman sekaligus musuh yang pasti datang,
mengagumi rumah dan kue buatannya.

---hlm.1, Bab 1 - Reuni

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Di salah satu bloknya, ada sebuah rumah, yang kalau kau masuk ke dalamnya akan merasakan nuansa paduan klasik dan modern. Desainnya tampak chic, dan bantal pink elektrik di atas sofa cokelat akan membuatmu betah di sana.

Seorang perempuan yang pandai membuat kue tradisional akan menjadi teman mengobrolmu. Dia punya toko kue tak jauh dari rumahnya. Dia sedang berduka, baru saja kehilangan suaminya. Ada getir terpancar dari matanya. Namun, dia amat terlihat berusaha tegar. Perempuan itu Ayuni. Perempuan manja yang sedang berpura-pura tangguh demi memupuk asanya yang baru saja hancur.

Judul: Asa Ayuni
Pengarang: Dyah Rinni
Penyunting: Jia Effendie
Penerbit: Falcon Publishing
Tebal: 236 hlm
Rilis: Desember 2016
My rating: 3 out of 5 star

Sejujurnya, saya sudah kepingin baca Asa Ayuni sejak bundel seri Blue Valley dirilis oleh penerbit Falcon Publishing pada Desember 2016/Januari 2017 silam. Namun, karena satu dan lain hal, keinginan itu tertunda terus dan terus, hingga hampir saja ikhlas untuk merelakan tak membaca Asa Ayuni. Barulah awal Maret 2019 lalu, ketika gelaran Big Bad Wolf kembali menyambangi Jakarta, emmm... BSD lebih tepatnya, keinginan itu muncul lagi demi melihat Asa Ayuni ada di tumpukan buku obral bagian novel Indonesia, hanya dibanderol Rp15.500 dari harga resminya Rp72.000. Oke, nggak perlu mikir lagi: COMOT!

gambar dari sini: falconpublishing.co.id

Well, tapi dibacanya pun enggak langsung, hehehe. Baru kelar kemarin (27/04) sejak dimulai hari Kamis (25/04). Saya suka cara menulis Dyah Rinni, ittulah mengapa dari lima buku di seri Blue Valley, saya paling-paling kepinginan dibaca ya Asa Ayuni. Dari Marginalia, lalu lanjut Beautiful Liar, dan Mermaid Fountain, saya terpuaskan oleh diksi Dyah yang sederhana, tapi tak biasa dan penuh makna. Maksudnya, tiap kata pembentuk kalimat rekaannya ditulis dengan niat dan tujuan, sehingga sayang untuk di-skimming dan maunya dirunut satu per satu.

Begitupun dengan departemen karakterisasinya. Saya menyukai tokoh-tokoh yang dihidupkan Dyah di ketiga bukunya yang sudah saya baca sebelum Asa Ayuni, terutama di Marginalia. Well, so far sih, Marginalia is my most favorite dari karya-karya Dyah.

Sayang sekali, kedua kesukaan saya itu, kali ini kurang berhasil di Asa Ayuni. Saya tak bilang gaya menulis Dyah berubah, hanya saja diksinya yang sudah baik, kurang bisa diimbangi dengan pace serta jalinan adegan pembentuk ceritanya. Entah bagaimana, saya merasa banyak bagian yang tidak tertambal dengan sempurna, berasa lompat-lompat. Don't get me wrong, pace ceritanya terbilang cepat, konflik dan subkonflik tersusun bertumpukan dan berkejaran satu demi satu, tapi justru bikin saya frustrasi. Ini kisah cinta kecil yang penuh drama.

Dalam halaman ucapan terima kasih, Dyah menulis:
Barangkali kedengarannya klise, tetapi bagi saya, Asa Ayuni adalah tantangan terberat di dalam karier menulis saya.... dst... dst...
...setelah dua setengah bulan menulis, lebih dari 60.000 kata yang diketik dan separuh naskah yang dibabat habis, novel ini bisa hadir... dst... dst...
Saya tak bisa memastikan, tentu saja, cuman saya jadi berasumsi mungkin awalnya tulisan cukup berkesinambungan, tapi dengan beragam pertimbangan, harus dipotong di sana-sini.

FYI, Asa Ayuni menyajikan tokoh utama Ayuni Safira dan Elang Tejawijaya, yang awalnya selayaknya kutub utara-selatan yang tak mungkin bisa berkaitan, hingga karena suatu sebab mereka akhirnya dipertemukan. Naskah diceritakan menggunakan PoV orang ketiga dengan angle kamera pada satu-beberapa bab difokuskan pada Ayuni dan terkadang difokuskan pada Elang, hingga pembaca diberikan gambaran secara gamblang pada karakter masing-masing, termasuk subplot-subkonflik yang dimiliki oleh kedua tokoh.

Di situlah, saya gagal dipuaskan. Drama-drama yang mengejar Ayuni dan Elang terlampau dramatis, tapi kurang digali. Beberapa karakter juga tampil serba hitam-putih, misalnya Poppy. Menurut saya, people change, dan kalaupun tak berubah sesuai harapan kita, tetap saja tak sama dengan mereka di masa lalu. Dan, saya tak diberikan penjelasan yang cukup mengapa Poppy begitu memusuhi Ayuni dan mengapa Ayuni begitu ingin mengalahkan Poppy. Hal serupa terjadi pada saat Ayuni menghadapi Laras. Sikap frontal Ayuni agak kurang pas saja. Apa sih yang pernah dialami Ayuni dulu sehingga kadang dia bisa menjadi teman yang menyenangkan, tapi kadang juga gampang emosian dan cenderung suka main kekerasan? Bagi saya, tak cukup alasan untuk membentuk pribadinya.

Asa Ayuni juga menghadirkan banyak sekali kebetulan yang janggal. Ayuni anak tunggal? Elang anak tunggal? Satria anak tunggal? Ayuni dan Satria juga hanya punya anak tunggal? Zetro anak tunggal?


via GIPHY

Bukan bermaksud spoiler, tapi Elang ini sudah merintis sebagai manajer berpengalaman hingga ke Australia, mestinya sudah punya banyak relasi di bidang yang digelutinya kan, ya? Dan, Gulaloka milik Ayuni ini "hanya" sebuah toko kue yang tidak digambarkan super terkenal, dari lowongan kerja manakah Elang mendapatkannya? Oke, di halaman 100, disebutkan: Elang menekan logo browser di ponselnya dan mulai mencari lowongan pekerjaan. Lalu di halaman selanjutnya, Elang sudah datang ke Gulaloka untuk menjalani sesi wawancara kerja tanpa diberikan penjelasan yang cukup, kenapa dia memilih melamar kerja ke Gulaloka. Hmmm.


via GIPHY

Akhirnya saya melanggar janji sendiri, banyak bagian yang saya skip, karena tak sabar menunju akhir cerita. Dan, ya, ujung konlik berbeda dari tebakan saya dan cukup masuk akal sebagai pengakhiran beragam drama yang melanda Ayuni. Tak begitu memuaskan, tapi oke-lah.

Topik bahasan:
1. Office-romance
2. Cinta segitiga
3. Tema: kuliner - pastry
4. Single parent
5. Anak berkebutuhan khusus; Asperger Syndrome
6. Setting lokasi: Jakarta - Sydney
7. Drama keluarga; parenthood

End line:
"Namun, kelak, jika saatnya tiba, Elang berharap, sungguh-sungguh berharap, Ayuni membukakan pintu hati hanya untuknya.
---hlm.232, Bab 24 - Asa

Tuesday, April 23, 2019

[Top Ten Tuesday] Sepuluh buku pertama yang saya resensi adalah...

Top Ten Tuesday was created by The Broke and the Bookish in June of 2010 and was moved to That Artsy Reader Girl in January of 2018. It was born of a love of lists, a love of books, and a desire to bring bookish friends together. The Artsy Reader Girl original title for April 23: (First Ten) Books I Reviewed ((These do not have to be formal reviews. A small sentence on a retailer site or Goodreads counts, too! Submitted by Rissi @ Finding Wonderland)).


At first glance, I'll ask www.goodreads.com for help, but then I realized that my first review didn't appear on that platform yet. So I went to my first ten books I reviewed on this blog, and here they are:


FYI: The biggest picture on the collage is my most favorite among others.

And, if you wanna know how bad I am as a reviewer back to 2008-2009 ago, here they are:
1. Topsy-Turvy Lady by Tria Barmawi
2. L by Kristy Nelwan
3. M2L: Men 2 Love by Andrei Aksana
4. Winter in Tokyo by Ilana Tan
5. Soulmate.com by Jessica Huwae
6. She'll Take It by Mary Carter, it became the first English-translated into bahasa Indonesia book that I reviewed.
7. Bidadari-Bidadari Surga by Tere Liye, I think it became my last book by Tere Liye that I've read and reviewed.
8. Perempuan Lain by Kristy Nelwan
9. Pink Project by Retni SB
10. Deviasi by Mira W

Tuesday, April 9, 2019

[Top Ten Tuesday] Enam hal absurd tentang buku yang saya lakukan...

Top Ten Tuesday was created by The Broke and the Bookish in June of 2010 and was moved to That Artsy Reader Girl in January of 2018. It was born of a love of lists, a love of books, and a desire to bring bookish friends together. The Artsy Reader Girl original title for April 9: Outrageous/Crazy/Uncharacteristic Things I’ve Done for the Love of Books (i.e. skipped meals, camped outside a bookstore, broke up with someone because they don’t like to read, traveled long distances to bookish events, etc. – submitted by Aggie’s Amygdala).


As a reader, and also a book hoarder, sometimes I do crazy things... well, not everything I've done could be categorized as love for books. I just think what I've done are crazy about book only because it's beyond crazy such as:

1. Banned some Authors because of their behavior. I know you'll say:
Hey, you need to distinguish personal things from their works.
But, again, I'm only human who have a heart, a sensitive one. So if an author does disgusting things (i.e. attacking reviewer, lying, plagiarizing, doing bad political campaign, etc), it breaks my heart and makes me not wanting to read their writing. Frankly, I have several name on my black list but on the top of my list right now is: Hanum Salsabiela Rais. There, I said her name. Gosh!


via GIPHY

2. Traveled long distances to buy a book. I went abroad several times only to buy books at Big Bad Wolf book sale events in Kuala Lumpur and at a bookstore at Bras Basah Complex Singapore.

3. Sat down and queued for about four or five hours only to get a free copy of The Silkworm (Cormoran Strikes #2, Indonesian edition) by J.K. Rowling, and the book is left unread till now. HAHAHAHAHA.


via GIPHY

4. Midnight shopping at Big Bad Wolf events (ICE BSD Serpong and Jatim Expo Surabaya).


via GIPHY

5. Shop hopping around Jabodetabek-Bandung. I remembered that around 2013 or 2014, it's unusual to find "Obralan Gramedia" or big discounted books which is hosted by one of the biggest bookstore chains in Jakarta, let alone in Indonesia, so I did shop hopping from Bintaro to Bekasi, Bandung to Pluit, West to East, South to North, to get find a surprise-discounted-book at one of those book sales.

6. Reading everywhere, anywhere, and anytime. I read while I'm jogging, I read while I'm on motorbike, anything.


via GIPHY

7. Okay, I can only think 6 of outrageous things that I've done for the love of books. I'll add another if I can recall another outrageous slash crazy slash stupid things that I've ever done.

What yours?

Monday, April 8, 2019

[BOOKtainment] Jordan Fisher ganti memerankan John Ambrose McClaren, Twivortiare selesai syuting, dan warta perbukuan lainnya

Hari Senin adalah saatnya mewartakan kabar-kabar lain dari dunia literasi, baik dari dalam maupun luar negeri, biar bikin kita enggak lagi bilang, "I hate Monday". Warta perbukuan ini saya rangkum dari pelbagai sumber.


1. Jordan Fisher didapuk memerankan John Ambrose McClaren di sekuel film To All The Boys I've Loved Before: P.S. I Love You. As predicted, pro dan kontra langsung memenuhi kolom komentar warganet karena re-cast untuk tokoh ini, mengingat di ujung film pertama, John Ambrose sudah menampakkan wujud melalui peran Jordan Burtchett (dan banyak yang terpuaskan), eh tetiba malah diganti dan menurut yang sudah baca bukunya (termasuk saya), Jordan Fisher memang cukup jauh dari deskripsi Jenny Han. Kayaknya pembuat filmnya lebih mementingkan soal diversity dan fans Jordan Fisher yang lebih banyak dibanding Jordan Burtchett. Well, sebagai penggemar trilogi ini saya sih no comment dan lebih nunggu rilis filmnya saja.


Oh iya, yang penting juga, cast untuk Stormy juga sudah diumumkan: Holland Taylor. Wah, saya suka banget sama beliau, pas jadi profesor di film Legally Blonde. Yes!



2. Twivortiare sudah masuk tahap editing (kayaknya). Well, another Ika Natassa's book yang diadaptasi ke layar perak, "Twivortiare" sepertinya sudah masuk tahap editing. Di post terbarunya, Ika Natassa bercerita tentang private screening materi kasar dari filmnya. Kamu termasuk tim yang nggak sabar juga nunggu filmnya, apa nggak?



3. Indeks berita pilihan SENI DAN BUDAYA kategori buku dari cnnindonesia.com
Bakar Buku Harry Potter, Paroki Katolik Polandia Tuai Hujatan
Buku Sekuel "Bird Box" Tengah Digarap
Alicia Keys Gandeng Oprah Rilis Buku Memoar
"Karma", Tema Ubud Writers Readers Festival Tahun Ini
DC Comics Batalkan Komik Soal Yesus Kembali ke Bumi

Tuesday, April 2, 2019

[Top Ten Tuesday] Sepuluh alasan saya membeli buku...

Top Ten Tuesday was created by The Broke and the Bookish in June of 2010 and was moved to That Artsy Reader Girl in January of 2018. It was born of a love of lists, a love of books, and a desire to bring bookish friends together. The Artsy Reader Girl original title for April 2: Things That Make Me Pick Up a Book.


Well, as a book hoarder, do we really need a reason to hoard books? Hahaha, #juskidding. I mean, in many situations I feel like buying a book is just like buying anything just because of "need" or "want".

Anyway, if you still wanna know, what things that make me pick up a book, here are those things:
1. The Author.
Well, I am categorizing myself as a loyal reader. So, if I am already be a fans of an author, I'll buy and read anything form him/her. Check out my Top Ten Auto-Buy Author here.



2. The Writing Style.
...especially, the author's diction or the choice and use of words and phrases in speech or writing. No matter how popular or important story it is, if the writing style is "meh" for me, I'll skip it. Example: 5cm by Donny Dhirgantoro or Dilan by Pidi Baiq or Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya.

3. The Cover.
No caption needed, hahaha. I prefer book cover with real photograph (of humans) than with illustration. Like this one:


4. The Price.
I won't think twice while the price is damn cheap! Hell, yeah.


via GIPHY

5. The Hype.
I'm sucker for hype-books or chart-topper books or the most trending-books. My opinion: if most people like it, then I must like it too.

6. The Reviews.
...from my trusted source, off course, such as my readers' community friends: Goodreads Indonesia or Blogger Buku Indonesia, or from my fave Blogger or Booktuber such as Ginger from greadsbooks.com or Gabby from gabbyreads. I don't care with "Starred Review" thingy or a testimonial from a celebrity or another well-known authors or sponsored reviews. I think they are "fake" comments.

7. The Adaptation.
It only occurs one or two times a year for me. When I fell in love with the movie or TV adaptation, I'll try to read the book. Example: The Devil Wears Prada by Lauren Weisberger or Lord of the Rings by J.R.R. Tolkien or Pretty Little Liars by Sara Sheppard.



8. The Genre.
I'll buy (and read, maybe) anything for "Novel Metropop". OBVIOUSLY. But, only the originally novel metropop by Gramedia Pustaka Utama.

9. The Tittle.
If I have no other solid reasons, I'll pick a book just because of its tittle. Example: The Marriage Bureau for Rich People by Farahad Zama or Good Muslim Boy by Osamah Sami or The Dusty Sneakers by Teddy W. Kusuma & Maesy Ang.

10. The Color.
This is the least reason for hoarding books. I'm not good at color-matching, even I considered myself as color-blind person so I really don't care of rainbow shelf thingy.

Those are my top ten of things that make me pick up a book. Kalau kamu?

Monday, March 25, 2019

[Curhat] Kalau lagi bosan baca saya biasanya...

Well, namanya juga manusia. Punya selera, punya momen dilanda kebosanan, punya waktu-waktu tertentu tak bisa hanya melakukan sau hal terus-terusan secara konsisten sepanjang waktu. Oke, katanya sih bisa saja kalau: disiplin dan memang dilatih. Ya tapi, kayaknya sih tetap ada waktunya, kita kepingin cuman bisa duduk selonjoran atau rebahan, tanpa melakukan apa-apa, kan?



Begitupun sama melakukan hobi. Hei, hobi kok bisa bikin bosan? Ya itu tadi, kalau dilakuin sepanjang waktu dengan gaya dan keteraturan monoton, lama-lama ya membosankan juga. Termasuk hobi membaca. Reader's block atau reading slump atau lagi malaaaassszzzzzzzz baca banget, bisa saja kejadian. Nah, kalau lagi bosan baca saya biasanya...

1. Dengerin musik favorit, musik terbaru dari artis favorit, musik terbaru dari negara entah mana, musik terbaru yang lagi nangkring di Billboard top chart atau iTunes top chart, atau musik terbaru yang lagi trending di YouTube.

2. Nontonin video-video di YouTube dari musik-musik di nomor 1. Ini beberapa yang saya suka banget:








3. Nontonin vlog dari Booktuber favorit. Ini beberapa vlog yang barusan saya tontonin:





4. Nontonin film yang ada di YouTube atau di laptop. Terakhir nonton film: The Intern untuk keseratus alinya (lebay), Harry Potter seri mana pun (terutama seri ketiga) untuk kesejuta kalinya (lebay juga), dan The Devil Wears Prada untuk keseratus juta kalinya (tambah lebay).

5. Nontonin serial TV favorit yang sudah dipunya: Younger dari season 1, The Good Fight, The Good Wife, Brothers and Sisters, dan Ugly Betty.

6. Jalan-jalan atau sekadar main sama keluarga.

Jadi, kalau lagi bosan baca kamu biasanya ngapain?